366.

I should’ve trusted them. That we were not meant to be together.
Entah ini kebodohanku. Atau kamu yang terlalu pandai mematahkan.

Genap satu tahun lebih satu hari.

Sengaja kutuliskan ini terlambat sehari, kemarin sepertinya aku sibuk mengenangmu.

.

Lucu ya,

Setelah satu tahun ternyata aku masih disini, persis seperti keinginanku.

Walapun kamu entah dimana.

Kamu..

Dimana?

.

Yang aku yakin kamu saat ini pasti bersamanya.

Dia yang dulu teman baikku.

Dia yang dulu pernah jadi tempatku mengadu tentangmu.

Could it be more pathetic?


Bantah saja aku sesukamu.

Kamu boleh bilang bawa aku seharusnya dewasa.

Bahwa aku seharusnya bisa lebih menghargai pertemanan ini.

Bahwa tidak ada yang salah disini.

Bahwa memang hanya permintaan maafmu satu-satunya yang aku punya.

.

Toh, kamu tidak pernah melihat sudut pandangku juga, bukan?

.

Here is the thing :

You can’t simply hurt a person’s heart and wish everything to be normal.

Trust me,

You can’t.


Maafkan aku tidak bisa mengabulkan maumu kali ini,

Tepat hari ini, akan kuberi tau.

Aku memilih menjadi tidak dewasa,

.

Maafkan aku,

Aku perlu menyelamatkan diriku kali ini.

Like what you read? Give Shofi Azkarifa a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.