Terlalu sering patah hati membuatku tidak jarang berlaku seakan tak punya hati.
Oleh orang yang sama, berkali-kali.
Bodoh? Memang.
Satu waktu, pernah ada lelaki yang terang-terangan memintaku menjadi tambatan hatinya — duh, mengingatnya saja sudah membuatku geli, sungguh. Padahal, aku sedari awal sudah menyatakan bahwa dirinya tak berminat menjadi kekasih siapapun. Terpaksa, aku menolaknya dengan cara sehalus mungkin yang tetap saja menorehkan luka — bukan pada diriku, melainkan lelaki itu. Dan akibatnya, aku kehilangan teman, dan aku sangat menyayangkannya.
Tak jarang, lamunan di sela pekerjaan (seperti yang sekarang kulakukan, menulis deretan kalimat konyol ketika seharusnya aku memeriksa laporan audit) membuatku melihat ke masa lalu dan menemukan diriku yang dulu — aku yang masih remaja dan lugu dalam menerima harapan-harapan yang seseorang janjikan. Aku mendengar, “dia” mengucapkan nama kekasihnya selembut perasaan.
Andai bisa aku katakan pada diri Seohyang beberapa tahun lalu: jangan gila.
Kepada Han Seohyang di usia dua puluh tahun, sehabis itu kau akan tahu kenapa cinta tak seharusnya kaujatuhkan terlalu dalam. Kau naif dan buta. Perasaanmu terlalu lemah menghadapi dunia. Bahkan kata-kata yang kekasihmu ucapkan itu suatu hari akan teringkari juga. Kau tahu, dia yang akan mengatakan perpisahan itu. Tentu bukan dirimu. Karena aku paling mengerti, betapa kau mencintainya pada saat itu.
Puisi-puisi yang kautulis itu akan berakhir di sebuah buku yang bahkan tak mau lagi kaubaca, karena kau malu pada dirimu sendiri. Karena kau menyesal pernah sebodoh itu menerbangkan hatimu di sepasang sayap yang palsu. Dan perasaan itu akan berakhir di dering telepon malam yang dia layangkan ketika dia mabuk dan mengaku rindu–itu kebohongannya yang ke seribu. Tetapi dengan bodoh kau tetap menelannya. Menyatakan rindu sebaliknya.
Kau betul-betul gila, ya?
Namun, saat kau tidak bisa mengurangi kegilaanmu itu, setidaknya bersyukurlah bila nanti teman-temanmu akan setia menemani berhari-hari setelah ia menegaskan perpisahan. Karena di hari-hari itu kau tak tahu lagi bagaimana bentuk hatimu. Remuknya akan mengundang sesak setiap kali kau mencoba bernapas. Dan setiap tengah malam, kau akan terbangun dari tidur hanya untuk tertawa dan mengeluarkan air mata. Tanganmu menetap dan mengusap dadamu sendiri. Satu-satunya yang bisa kaukatakan di malam seperti itu hanyalah: Sakit. Sangat sakit. Sakit yang tak pernah kaukira sebelumnya. Sakit yang seperti tak ada obatnya.
Mungkin, suatu saat akan ada orang-orang yang dengan sabar memelukmu, mengucap harapan untuk sembuhnya patahmu, dan mengatakan kepadamu bahwa masih ada banyak hati yang mencintaimu. Masih banyak yang membutuhkanmu. Maka jangan pernah kau menjauh dari orang-orang yang sepeduli itu denganmu.
Percayalah padaku suatu hari kau akan menemukan kasih yang jauh lebih baik darinya, jauh lebih mesra dari sikapnya padamu, dan membuat matamu terbuka lebar. Bahwa cinta dan harapan adalah dua hal yang berbahaya, namun kau sudah mengerti betapa kau tak perlu jatuh terlalu jauh lagi.
Bukankah begitu?
