Aku Akan Terkikik

Waktu mereka tahu aku bunting dan akhirnya melahirkan diam-diam, tidak ada yang ribut-ribut tentang hal ini. Tidak seperti waktu Neni ketahuan bunting tiga bulan. Ibu dan bapak histeris, sampai Neni ditampar-tampar hingga lebam sekujur badan. Kasihan perut yang membulat itu. Lupa mungkin, di dalamnya ada cucu mereka yang lagi meringkuk bisu. Mungkin ikut merasakan getaran pedih merambat dari ibunya, ke tali pusar, kemudian ke jiwanya yang belum genap.

Waktu aku bunting dulu, ibu dan bapak cuma berdecak heran. Mereka larang aku keluar rumah selama beberapa pekan. Mungkin bukan lantaran malu aku terlihat tetangga, tapi mungkin takut aku keluar dan main gila dengan laki-laki lainnya. “Sekali lacur, bakal terus lacur,” aku dengar ibu berkata. “Birahinya memang besar sekali kemarin-kemarin itu. Aku pernah melihat dia menggesek-gesek gatal. Jangan sampai kita kecolongan lagi.”

Itu sebelum mereka tahu Neni bunting.

Sebenarnya aku tidak kaget. Si Neni itu sudah aktif menggatal dari zaman SMP. Itu kira-kira semenjak dia sadar kalau ada sepasang kuncup di dadanya. Ketika dia tahu bahwa Andika bisa bisa membuat kuncupnya mekar, saat itu pula ia memutuskan memetik bunganya untuk Andika seorang, cinta monyetnya — yang ternyata benar-benar monyet karena menerima bunga, pelepah, bahkan batang dari beberapa orang.

Iya, aku tahu semua ini dengan sangat jelas. Neni si putri kesayangan tidak menutup-nutupi apapun dariku. Dia tidak segan mengusirku pergi saat aku sedang tidur di ranjang ibu bapak untuk dipakai berkawin dengan pacarnya. Tidak pula mereka menungguku berlalu untuk saling melucuti dan melompat ke atas satu sama lain. Seperti ikan lele yang dibeli ibu, ditaruh sesak dalam sekantong kresek. Bergumul, megap-megap, licin, dan basah.

Malas juga aku melihatnya.

Sebenarnya ibu dan bapak orang-orang yang baik. Mungkin mereka tidak memperlakukan aku dengan manusiawi. Tetapi tidak apa-apa. Aku menerima tanpa sakit hati apapun, selama kebutuhanku dicukupi.

Cuma, si Neni ini benar-benar menjengkelkan. Anaknya liar sekali entah ajaran siapa yang melunturkan kebaikan dalam dirinya. Mungkin sebab terlalu dimanja, diberikan apa-apa dengan berlebihan. Aku tidak terlalu peduli dengan Neni, tapi kelihatannya semakin kau tidak suka seseorang, semakin sering kaubilang tidak peduli, dan semakin peduli pula kau padanya.

Melihat Neni dalam pose-pose beringas — kadang bersama seseorang, kadang pula bergulat sendiri pakai guling atau jemari — lama-lama memupuk rasa benciku padanya. Orang itu tidak ada hormat padaku, tidak ada segan pada rumah keluarga ini, pun tidak ada sungkan pada orang tuanya yang selalu percaya Neni anak yang baik-baik saja.

Kebencianku terus merangkak naik lebih-lebih setelah bayi kecilku mati saat si slebor itu menggilasnya dengan mobil. Melumat tulang-tulang kecilnya yang ringkih dan sepasang kuping lembut bagai beledu. Tidak ada yang lebih meremukkan hati melihat wujudnya yang serupa kornet di atas mie rebus saat mereka menyeroknya dari garasi.

Sebenarnya sakit hatiku mulai bertumpuk waktu ibu mengataiku lacur. Maka waktu Neni ketangkap basah bunting tiga bulan, aku terkikik-kikik gembira. Meski pernah dipukuli, sepertinya jabang bayi itu tumbuh makin bulat dan besar. Tidak apa-apa, syukur malahan. Aku sudah asah kuku di punggung sofa sampai ibu marah-marah, mengurungku di kandang, dan mengurangi jatah ikanku. Aku sudah tidak sabar lagi. Memikirkan saat itu membuatku terkikik mendengkur-dengkur.

Pokoknya nanti, bayi si Neni bakal sengsara di ujung cakarku.