Kontemplasi (1)

Terkadang kita lupa,

apa apa yang dianggap benar belum tentu baik,

apa apa yang dianggap baik pun relatif.

.

Manusia mungkin hanya makhluk penuh asumsi,

bicara seolah fakta namun terasa fiktif,

berkata seolah penuh arti tapi apa iya berisi ?

.

Bentuk bentuk aksi yang katanya peduli, bisa saja hanya seni membela diri,

sebagian bahkan abai tentang niat bantu berdiri.


Lalu bagaimana cara cari tau, mana yang paling baik?

Bagaimana cara mengerti, niat tulus harus seperti apa diberi wujud?

Bagaimana memberi makna pada simpul simpul hati yang terurai pada rasa cinta kasih, tanpa cederai harga diri?

Bagaimana cara mengadu pada semesta, tentang lelah cari maaf dari celah-celah salah?


Temanku, mungkin terkadang kita lupa,

Ada yang lebih hebat dari semua usahamu taklukkan dunia,

Ada kuasa yang tidak lihat hebatnya tujuan,

Ada teori semesta paling sederhana namun fana bagi orang-orang yang lupa,

Bukannya Tuhan tak pernah henti ingatkan, pinta keinginan pada yang Maha Punya,

Ketika niat dianggap paling bijak, apa iya sudah jujur dalam do’a?