Unpopular Opinion: Multitasking Sucks!

Faris Adlin
Jul 5 · 6 min read

Sekitar 2 bulan yang lalu, kala itu saya sedang mengerjakan tesis yang masih berkutat pada bab 1. Saya sedang mengerjakan tesis yang disambi bekerja pada suatu startup. Ya namanya juga perusahaan startup. Memang tidak terlepas dengan rangkap jabatan yang cukup banyak. Karena rangkap jabatan yang cukup banyak, tiba-tiba sudah larut malam saja. Ketika pulang pun tenaga sudah habis tak bersisa. Begitu seterusnya untuk keesokan harinya. Saya tidak sempat memfokuskan diri dalam mengerjakan tesis, yang mana cukup terbengkalai karena kelelahan dalam bekerja.

Tidak lama surat peringatan dari kampus pun terlontar. Undangan untuk menghadiri suatu meeting yang dihadiri oleh para terundang yang memang diperuntukkan khusus yang telah menerima surat peringatan tersebut. Hal ini menyadarkan saya untuk segera menyelesaikan tesis karena niat dari awal saya bukanlah bekerja namun menyelesaikan pendidikan.

Akhirnya saya menghubungi dosen pembimbing (saya singkat dospem untuk seterusnya) tesis saya kembali. Kali ini lebih intens. Namun sontak ketika sedang dalam perbincangan melalui suatu platform yang terdapat fitur chat di dalamnya, dospem saya menyeletuk.

Targetnya maju pra mas ya

Kaget setengah mati saya kala itu. Karena bagaimana tidak. Bagaimana saya menyelesaikan tesis yang tenggat waktu hanya 3 bulan sebelum semester tersebut berganti baru?

Kemudian saya mencoba bernegosiasi dengan dospem saya. Saya mencoba mengutarakan keluhan saya di bagian mana saja yang membuat saya terhambat dalam progres. Dospem saya menyeletuk kembali.

Yang menjadi kendala apa sih mas?

Dengan memantapkan hati dan kejujuran seadanya, saya menjawab pertanyaan tersebut. Inti dari jawaban tersebut ialah karena fokus bekerja dan saya mengakui itu sebagai suatu kesalahan karena lalai akan kewajiban utama saya sebagai mahasiswa pascasarjana.

Dospem saya menyarankan untuk cuti saja. Karena dengan cuti dan fokus hanya mengerjakan tesis, hanya 2 bulan pasti bisa selesai dikerjakan. Hmm… cukup mudah memang dalam berkata, karena faktanya, latar belakang tesis saya pun masih belum jelas arahnya ke mana. Dan ini tesis, bukan skripsi. Skripsi namun tingkat kesulitan yang berkali-kali lipat lebih tinggi.

Namun saya akhirnya menyanggupi saran dari dospem saya tersebut. Saya langsung menghubungi bos perusahaan saya, kalau saya ingin cuti dari proyek yang akan datang selama 2–3 bulan ini. Setelah mendapatkan izin tersebut, saya juga bertekad meminimalisir kegiatan yang memang tidak memiliki prioritas tinggi lainnya. Saya sebagai anggota dari organisasi non profit juga meminta izin agar vakum sementara supaya memiliki progres dalam mengerjakan tesis. Saya juga izin ke orang tua dan keluarga saya jika saya tidak akan pulang ke kampung halaman untuk lebaran tahun ini… keputusan ini yang paling emosional bagi saya.


Perjalanan Menembus Suatu Hal yang Mustahil

Pada bulan puasa tersebut, saya memulai hari mengerjakan tesis dengan usaha yang maksimal dan tidak tanggung-tanggung. Saya ke perpustakaan hampir setiap hari. Merancang prototipe chatbot sebagai bahan penelitian saya, kemudian mengujikannya dengan para responden. Mengumpulkan data dan menganalisisnya. Belum lagi jika ada yang tidak beres entah itu karena metodenya tidak cocok, latar belakangnya masih belum jelas dengan data penelitiannya dan masih banyak lagi masalah-masalah yang dihadapi.

Hari-hari saya isinya haya tesis, tesis dan stress. Iya, stress yang melanda karena banyak faktor. Baik internal maupun eksternal. Stress yang disebabkan oleh tekanan mental ataupun fisik. Mental karena tidak seimbangnya kehidupan dan fisik karena tidur yang kurang dan tidak beraturan.

