PEREMPUAN ITU TAK LAGI DI SAMPINGNYA
Pagi ini, tak ada sapaan manis yang ia terima, tak ada teriakan yang membangunkan dari tidur malamnya, tak ada teguran karena telat menegakkan Subuh. Pagi ini tak jauh beda dengan pagi-pagi sebelumnya, ia selalu bangun dengan derita yang menggunung dalam hati. Tanpa tahu sampai kapan ia harus berkutat dengan kenyataan yang tak menyenangkan itu.
Bangkit dari tempat tidur. Mengencangkan sebagian organ tubuh yang kaku. Lantas kemudian parasnya yang pucat pasi memandangi suasana pagi di balik jendela kamarnya. Dilihatnya sinar matahari yang begitu menyala. Sinar itu mengantarkan ke sebuah kenangan yang mungkin mustahil untuk terulang, bahkan tak akan pernah bisa terulang.
Mulutnya menguap berkali-kali, namun dia tak hendak berbaring lagi. Pikirnya, rasa kantuk akan lekas terusir jika ada secangkir kopi yang ia teguk. Tapi lagi-lagi ia lupa bahwa perempuan itu tak lagi disampingnya. Hanya si perempuan itu yang hafal racikan kopi kesukaannya.
Kamar mandi. Benar kamar mandi. Mungkin kamar mandi lah tempat yang cukup bisa menopang mata sayupnya. Bercuci muka atau bahkan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air, baginya adalah pilihan yang tepat untuk mengawali pagi ini.