Calon Presiden dan Apel Busuk

Sok ngerti politik


Satu hal yang paling membosankan akhir-akhir ini ketika membuka halaman timeline Facebook adalah artikel-artikel yang di-share oleh teman-teman di Facebook yang hampir semua adalah tentang kebaikan dan keburukan masing-masing calon presiden. Sedihnya, artikel yang di-share banyak yang berasal dari sumber yang kemungkinan besar tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ya, memang tidak semua orang bisa membedakan di internet mana sumber yang (setidaknya lebih) bisa dipercaya dan mana yang tidak.

Contoh link yang dishare di timeline Facebook. Perhatikan domain asal artikel yang di kanan jelas media bikinan simpatisan capres nomor urut 1. Yang kiri pakai sub-dmain gratisan dari Blogger yang bisa dibuat oleh siapa saja.

Tapi untungnya kita hanya punya dua calon presiden, bayangkan kita punya 5, bagaimana sembrawutnya informasi yang tampil di timeline Facebook.


Oke, lupakan tentang timeline Facebook. Saya akan coba gambarkan keberpihakan saya untuk pemilihan presiden kali ini, walaupun belum pasti bisa ikutan nyoblos tanggal 9 Juli nanti.

Sebenarnya tidaklah sulit untuk menentukan pilihan siapa yang seharusnya didukung pada pilpres bulan depan, bahkan untuk orang-orang yang tidak mengerti politik sama sekali seperti saya, dan tanpa harus mencoba mengungkap fakta-fakta masa lalu. Yang sulit itu adalah meyakinkan orang-orang yang belum yakin dengan pilihan yang seharusnya mereka pilih. Kenapa harus berusaha meyakinkan orang lain? Karena mereka adalah bagian dari suara-suara yang akan menentukan nasib bangsa ini puluhan tahun ke depan. Ya, puluhan tahun, karena setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh pemimpin terpilih untuk 5 tahun ke depan akan berdampak pada bangsa ini puluhan tahun yang akan datang.

Kalau ditanya akan memilih pasangan calon presiden yang mana, jawaban saya jelas pilih kubu Jokowi-JK. Alasannya sederhana, bukan karena saya yakin Jokowi-JK adalah pasangan sempurna untuk jabatan presiden dan wakil presiden, tapi lebih kepada kompetitornya yang jauh dari layak sebagai pemimpin negeri ini. Anggaplah Jokowi punya tingkat kelayakan 0% untuk seorang presiden, anggap dia bukan siapa-siapa sebelumnya, bukan mantan walikota, bukan mantan gubernur, bukan dicalonkan oleh Megawati dan lain sebagainya. Dengan anggapan ini, saya tetap akan berpihak ke kubu Jokowi karena tingkat kelayakan kompetitor Jokowi menurut saya adalah -3%.

Abaikan perhitungan angka 0 dan 3. Yang jadi titik perhatian di sini adalah plus dan minus, positif dan negatif, well, bukan negatif, tapi tidak positif.

Mungkin bagi sebagian orang gambaran berupa angka, apalagi dengan embel-embel tanda persen (%) tidak menarik. Saya kasih perumpamaan yang lebih merakyat. Misalnya, si Budi kecil lagi kepengen makan buah, anggaplah buah apel. Budi menuju meja makan dan mendapati buah apel tinggal 2 biji di keranjang buah. Ukurannya sama, warnanya sama dan rasanya pun seharusnya tidak akan berbeda. Tapi ketika si Budi mencermati, di salah satu sisi buah apel nomor 1 ada sedikit lebam, kecil sih, dan kalau pun bagian yang lebam itu dipotong pakai pisau, si Budi kecil tidak akan merasa rugi membuang bagian yang lebam itu. Tapi apa yang terjadi, buah yang dipilih oleh Budi tentunya yang lebih baik, yang tidak ada lebamnya. Walau pun si Budi tidak pernah tau dan nggak mau tau lebam di buah apel itu disebabkan oleh apa, apakah karena busuk dari dalam, ada ulat mungkin, atau apel yang nomor 1 itu lebam karena terbentur apel lain ketika diletakkan ke keranjang buah? Budi doesn’t care.

Selama masih ada “buah apel” yang lebih segar kenapa harus memilih yang rusak?

Begitu juga memilih pemimpin, di kubu kompetitor Jokowi, menurut saya, terdapat orang-orang bermasalah. Tidak hanya orang nomor satunya, orang nomor dua, dan bahkan orang nomor tiganya adalah orang-orang bermasalah. Orang nomor satu, terlibat masalah yang katanya pelanggaran HAM. Orang nomor dua, berbicara tentang kesetaraan hukum di Indonesia, sementara kenyatanyaanya terlihat jelas bagaimana penyelesaian masalah hukum yang menjerat anaknya. Belakangan orang nomor dua ini melakukan pembelaan bahwa anaknya telah menerima hukuman yang setimpal atas kelalainnya yang telah menghilangkan nyawa beberapa orang, hukuman yang diterima anaknya adalah berupa keterlambatan menyelesaikan kuliahnya di luar negeri selama setahun, sigh. Orang nomor tiga, alias bakal calon perdana mentri alias prime minister alias mentri utama(?), punya masalah dari Sidoarjo hingga Maldives.

Terlepas dari orang-orang yang ada di kubu kompotitor Jokowi benar-benar bersalah atas tuduhan-tuduhan yang diarahkan pada mereka, kenapa kita harus mengarahkan pilihan ke orang-orang bermasalah?