Banyak yang meremehkan saya kala itu. Karena bagaimana mungkin tesis bisa kelar dalam 2 bulan? Impossible!

Perkataan mereka tersebut malah membuat saya semakin ingin membuktikan jika saya bisa melakukan hal yang mustahil tersebut.

Waktu kian berlalu. Bimbingan yang cukup intens hampir 1–2x seminggu dilakukan agar progres semakin cepat. 2 bulan kemudian, siapa sangka jika saya telah berhasil menyelesaikan tesis sebanyak 200 halaman. Saya sendiri cukup kaget. Setelah saya melalui pra pendadaran (seperti simulasi pendadaran), revisi saya pun tidak terlalu banyak dalam isi. Artinya penelitian tesis saya ini sudah cukup mumpuni untuk dipertahankan ketika pendadaran nanti. Dospem saya pun terikut kaget karena saking pesat progresnya.

Perhitungan Tesis Saya Sebanyak 200 Halaman

Hal ini membuat saya berkaca pada pencapaian kesuksesan lain sebelumnya. Mengapa saya sukses dalam menyelesaikan suatu hal? Karena saya single-tasking.


Mengapa Single-Tasking itu Lebih Efektif Dibandingkan MultiTasking?

Sebelum menjelaskan alasan kenapa single-tasking itu justru sangat efektif dibandingkan multitasking, mari kita memahami dari kedua istilah tersebut. Single-tasking (atau dikenal juga sebagai monotasking) ialah kegiatan praktis melakukan suatu pekerjaan/tugas tertentu dan meminimalisir gangguan yang berpotensi hingga pekerjaan/tugas tersebut selesai atau berdasarkan periode waktu tertentu.¹ Sedangkan multitasking (istilah yang diambil dari computer multitasking) ialah suatu kegiatan yang dikerjakan seorang individu untuk menangani lebih dari satu pekerjaan/tugas atau aktivitas dalam waktu yang bersamaan.²

Logikanya kan kalau multitasking itu mengerjakan lebih dari satu pekerjaan/tugas dalam satu waktu, kok bisa kalah sama yang single-tasking yang cuman mengerjakan satu hal dalam satu waktu?

Nah, untuk hal ini ada penjelasan saintifiknya. Berdasarkan dua buku yang telah saya baca sebelumnya, pertama ialah buku dari Cal Newport yang berjudul Deep Work, menyebutkan bahwa multitasking menyebabkan deep residue.³

Ketika kita sedang melakukan suatu pekerjaan A kemudian beralih ke pekerjaan B dalam satu waktu, kadar perhatian Anda saat itu tidak langsung 100% berganti terhadap pekerjaan B. Ada sisa kadar perhatian yang tertinggal pada pekerjaan A. Hal ini justru membuat daya dan intensitas fokus yang dibutuhkan semakin berkurang untuk pekerjaan B. Sehingga menyebabkan kehilangan produktivitas setiap kali Anda berganti pekerjaan A ke B dan sebaliknya.

Kedua ialah buku dari Tim Ferris yang berjudul The 4-Hour Workweek, dengan mengeliminasi distraksi yang disebabkan oleh multitasking, maka waktu ketika bekerja akan semakin efektif.⁴ 20% difokuskan terhadap hal yang penting saja dan 80% sisanya menghindari yang tidak penting.

Multitasking salah satu penyebab stress ketika bekerja

Sebelumnya, saya pernah menyinggung jika saya mengalami stress ketika mengerjakan tesis padahal single-tasking. Stress yang saya peroleh bukan dari ketika bekerja, tapi karena saya terlalu memforsir hidup saya hanya seputar tesis. Stress yang saya peroleh tersebut berdasarkan kegagalan manajemen energi, yang nanti akan saya bahas di artikel lainnya.

Untuk hampir semua orang dalam hampir segala situasi, multitasking ialah mustahil. Kita berpikir ketika melakukan multitasking, seringkalinya kita tidak benar-benar melakukan dua hal secara bersamaan, namun melakukan masing-masing tindakan dengan eksekusi yang cepat.⁵

Ilmu saraf telah menjelaskan bahwa kita dibentuk sebagai mono-tasker.

