Impromptu menjelang Sabtu

Shalvya Inge, 1 Oktober 2018

Seseorang yang punya gangguan kecemasan percaya bahwa kesepian itu teman. Tapi kamu tau kan, teman bisa juga membuat tidak tahan.

Apa yang kamu lakukan kalau kesepian sudah berlarut-larut mengganggu? Menghubungi teman atau keluarga? Menghububgi Tuhan karena ternyata akhirnya butuh juga?


Kadang-kadang berbagi dengan sesama makhluk tidak mengurangi beban. Banyak perasaan yang verbal belum punya representasinya dalam kamus. Lagipula biasanya aku yang dilimpahkan. Aku yang mendengar.

Membagikan yang di dalam-dalam belum menjadi keahlian. Jadi aku berbagi peran saja dengan yang suka bercerita.

Atau bisa jadi itu cuma alasanku, berusaha menjustifikasi dinding yang dibangun sendiri agar aman dari kewajaran berinteraksi dengan manusia yang sering banyak retorika, bahkan resiko.

30 menit saja kita berhasil bertukar pandang dan gagasan, pasti selanjutnya aku gelisah tak berkesudahan. Sampai tiba waktu pulang.

Aku memang pengecut.


Tapi berbagi dengan Tuhan berbeda. Walau kadang buntu juga, tapi iman yang diturunkan dari orangtua, dan orangtuanya, dan orangtua orangtuanya dan seterusnya, turut serta memberi harapan.

Tuhan memang maha baik. “Bicara” dengan-Nya, walaupun tanpa entitas yang dapat ditangkap panca indera, terkadang umpan baliknya lebih instan daripada bicara dengan manusia.

Tapi perempuan punya hari libur dalam agamaku.

Hari pertama menstruasi di bulan ini. Keluhan ini mungkin gabungan dari moodswingnya dan merasa butuh ibadah (tapi kan lagi gak bisa).

Kalau sudah begini aku keluar sendirian, cari angkutan, cari tujuan, belajar lagi tentang kota perantauan yang walau sudah dua tahun lebih ditumpangi, masih cuma bisa kusebut tumpangan.


Malang, bulan-bulan panas dingin. Dikembangkan bulan-bulan berikutnya