Diskusi Gerakan Sosial dan Keharusan Refleksi

Skale creative space, Surabaya – Sabtu, 8 April 2017

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Peserta diskusi)

Diskusi malam Minggu di skale creative space yang diadakan dalam rangka bedah buku dan sekaligus road show peluncuran buku karya Marsen Sinaga yang berjudul “belajar dari arkom jogja: Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai, berjalan cukup riuh dan gayeng. Buku kuning yang cukup “beracun” ini meskipun bertepatan dengan padatnya ruang diskusi tidak membuat diskusi dengan cara melantai ini sepi peminat dan menjadi sebuah topik yang hangat setelah guyuran hujan yang sejak pagi membasahi Surabaya.

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Moderator dan Peserta)

Diskusi ini dimoderatori oleh Ayos Purwoaji dan dibuka pukul 19.00 WIB. dengan sedikit guyon ‘malam minggu basah’, dosen UC dan sekaligus kurator made in Surabaya yang saat ini sedang naik daun ke kancah nasional, bahkan regional Asia Tenggara. Ayos yang sampai dua-tiga kali membaca buku ini, merasa bahwa buku ini memberi pencerahan dan kesadaran baru kepada kita akan gerakan sosial dan pemahaman akan realitas besar (baca: kapitalisme) yang selama ini bahkan tidak kita sadari (sepenuhnya). Maka, buku ini layak direkomendasikan untuk dibaca dan dibahas dalam diskusi.

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Pembahas)

Marsen Sinaga memberi pengantar pada diskusi ini dengan gayanya yang khas, meledak-ledak tetapi tetap terkendali dan jelas penyampaiannya, memaparkan tentang kapitalisme dengan tangan-tangan guritanya yang makin mencekik urat nadi kehidupan kita, yang membuat semua orang (di seluruh dunia) tergantung pada sistem yang diciptakan (dan dilanggengkan) oleh para kapitalis itu. Kapitalisme memiliki tiga pilar yang oleh Marsen disebut unholy trinity. Unholy trinity yang terdiri dari Uang, Hak Milik Pribadi dan Sistem Pasar Bebas telah membuat kita makin tergantung pada kapitalisme, seperti tak bisa hidup tanpa si kapitalisme. Itupun masih ditambah dengan aktivitas kita sehari-hari yang makin memakmurkan kapitalis, seperti: belanja, menabung di bank hingga keahlian atau pekerjaan kita (yang kita jual kepada pihak kapitalis).

Jadi – secara tidak langsung pun – kita sebenarnya juga menjadi bagian dari kapitalisme, karena telah ikut mendukung dan membesarkan sistem itu. Dalam bahasa Marsen, kapitalisme itu jahat, maka harus dihentikan, atau paling tidak dilawan karena merupakan penghisapan manusia pada sesama manusia yang lain. Pemerintah atau perusahaan besar (nasional sampai multinasional) kadang menjadi lawan, tetapi lawan yang sebenarnya adalah diri kita sendiri. Di sinilah kita patut berefleksi, bahwa jika demikian adanya, bagaimana kita memikir-ulang perlawanan kita kepada kapitalisme? Apalagi, saat ini Indonesia mengalami kesenjangan sosial-ekonomi yang paling buruk dalam sejarah, apakah kita akan berdiam diri saja?

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Pembahas)

Kemudian Wawan Some dari Komunitas Nol Sampah Surabaya menceritakan tentang pengalamannya yang panjang dalam mendampingi warga di pinggiran Surabaya (baca: marjinal), yang makin terdesak, yang dibuat tak berdaya. Wawan juga menyinggung soal kapital yang makin menguasai kota Surabaya, yang kemudian “memaksa” untuk menata kota semau-maunya demi kepentingan/keuntungan pribadi, tanpa peduli pada lingkungan dan kemanusiaan. Wawan mencontohkan, misalnya saja pembangunan dan pemasangan bronjong di pantai timur Surabaya (pamurbaya), yang justru menghancurkan beberapa bagian area hutan mangrove, yang secara natural sudah terbukti sebagai pelindung ampuh pantai dari abrasi air laut.

Wawan juga punya pengalaman dengan mahasiswa arsitektur, ketika bekerjasama mengadakan bedah rumah atau perbaikan di kampung. Ada mahasiswa arsitek yang kaget, ketika akan mendesain rumah seluas 6 x 10 m2 dan dihuni oleh 12 orang, akhirnya mereka (para mahasiswa itu) harus me-review kembali ilmu dan praktik arsitektur yang selama ini mereka pelajari di bangku kuliah. Mereka harus belajar dari realitas, yang kadang-kadang “kejam”, tak peduli dan tak adil.

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Pembahas)

Selanjutnya Bintang Putra dari Orange House Studio menggugat sistem uang yang sebetulnya berkembang secara historis. Bintang menandaskan bahwa barter dan hutang sebagai akar dari keberadaan manusia sebagai makhluk sosial. Barter lebih sering dipakai sebagai transaksi dengan orang asing (yang belum dikenal) atau dengan musuh, lewat pertukaran barang yang nilainya dianggap sama sesuai persetujuan kedua belah pihak.Sedangkan hutang cenderung terjadi pada satu kelompok yang sama, yang sudah saling kenal dan percaya. Misalnya hutang gula ke tetangga dibayar gula di lain waktu. Atau buwuh (memberi uang) ketika tetangga punya hajat, lalu dibayar-balik ketika si pemberi akhirnya punya hajat juga. Kalau dalam hal bangunan, mungkin berhutang material bangunan dan sejenisnya. Hutang ini sebagai sistem take and give, seperti “kredit” antar orang yang sudah saling kenal.

