Cara Berdamai dengan Kopi dan Sindromnya

Tell me what more addictive than your soul. Once I taste it, I never get enough of it’s flavour…
Konsumsi kafein pada kopi sebetulnya terbilang aman, asal dalam batasan tertentu. Normalnya 400mg per hari.
Pada dasarnya 100mg per hari saja sudah bisa membuat ketergantungan. Karena tubuh sudah ketergantungan, berhenti mengonsumsi kafein pun akhirnya memicu gejala “putus kafein” atau lebih kerennya dikenal dengan caffeine withdrawal. Pernah dengar atau justru sedang merasakannya? tenang, kamu tidak sendirian.
Kopi, bagi saya, bukan perkara sepele. Bukan sesuatu yang bisa digampangkan apalagi dianggap tidak penting. Jika ada hal krusial dalam hidup saya, sudah tentu itu adalah kopi.
Saya mulai mengonsumsi kopi sejak kecil, dari cuma mencuri kesempatan nyruput kopi milik Bapak hingga punya cangkir sendiri. Rumah kami dulu di pedalaman Sulawesi dekat dengan gunung, di kaki-kaki gunung itulah banyak kebun kopi jenis robusta. Bapak akan membeli ke sana tiap musim panen tiba dan disangrai Ibu di rumah. Hingga kini saya masih ingat betul bagaimana aroma kopi memenuhi rumah kami. Kopi sangat lekat dengan ingatan masa kecil saya.
Puncak kegilaan saya terhadap kopi terjadi saat kuliah. Jadwal kuliah dan praktikum yang padat, ditambah draft laporan yang susul-menyusul serta pekerjaan sampingan sebagai editor lepas kerap membuat saya jatuh pada pikiran-pikiran yang buruk. Tidur saya tidak pernah nyenyak dan saya jadi lebih senang terjaga. Konsumsi kopi saya naik berkali-kali lipat. Jika umumnya minum kopi hanya ketika ingin, saat itu sehari bisa 4 hingga 8 cangkir. Secangkir kopi mampu menangkap pikiran-pikiran saya yang jatuh dan mengangkatnya pada sebuah penerimaan.
Dunia ini akan terus-terusan membuat kita menjadi gila. Kopi telah membuat saya menjadi waras.
Tapi, tentu saja, tidak ada yang baik dari suatu hal berlebihan. Belakangan ketika libur semester hampir tiba, kesibukan tidak terlalu banyak dan tubuh mulai terasa tidak sehat, saya berhenti minum kopi.
Semenjak itu, kondisi fisik dan mood jadi kacau. Amburadul. Hasil diskusi dengan beberapa teman merujuk pada satu kesimpulan, saya mengalami hal yang dikenal dengan “caffeine withdrawal syndrome”. Singkatnya ini semacam perubahan kesehatan dan mood yang dialami seseorang yang kecanduan kafein saat berhenti mengonsumsinya secara total.
Rasanya serba salah. Apalagi ketika saya mulai membiasakan diri minum kopi lagi, tentu dengan dosis yang jauh lebih sedikit. Produksi asam lambung jadi tidak terkontrol, padahal dengan kebiasaan minum kopi sebelumnya tidak ada masalah sama sekali. Nggak ngopi badan lemes, kepala pusing, nggak produktif. Kalau ngopi asam lambung naik ke tenggorokan sampai sakit perut dan muntah.
Lantas bagaimana? tentu semuanya perlu diatur ulang. Perubahan jadwal dan fase ngopi harus mulai diperhatikan. Harus diingat bahwa tubuh kita perlu adaptasi, ketimbang langsung berhenti total minum kopi, lebih baik mengurangi dosisnya sedikit demi sedikit.
Mengganti sumber asupan kafein juga bisa kita lakukan. Kalau biasanya mengonsumsi kopi, bisa diganti dengan teh yang lebih rendah kadar kafeinnya. Jika kamu tidak begitu suka teh seperti saya, kamu bisa menyeimbangkan ritual ngopimu dengan perbanyak minum air putih.
Apa itu saja sudah cukup? jawabannya tidak. Untuk mengganti zat stimulan di otak, saya mati-matian rutin berolahraga dan berusaha tidur lebih cepat. Semuanya perlu diatur ulang. Semuanya.
Butuh nyaris 14 hari hingga akhirnya saya normal dan perlahan belajar minum kopi lagi. Tentu dengan aturan yang saya buat agar tetap sehat dan bisa terus berburu kopi. Agar saya tidak perlu merasa sakitnya putus dari kafein.
Kadang-kadang sesuatu yang kamu cintai memang bikin kamu berada dalam masalah.
Kamu hanya perlu menemukan jalan untuk keluar dan kembali mencintainya di ruang damai yang sudah kamu ciptakan sendiri.
