AKU INGIN BERSUA DENGAN IBU

SABAN malam, Bapak selalu mengelus-elus mataku agar lekas terkatup rapat. Dia selalu mengantarkanku pada mimpi-mimpi indah perantara kisah-kisah yang ia punya. Aku memang selalu cepat terlelap jikalau Bapak menceritakan segenap kisah zaman dahulu. Kisah yang paling aku suka adalah kisah Nabi Yusuf.

Selama ini, ia tak pernah kehabisan cerita. Tak ada kisah yang diulang. Setiap malam berganti tema. Meloncat, dari tema satu ke tema lain berikut pelajaran apa yang perlu diunduh dari kisah-kisah tersebut.

Bagiku, Bapak itu serupa dalang. Dia sangat piawai dalam menuturkan segala kisah. Rangkaian kata yang meluncur dari bibirnya tersusun rapi. Sangat teduh di hati. Renyah jika didengar dalam telinga. Aku asyik masyuk mendengarnya, sebelum akhirnya aku terlelap sampai ia membangunkanku untuk sarapan pagi.

Kadang aku lupa ceritanya, tapi tak sedikit juga yang ku simpan dalam ingatanku. Aku tak pernah bertanya perihal sumber cerita yang didapatkan Bapak. Apakah itu dari buku atau cerita dari mulut ke mulut, aku tak tahu. Bapak terlihat jarang membaca buku. Setiap harinya ia disibukkan mencangkul sawah milik tetangga. Bapak hanyalah lelaki setengah baya yang bermata pencaharian Buruh Tani.

Ibu sudah meninggal saat aku masih dalam buaiannya. Mengingatnya, kadang membuatku menitikkan air mata. Aku kasihan pada Bapak. Tak ada yang menemaninya saat dia lelah. Tak ada yang membasuh peluh yang mengucur di lehernya. Dan tak ada secangkir kopi hangat yang disodorkan saat dia mau berangkat ke ladang.

Sedangkan aku sendiri, aku masih belum sanggup membantu Bapak. Aku tak punya kaki yang kuat untuk melangkah ke sawah, apalagi ke sekolah. Sehari-hari aku hanya terkurung dalam kamar seorang diri. Terbaring diatas kasur, mendengar radio dan melamunkan bagaimana masa depanku kelak.

Dengan keberadaan Bapak, ku kira takdir tak begitu kejam. Sebab, bapak adalah lelaki yang menyayangiku secara utuh. Aku bangga memiliki Bapak seperti dia. Aku begitu senang manakala Bapak sudah tunai mengerjakan tugasnya. Dia selalu menghampiriku, mengajak bercanda lantas kemudian berkisah.


TIGA bulan kemudian, beberapa hari terakhir, Bapak pulang agak telat. Biasanya, ia menemuiku saat matahari akan sembunyi. Namun entah mengapa kali ini dia pulang sehabis Isya. Timbul sebuah rasa panasaran, hingga aku memberanikan diri untuk melempar tanya padanya.

“Kenapa engkau pulang agak terlambat, Pak?”

Sambil tersenyum simpul ia membalas, “Maaf nak, Bapak harus menambah jam kerja. Bapak disuruh membantu juragan membereskan rumah barunya. Tapi tenang saja, Bapak masih tetap bisa bersua denganmu, menceritakan segala kisah seperti biasanya”.

Bicaranya yang halus, tanpa ada sedikit pun nada yang meninggi, membuat aku terdiam lantas tersenyum. Dadaku yang semula menggumpal mendadak mencair. Bagaikan ada air yang menembus sela-sela organ tubuhku yang kering.

Meski agak terlambat, Bapak masih rela meluangkan waktunya untuk menemaniku sebelum terlelap. Ia tetap mengisahkan beberapa cerita yang kadang mengharukan dan juga mengundang gelegar tawa.

Suaranya yang agak parau, tak pernah menyurutkan niatnya untuk menghibur anak semata wayangnya yang lemah. Kadang, ia mengajakku ke pentas pewayangan jika kebetulan di daerah terdekat ada yang menggelar. Dengan bantuan kursi roda, aku pun mengiyakan ajakan Bapak, meski sedikit merasa kesakitan.

Sudah beberapa minggu ini dia senantiasa terlambat. Kadang aku agak menyesalkan perbuatan Bapak. Kadang aku ingin marah, hanya saja aku selalu mengurungkan niat. Serasa ada tembok kokoh yang membendung amarahku. Dan aku yakin tembok itu tak lain adalah kata-kata manis Bapak.

Malam itu, sebelum dia berkisah, aku mencoba untuk mengajukan pertanyaan lagi. Aku menanyakan mengenai sampai kapan ia harus pulang agak larut. Dia menjawab dengan lembut, satu minggu lagi. Aku pun senang bukan kepalang mendengar jawaban itu. Tentu, Bapak akan kembali seperti semula. Waktu yang akan ia habiskan denganku lebih panjang.