Ada satu penelitian menemukan bahwa hanya 2,5% orang yang dapat melakukan multitasking secara efektif.⁷ Sisa dari kita ketika hendak melakukan dua aktivitas yang kompleks secara bersamaan, maka itu akan hanya menjadi ilusi semata.

Kemudian David Meyer, seorang professor psikologi di Universitas Michigan menyebutkan bahwa 3 jenis para pelaku multitasking.⁸

  1. Orang yang melakukan karena putus asa. Dalam pikiran mereka, berbicara dengan seorang klien pada saat bersamaan melakukan riset atau gugling di internet ialah satu-satunya cara agar tetap mengikuti topik pembicaraan klien tersebut.
  2. Orang yang melakukan secara impulsif. Mereka akan mengabaikan sebuah laporan ketika sedang mengetik di tengah-tengah kalimat untuk mengecek e-mail tanpa memikirkan konsekuensinya.
  3. Orang yang melakukan demi kebanggaan tersendiri.

“Banyak orang secara delusional percaya bahwa mereka hebat dalam melakukan multitasking” Ujar Meyer.

Beberapa pekerjaan orang, seperti dokter dan perawat IGD ataupun UGD, sebenarnya memerlukan kemampuan multitasking ketika berada di bawah tekanan. Tapi pada kenyataannya, tidak ada satupun yang dapat secara efektif melakukan lebih dari satu hal yang kompleks dalam suatu waktu.

“Otak diciptakan bukan untuk melakukan multitasking untuk tugas/pekerjaan yang berat” Ujar Meyer.

Multitasking menjadi hal yang sia-sia jika aktivitas berbeda menggunakan bagian otak yang sama. Contohnya, otak hanya memiliki kanal satu bahasa. Jika seseorang mencoba untuk membaca ketika berbicara, salah satu atau kedua tugas tersebut akan mendapatkan sedikit kadar perhatian.

Ketika permintaan melebihi dari kemampuan yang dimiliki, maka stress akan mengikuti hal tersebut. Multitasking dapat berdampak sangat stress apabila tugas/pekerjaan tersebut penting untuk dilakukan, karena seringnya hal tersebut ada hampir pada setiap pekerjaan. Otak merespon permintaan yang mustahil tersebut dengan memompa keluar adrenalin dan hormon stress lainnya yang akan membuat orang tersebut menjadi “tegang”. Hormon-hormon tersebut akan memberikan suatu ledakan tenaga yang keluar dengan cepat, namun tenaga tersebut tidak membuat multitasking menjadi lebih mudah. Sebuah mobil pickup lawas tidak akan bisa berjalan 300 km/jam, tidak peduli seberapa banyak Anda menaruh bensin di dalamnya atau seberapa keras menginjak pedal gasnya.

Kesimpulan Sejauh Ini

  1. Single-tasking lebih efektif dalam melakukan suatu pekerjaan secara maksimal dibandingkan multitasking.
  2. Single-tasking lebih bebas stress dibandingkan multitasking.
  3. Multitasking bukan melakukan dua hal yang bersamaan, namun melakukan masing-masing tindakan dengan eksekusi yang cepat.
  4. Multitasking lebih cocok dilakukan untuk tugas/pekerjaan yang tidak berat.

Pranala

  1. https://whatis.techtarget.com/definition/monotasking-single-tasking
  2. Hallowell, E. M., Because, I. B. M., Kieras, D., & Grafman, J. (1994). Human multitasking. 1–7.
  3. Newport, C. (2016). Deep work: Rules for focused success in a distracted world.
  4. Ferriss, Timothy (2007). The 4-Hour Workweek: Escape 9–5, Live Anywhere, and Join the New Rich. Crown Publishing Group. ISBN 978–0–307–35313–9.
  5. https://time.com/4737286/multitasking-mental-health-stress-texting-depression/
  6. https://time.com/4470517/neuroscience-of-mindfulness/
  7. https://consumer.healthday.com/encyclopedia/emotional-health-17/emotional-disorder-news-228/multitasking-and-stress-646052.html
  8. M Watson, Jason & Strayer, David. (2010). Supertaskers: Profiles in extraordinary multitasking ability. Psychonomic bulletin & review. 17. 479–85. 10.3758/PBR.17.4.479.

Faris Adlin

Written by

Programmer, Gamer, Music Producer, and all those fantasy jobs

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade