A Lone Chapter in the Journey of Life

Shirotsuki Aya
Sep 5, 2018 · 5 min read

Tanggal 5 bulan 9, tepat 5 hari setelah berakhirnya kegiatan yang mengubah pandanganku. Aku terpaku di depan laptop, dengan Word yang menampakkan lembaran putih bagai kanvas yang belum ternoda, mencoba untuk menuliskan semua yang terjadi 1 bulan ini.

Jika andaikan harus kutulis dengan lengkap, sungguh hal yang mustahil. Tak ada kata-kata yang mampu kutulis yang dapat menggambarkan semua yang terjadi, bahkan jika kutulis 1 kata pun akan selalu kuhapus dan kutulis ulang, karena seberapapun ku menulis masih tak mampu untuk tersampaikan. Tapi, akan lebih menyakitkan jika tak kucoba. Karena, inilah ceritaku.

Pada awalnya, sungguh hal yang aneh. Mohon dimaklumi, dari 10 mahasiswa yang diutus ke acara ini, ke acara “The NextDev on the Mission” 6 diantaranya adalah yang kebetulan saja sedang melaksanakan KKN. Sungguh hal yang aneh dan merepotkan. Walau mungkin lokasi KKN bisa dibilang tidak begitu jauh, namun akan susah untuk membagi waktu antara 2 kegiatan ini. Namun, entah apa yang menyebabkanku untuk ikut, hanya diri ini yang tahu.

Aku dan temanku, sepakat berdua untuk mewakili anak-anak KKN, sampai di tujuan, yaitu Hotel Sotis. Bagai anak burung yang baru menetas, kami… mungkin bisa dibilang bingung. Kami bahkan tak tahu jikalau ada technical meeting sebelumnya. Untunglah bagi kami, peserta tak harus mengikuti TM untuk mengikuti kegiatan ini, sehingga kami bisa masuk dengan cukup tenang.

Acara… penjaringan 30 besar yang akan mengikuti pelatihan dari Binar Academy, itu yang tersirat setelah mendengar berbagai orang berbicara. Jujur, kami berada dalam kondisi sulit. Mungkin bisa dibilang bagai makan buah simalakama, jikalau berhasil nanti susah membagi waktu, tapi jika gagal rasanya percuma. Setidaknya untukku sendiri, rasanya menggagalkan diri itu sangat… merendahkan harga diri. Tapi akan merepotkan panitia juga jika lolos tapi kemudian memundurkan diri. Dan pas pula ketika HP tak mau mengakses web Binar. Tapi untunglah aku bisa mengakses web dari laptop. Yah sudahlah, jika lolos tinggal konsultasi dengan dosen, itu pikiranku. Dan itulah yang persis terjadi. Kebetulan aku memilih Web Develop dan teman memilih Quality Assurance, sehingga kelas kami terpisah. Kami berpikir mungkin dengan begini jangkauan pengetahuan yang didapat bisa lebih luas, sehingga kami bisa minimal mengajari satu sama lain tentang yang kami dapat. Tapi sampai saat ini mungkin masih belum ada waktu, sehingga kami hanya bisa mengajari secara teori dam memperhatikan satu sama lain.

Awal dari pelatihan, kami berangkat dari tempat KKN. Apa jantung ini akan meledak karena gugup, hanya diriku di saat itu yang tahu. Tanpa bayangan apapun, dengan opsi yang kami pilih, kami melangkah maju. Sungguh hal yang baru, saat melangkah masuk. Berkutat dengan bahasa pemrograman yang berbeda dari yang diajarkan di kampus, tak lupa pula dengan editor yang berbeda, aturan yang berbeda, sehingga terasa bagai berada di negara yang bahasanya berbeda sama sekali. Sampai diri sudah gugup bin grogi saat pembagian tim.

Ah, pembagian tim. Mungkin saja doaku kurang manjur sehingga tak 1 tim dengan temanku. Mau bagaimana lagi, aku hanya bisa pasrah dengan pembagian tim, dengan harap cemas karena sudah terbiasa untuk membuat program sendirian, baik itu web maupun desktop.

Saat pertama kali berkumpul dengan kelompok, jujur saja aku tak mampu untuk membedakan anggota kelompok. Memang kelemahanku adalah untuk mengingat nama orang, bahkan teman 1 SMK saja membutuhkan minimal 6 bulan untuk bisa mengingat sebagian besar dari teman sekelas. Tapi selama tak menyebutkan nama sampai hafal, mungkin bakal aman-aman saja, begitu pikirku sambil mengumpulkan ide untuk didiskusikan dengan tim.

Aku tak tahu kenapa, tapi ideku dipilih sebagai project tim. Memang benar Kota Kupang sendiri mengalami masalah dengan air, namun pada saat pertama diskusi, kami cenderung memilih ke arah penjualan jasa. Mungkin air untuk angoota kelompokku yang lain adalah hal yang mungkin sudah tercukupi, namun untuk diriku yang sempat tinggal 13 tahun di lokasi yang airnya belum tentu seminggu mengalir dan pas juga tempat menginap di lokasi KKN juga kekurangan air bersih, hal ini sangat penting. Bahkan di RSS Baumata saja, tetangga sebelah rumah masih memesan air tangki padahal aliran airnya lebih lancar dibanding rumah yang lama. Karena itulah aku mengambil air sebagai ideku.

1 bulan berlalu dengan cepat, dipenuhi dengan belajar, diskusi kelompok, presentasi, dan juga berburu dengan koding. Percayalah bahwa anak-anak dari Web Develop semua kekurangan tidur dan selalu datang bahkan waktu libur. Aku sendiri harus kembali ke lokasi KKN minimal hari sabtu dan minggu sehingga tidak bisa ikut. Walau juga tidak bisa banyak konsen juga, tapi ada banyak kegiatan sehingga bisa dibilang sudah tepar ini kepala. Bisa dibilang aku sudah overdosis kopi saking banyaknya kopi yang kuminum, baik untuk kenikmatan diri sendir maupun untuk menahan pusing melihat semua koding yang tulisannya kecil itu. Untunglah pekerjaan dibagi, sehingga mata minimal tidak begitu rusak melihat koding satu-persatu.

Banyak hal yang terjadi, banyak kesalahan yang kuperbuat, banyak kepusingan yang datang, dan juga banyak pengalaman yang kudapat dari kegiatan ini. Banyak waktu aku ingin untuk tidur dan tak terbangun lagi, banyak waktu aku ingin menyerah saja, banyak waktu aku hanya ingin ambruk dan tak bergerak lagi, namun aku terus berusaha. Kalau jujur, lebih ke arah kuatir saja sih. Mengingat 1 teman sesama budak(?) koding akhir-akhir kegiatan sering tidak hadir, sehingga endingnya entah kenapa saya jadi lone coder di tim. Mungkin terlalu banyak waktu saat aku mengeluh dan menggerutu kekurangan kopi, tapi tetap saja aku bertahan agar tim tak hancur, karena ini tanggung jawabku sebagai salah satu pengkoding.

Hari terakhir, showcase dihadapan kepsek Binar Academy (maaf tapi 25 sudah om-om menurut manga) dan para petinggi Telkomsel cabang Kupang. Level stress bisa dibilang sudah pada puncaknya. Sedikit saja aku merasa kasihan pada anak QA, melihat mereka begadang di hari terakhir untuk menamatkan project tim mereka, tapi yah, mau bagaiman lagi. Presentasi sendiri berlangsung dengan cukup lancar, mengingat bawaan sakit perut setiap kali mau presentasi. Gugup kulindas, dengan konsentrasi bagaikan bermain game rhythm dengan level insane.

Kegiatan berakhir, kami berhasil menjadi tim terbaik (projectnya sih). Kami pun menjalani hidup seperti sebelumnya. Apa berakhir begitu saja, pikirku. Tentu tidak, setidaknya jika pengalaman ini bisa berguna bagi orang lain. Walau harus berpacu dengan laporan dan kuliah, setidaknya jika project ini bisa sempurna, jika ilmu ini bisa tersebar, maka apakah aku bisa berkata pada akhir jika “Aku telah berjuang”? Apa hidupku ini bisa berarti untuk seseorang di luar sana? Biarlah hidup ini yang menentukan.

Pada akhirnya, ini hanya 1 bab dari perjalananku. Apa hidup ini bisa berguna untuk orang lain, tak ada yang tahu sekarang. Karena alasan hanya dapat diketahui setelah kehidupan menghilang dari raga ini. Untuk berguna atau tidak, biarlah diri yang bekehendak.

“Life is a journey that must be traveled no matter how bad the roads and accommodations.” Oliver Goldsmith

“Today is a particular woman’s special gala. The final great ceremony in each human’s life. A funeral.” Undertaker(Kuroshitsuji)