Wiro Sableng rasa Saur Sepuh

Shanty Soegandhi
Sep 1, 2018 · 5 min read

Sebagai generasi yang lahir tahun 90, aku tidak mengenal karakter Wiro Sableng dari komikus Bastian Tito. Mungkin juga aku terlalu kecil untuk menonton versi sinetron di TV. Tapi sebagai pencinta film, tentu pembuatan film Wiro Sableng besutan Angga Dwimas Sasongko sebagai karya yang wajib ditonton. Tentu pilihan genre action silat ini jadi pelipur dahaga film nasional yang akhir akhir ini di dominasi horror, komedi dan drama remaja. Dengar dengar budget film ini sebesar 30 Milyar menjadi salah satu budget film termahal untuk standar produksi Indonesia.

Pembukaan film ini membuat kesan yang keren banget. Ada nama Fox International Production. Pasti ini menjadi sebuah master piece. Terus terang aku tumbuh dan besar dengan film film Hollywood, sehingga berharap Wiro Sableng bisa sejajar dengan espektasi pecinta film Amerika khususnya.

Adegan pembuka sungguh dasyat. Benar benar cinematography yang indah. Pak Ipung sebagai Director of Photography tahu menggunakan lensa tele zoom untuk menghasilkan komposisi yang menyejukan mata. Silhoute kawanan penunggang kuda yang dipimpin Mahesa Birawa ( Yayan Ruhiyan ) dengan background bulan merah emas sungguh world class standard, yang kemudian dilanjuti dengan scene penyerbuan ke kampung. Scene scene awal ini mengingatkan adegan adegan di film film Zhang Yimou. Tidak diharamkan mengambil referensi dalam film lain sebagai bagian dari proses kreatif. Jadi adegan kapak yang susah diambil karena menancap di batu juga sudah dipakai dalam film ‘ Thor ‘ atau “ King Arthur: Legend of the Sword “.

Sayang sekali kelanjutan opening ini akhirnya buyar begitu melihat perkelahian antara Ranaweleng yang diperankan Marcel Siahaan dengan Mahesa Birawa. Gerakan body movement Marcell terlihat gemulai awalannya dan tidak meyakinkan. Berbeda dengan Yayan Ruhiyan yang memang tidak perlu diperdebatkan lagi.

Lama kelamaan alur film terasa dragging. Memang plot cerita dicoba dirangkai dari beberapa puzzle, tapi justru tidak menjelaskan apa apa. Seperti apa hubungan pendekar mabuk ( diperankan Andi /Rif ) dengan Shinto Gendeng ( guru Wiro Sableng ). Tiba tiba ia dan muridnya Aggini ( diperankan Sherina ) bertemu begitu saja dengan Wiro Sableng, lalu bertanya seolah mengenal Shinto Gendeng.

Karakter Wiro Sableng yang diperankan Vino Bastian memang merupakan kunci. Kejenakaan, aktingnya dan pemahaman bela diri yang mumpuni membuat dia jadi sosok pas. Hanya satu kekurangannya, yakni belum bisa melepaskan dari karakter Kasino dalam Warkop. Coba perhatikan, beberapa dialog yang diucapkan kenapa jadi mirip Kasino. Apa mungkin saat pengambilan gambar Wiro Sableng dan Warkop itu berdekatan jadwal produksinya ?

Yang paling mengesalkan sebenarnya adegan terbang dalam film Wiro Sableng. Gerakan jadul pasrah pemainnya seolah olah tali sling untuk melayang seperti kelihatan. Bayangan Diana Prince sang “ Wonder Woman “ melompat dengan penuh tenaga ditambah speed ramping dalam post production harus buyar dengan gaya terbang film jadul “ Saur Sepuh “ atau sinetron sinetron laga ala “ Manusia Harimau “ di televisi.

Gaya Anggini atau Bidadari Angin Timur ( diperankan Marsha Timothy ) turun mendarat ke bumi mengingatkan dengan gaya Yuni Shara terbang dalam sinetron ‘ Saur Sepuh “. Coba cek deh

https://www.youtube.com/watch?v=pPEoVrZtA4o

Jangan dibandingkan dengan kekuatan Wonder Woman. Melompat dan terbangnya penuh energi.

https://www.youtube.com/watch?v=MlwHKphUU_Y https://www.youtube.com/watch?v=OvJrnBU_7ow

Oh ya pertanyaan menggelitik. Sebenarnya fungsi Bidadari Angin Timur itu apa, sebagai peri yang muncul menyelamatkan Wiro Sableng dalam pertarungannya ? Penasaran apa dalam komik Wiro Sableng dulu juga ada karakter peri bidadari ini ? Tapi mungkin ini akal akalan sang producer agar adik kandung dan adik ipar bisa bermain bersama. Sah saja.

Maaf. Yang paling parah sebenarnya scene di atas pohon di puncak tebing antara Wiro Sableng, Anggini, Bujang Gila Tapak Sakti ( diperankan Fariz Alfarazi ). Shoot shoot dan Teknik pemakaian green / blue screen sangat buruk. Tidak blend antara obyek utama dengan background. Bahkan beberapa shoot sangat underexposed dan gelap. Coba lihat konsistensi antar shoot. Tiba tiba shoot Medium Close up Wiro Sableng dengan background blur ( dibuat blur dalam post production ) sementara shoot Wide juga dengan background blur. Padahal ini scene cukup penting dan kalau mau bisa mengambil referensi film “ Mowgly :” atau “ Legend of Tarzan “.

Cek deh

https://www.youtube.com/watch?v=7rObS3KqMJ4

Kepiawaian Ipung sang DOP yang terlihat diawal film, langsung rontok, saat melihat kualitas scene diatas pohon ini. Gelap, blur tidak jelas, dan jelas tidak mengerti CG dan Visual Effect / VX. Mungkin bukan salah DOP. Pertanyaannya apakah ada Visual Effect Supervisor yang mendampingi ? Mengingat Angga juga tidak memiliki track record film film dengan pemakaian CG yang berat.

Ini mengherankan karena ada scene scene lain yang bagus visual effectnya, misalnya asap ala ala film “ Lord of the Ring “ sehingga musuh musuh Wiro Sableng juga memiliki kemampuan seperti Nightcrawler dalam “ X Men “ untuk teleporting berpindah tempat.

Satu satunya yang mencuri perhatian justru Putri Rara Murni yang diperankan Aghniny Haque. Berbeda dengan Sherina yang tampak kurang fasih bersilat, Justru Aghniny sangat pas mendalami karakter ini. Cara berdirinya pun kita tahu bahwa dia paham bela diri. Tidak heran dia memang atlet Tae Kwon Do. Akhirnya Putri Rara Murni mati terbunuh dan oleh kakaknya Raja Kamandaka ( Dwi Sassono ) dikuburkan dengan cara dibakar. Yah mirip mirip Clive Owen sebagai Raja Arthur membakar jenasah rekannya di film “ King Arthur “.

Tapi penasaran jua, music dalam scene ini kok mirip ‘ Time ‘ — Hans Zimmer.

Soal Dwi Sasono ini, ada juga yang mengganggu yakni cara pengucapan dialognya. Entah mengapa seperti terdengar dialog sandiwara Radio Saur Sepuh. Sementara Marcella Zalianty sepanjang film sama sekali tidak pernah berbicara. Hanya memainkan mimik wajah saja. Entah ini tantangan atau justru pelecehan terhadap keartisannya.

Secara nilai aku memberikan nilai 7–8 untuk film ini. Bagus, lumayan menghibur dan sesuai ekspektasi saya tentang film laga Indonesia. Masalah hal hal yang saya bahas diatas bukan merupakan hambatan untuk bisa lebih keren lagi ke depan. Cuma saran saya tidak perlu pakai teknik green /blue screen kalau SDMnya masih tanggung.