Seminggu setelahnya, aku heran kenapa banyak orang yang mengunjungi rumahku. Terutama para ibu-ibu tetangga. Mereka tampaknya sibuk di dapur mempersiapkan perkakas yang berkaitan dengan makanan. Aku mendengar bunyi kerupuk yang dimasak, aku mengendus aroma bawang yang digoreng. Sejenak aku berpikir, apakah ini acara buat Ibu? Aku mengelak, rasanya tak mungkin. Sebab kalau ada hajatan, Bapak selalu memberitahu padaku. Lagipula 1000 hari sudah dilalui beberapa waktu lalu.

Aku ingin bertanya. Sangat ingin. Tapi aku malu kalau berteriak. Nanti saja kalau berjumpa Bapak, aku akan bertanya, pikirku.

Akhirnya Bapak tiba. Tapi kali ini dia menghampiriku tak seorang diri. Disampingnya ada seorang perempuan yang tidak begitu muda yang belum aku kenal. Wajah Bapak berseri-seri. Lantas sesaat kemudian ia berkata padaku.

“Nak, perkenalkan, ini ibu kamu yang baru. Esok dan mungkin seterusnya, kamu akan ditemani ibu ini.”

Aku tak begitu gembira, juga tak begitu marah mendengar kabar yang melesat dari bibir Bapak. Aku yakin, mungkin inilah alasan dibalik kesibukan para ibu-ibu tetangga di dapur rumah. Aku mencoba memastikan kepada Bapak mengenai dugaanku ini.

“Oh, berarti ibu-ibu tetangga kesini itu karena menyiapkan makanan buat hajatan Bapak dengan Ibuku yang baru?”

“Benar sekali, nak.” jawab Bapak dengan sorot mata yang berpendar.

“Kenapa sebelumnya Bapak nggak bilang padaku?”

“Aku ingin memberi kejutan untukmu, Nak.”

Aku membalas perkataan Bapak dengan senyum yang agak ku paksakan. Aku kira, ini bukan kabar mengejutkan untukku. Tepatnya, biasa-biasa saja.


PAGI sudah mulai menampak. Sinar matahari jatuh ke tubuhku, menembus melalui sela-sela jendela kamarku. Pagi ini merupakan pagi setelah acara itu dihelat. Tadi malam, aku melewati suatu waktu tanpa kisah dari Bapak. Sebelumnya, Bapak meminta izin sekaligus maaf padaku karena ia harus menemani Ibuku yang baru. Tak ada respons lain dariku selain mengiyakan meski agak berat rasanya.

Ku lihat Bapak sudah ada di sampingku dengan wajah yang menyala-nyala. Dia mengenakan topi kusam yang sehari-hari bersarang di kepalanya. Bapak tampak siap berangkat kerja.

“Nak, sarapan pagi kali ini biar ditemani Ibu barumu ya?” begitu kata pertama Bapak pada pagi hari ini “untuk pagi sampai sore, engkau akan ditemani Ibu barumu. Pada malam hari aku tak bisa lagi menemanimu karena aku harus menemani Ibumu. Mungkin ini sebagai gantinya. Dan tentunya kamu akan punya waktu lebih lama ditemani seseorang. Aku ke sawah dulu.”

Seperti semula, aku tak begitu gembira. Tapi aku menurut saja karena apa yang diputuskan Bapak adalah hal yang paling baik baginya.

Tak dinyana, Ibu baru yang dikenalkan Bapak ini agak tak suka denganku. Dia menyuapiku dengan kasar, tak seperti suapan Bapak. Aku pun mendadak tak nafsu makan melihat ulahnya yang menyebalkan itu. Namun aku diam, tak sepatah kata pun terucap dari bibirku.

Dia terlihat semakin bersungut-sungut saat aku tak mau menerima suapan darinya. Sorot matanya menajam seperti kuntilanak. Aku tak mau melawan. Dengan lantang dia menumpahkan segala sumpah serapah padaku.

“Dasar bocah tak normal. Maunya apa sih kamu itu?” begitulah bunyi mulutnya yang berbusa-busa dan tak lama kemudian dia berlalu meninggalkan kamarku.

Hanya keburukan yang ku dapati pada kesan pertama kala dia menemaniku. Apesnya, sikap dia terus menerus diulang setiap hari. Kadang, dia teriak-teriak agar mengecilkan volume radio yang sedang ku putar. Aku heran, kenapa bapak mau menikahi perempuan kejam seperti dia? Apa tidak ada perempuan lagi yang baik di dunia ini, yang sanggup menerima segenap kekurangan orang lain?

Seketika, aku mengingat Ibu. Aku ingin menemuinya. Mengadukan segala sesuatu yang terasa berat di dadaku. Aku ingin mengadukan Bapak, yang tak lagi membeberkan kisah-kisah seperti dulu. Juga istri Bapak yang kerap mengutukiku. Aku ingin bersua dengan Ibu, meski perjumpaanku harus dibayar cekikan di leher. [Shofiyurokhim~Jombang, 09-02-2016]