Saat ini, sistem kredit tersebut makin rumit dan makin “tak masuk akal”. Jika dulu bank memastikan harus ada dana ketika menyalurkan kredit, maka sekarang tidak lagi. Bank bisa memberi kredit tanpa memastikan adanya dana, sehingga muncul uang imajiner (yang diasumsikan saja), dan bank itu menerapkan bunga yang makin tinggi, yang pada suatu titik (bisa jadi) si penerima kredit tak mampu membayar lagi. Dalam konteks hubungan antar negara, hutang atau kredit ini pada akhirnya menjadi akar keruwetan: awalnya terlihat membantu, padahal menjadi bibit masalah terselubung yang menyulitkan, dan bisa juga sampai menghancurkan.

Kapitalisme menjelma menjadi sebuah sistem yang mengendalikan manusia, yang arah dan jalannya makin menguntungkan satu pihak (tepatnya: segelintir orang), dan merugikan sebagian besar manusia yang lain. Ini yang kita kritisi: manusia seharusnya mampu mengendalikan ekonomi, bukan malah diperalat oleh sistem yang diciptakannya sendiri.

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Moderator dan pembahas)

Lalu, Anas Hidayat dari ReK-Republik Kreatif/Lesnika UKDC memberikan review sedikit tentang judul buku yang terlalu panjang, jika dibuat lebih pendek dan padat, kira-kira akan lebih menggigit. Tetapi “kelemahan” judul itu diimbangi dengan warna buku yang tampil mencolok, serupa binatang “beracun” yang memberi warning kepada pemangsanya, sangat cocok dengan semangat yang diusung. Anas berpendapat bahwa model arsitektur komunitas semestinya bisa masuk ke dalam kurikulum sekolah arsitektur, karena arsitektur tidak hanya berkaitan dengan masalah desain an sich (yang ideal, netral dan steril), tetapi juga sangat berhubungan dengan masalah sosial dan kemanusiaan (yang real, berpihak, kontekstual) yakni didekatkan dengan kontestasi sebenarnya. Gampangnya begini, bukan arsitektur yang berkutat dengan “indahnya anggur dan rembulan”, tetapi yang berani berhadapan dengan “cipratan lumpur dan taring serigala”.

Ruang kota mestinya ditata dengan azas distribusi ala Kevin Low, atau azas selebrasi ala Deleuze, bukan dengan akuisisi dan akumulasi. Akibat akuisisi dan akumulasi ini, maka ada pihak yang menguasai ruang kota dengan luasan dan dimensi yang luar biasa besarnya, sementara ada banyak pihak lain (orang-orang marjinal) yang tak kebagian ruang, atau digusur/diusir karena dianggap menempati ruang ilegal.Dalam sesi tanggapan, ada tanggapan dari bu Esthi bahwa melawan kapitalisme (atau ketidakadilan dalam bentuk apapun) tidak harus dengan marah atau emosional, karena hal itu justru akan merugikan diri-sendiri. Lebih baik dengan cara yang lebih dialogis, agar bisa meng-gol-kan apa yang menjadi tujuan dan sasarannya.

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Tanggapan peserta diskusi)

Bu Esthi juga menyinggung masalah pendidikan sebagai cara untuk menghasilkan generasi yang lebih peduli dengan sesama, yang lebih ber-empati. Pendidikan itu penting, sebagai dasar dalam berkehidupan manusia, di masa kini dan masa depan. Kalau ajaran tentang akivis komunitas seperti ini tidak bisa masuk ke dalam pendidikan, jelas susah untuk bisa berkelanjutan di masa mendatang. Ajaran Marhaenisme dari Bung Karno pun seharusnya bisa masuk ke dalam kurikulum, karena kecenderungan pendidikan saat ini hanya menghasilkan borjuis-borjuis kecil yang kurang peka dengan penderitaan sesama anak bangsa dan sesama manusia.

Gatot Subroto dari Jaringan Stren Kali Surabaya juga menyebutkan bahwa aktivis seperti arkom (arsitek komunitas) harus bergerak secara riil di lapangan, bukan hanya di belakang meja. Masyarakat menunggu kiprah mereka secara nyata di lingkungan yang dianggap marjinal seperti stren kali, pinggir rel KA, kampung yang dianggap tak legal dan lain-lain.

Alfredo, mahasiswa UKDC, menilai arkom sebagai wahana untuk mendesain bersama masyarakat, sehingga arsitek/calon arsitek bisa belajar bersama masyarakat, karena masyarakat bukanlah komunitas yang stagnan, mereka juga punya kaidah-kaidah dalam berarsitektur yang bisa diambil sebagai “ilmu dan praktik baru” oleh para arsitek/mahasiswa arsitektur.

Sumber Gambar: Dokumentasi Arkom Jatim (Peserta,Moderator dan Para Narasumber)

Anas Hidayat

arsi-teks di nothink/ReK- Republik Kreatif/Lesnika UKDC

Shalim t.ry (Narahubung).

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Shalim try’s story.