LOLA

Dia menoleh ke mukaku. Sepasang matanya tepat menangkap tempat dimana aku berjalan. Padahal sebetulnya bukan aku yang memanggil namanya. Bahkan baru kali ini aku tahu bahwa gadis itu bernama Lola. Sungguh aneh, aku dan dia saling beradu pandang cukup lama. Melebihi pandanganku terhadap gadis lain yang baru ku lihat.

“Lola…” panggilan kedua membuyarkan tatapan matanya yang berbinar itu. Dia tersadar bahwa dia salah dalam memandang orang. Sehingga dia gelagapan, lantas mencoba menutupi rasa malunya dengan anggukan pelan dan senyum simpul.

Lelaki yang memanggil namanya itu tepat berada di belakangku. Bisa jadi dia merupakan temannya. Aku berlalu saja tanpa ada hal apapun yang terasa tertinggal.

Dia menghentikan laju langkahnya. Menunggu lelaki pemanggil itu menghampirinya. Tentu, sempat ada posisi bersejajar meski dalam jarak yang tak dekat ketika aku mendahuluinya. Kali ini aku yang bersenyum ramah padanya. Dia membalas senyum itu dengan senyum yang sama seperti semula. Tanpa ada kata maaf atau kata sapaan lain.

Dari jauh ku amati mereka berbincang memgenai suatu hal. Mungkin pekerjaan rumah dari sekolah yang tak kunjung ia paham atau mungkin… ah, sebaiknya aku hiraukan si gadis yang bernama Lola itu.

Selanjutnya aku akan menyebut gadis dalam cerita ini dengan nama Lola. Dan memang kenyataannya dia bernama Lola. Meski aku tak tahu ada kata apalagi setelah Lola.

Lola. Sekali nama itu menyergap ingatanku, sekali pula aku membayangkan betapa anggun parasnya. Apalagi pada saat aku bertatapan dengannya, senyumannya sungguh membuatku lupa akan daratan.

Apesnya, nama Lola setiap saat hinggap dalam tempurung kepalaku. Menyelinap, mengalir hingga pada bibirku, sampai aku tak tersadar bahwa aku menyebutinya. Lola.. Lola.. Lola.. aku tak menghitung sudah berapa kali nama Lola ku sebut. Tiba-tiba aku gelisah.

Sebagai pembalasan atas kegelisahanku, aku mencoba menerka ingatanku. Mengenai waktu ia pulang ke rumah, tempat yang dia lintasi, dan wajah beberapa temannya. Perihal alasan, tak ada lain kecuali ingin mengenalnya lebih jauh.

Aku ingat, pertemuan itu saat senja mulai agak menampak. Tepatnya pukul lima belas. Dia pulang dari sekolah yang lokasinya berada di dekat tempat pertama kali aku bekerja. Aku akan membuktikan bahwa aku tak pelupa. Memastikan akan dugaan yang cukup kuat dalam hatiku.

Sore selanjutnya aku berpura-pura membaca surat kabar di pinggir jalan. Sesekali aku mengalihkan pandanganku dari deretan kalimat pada lembaran koran menuju jalanan yang aku dan dia lewati kemarin. Aku menunggunya. Lama sekali. Dia tak kunjung terlihat sampai adzan maghrib hampir dikumandangkan. Aku pun pulang dengan membawa segenap rasa kekecewaan.

Aku tak patah arang. Demi gadis yang aku kagumi itu, aku akan menunggu dia melintasi jalan itu untuk kedua kalinya. Tapi, sekali lagi, usaha ini tak membuahkan hasil. Kecewaku menjadi berlapis-lapis.

Langkah kedua, ketiga, bahkan sampai ke enam kalinya hasilnya nihil. Namun, nama Lola masih saja tersimpan dalam ingatanku. [Shofiyurokhim, Jombang, 24 Februari 2016]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Shofiyurokhim’s story.