Sebuah Review Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Terus terang, saya agak kecewa membeli Novel Puthut Ea yang berjudul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Kekecewaan itu menyambar dada saya karena sebelumnya saya terlanjur jatuh hati pada cerpen-cerpen karya Mas Puthut yang pernah terbit di surat kabar, Kompas atau di bukunya yang sebelumnya saya beli, Kupu-Kupu Berasayap Gelap. Saya akui, cerpen Mas Puthut memang luar biasa. Dari mulai susunan kalimatnya yang rapi dan indah, alurnya yang tak menjenuhkan dan konfliknya yang mendebarkan. Namun, kejeniusan Mas Puthut saya rasa tidak saya temui dalam Novel tersebut. Barangkali karena memang saya kurang begitu paham mengenai dunia sastra, atau karena saya terlanjur terjebak dalam suatu kesimpulan bahwa novel yang bagus adalah novel yang alurnya runtut. Yang ada keterkaitan antara bab sebelumnya dan sesudahnya.

Bukan berarti saya kecewa se dalam-dalamnya. Saya hanya kecewa dalam satu sisi, yakni alur atau plot. Seperti kesimpulan yang saya sebutkan di atas. Semisal pada saat si “aku” menikah. Biasanya setelah menikah, tentu proses selanjutnya adalah kehidupan pasca menikah, yakni tentang bagaimana membentuk rumah tangga yang baik, atau malah selingkuh lantas kemudian menikah lagi. Akan tetapi dalam novel tersebut, kayaknya ya, sekali lagi kayaknya, alur yang dibangun penulis adalah mundur. Kembali ke kisah masa pacaran atau masa pendekatan dengan perempuan-perempuan yang disukai. Disini lah, saya kurang bisa menikmati novel tersebut.

Dengan penilaian “kurang” yang saya paparkan diatas, saya masih perlu untuk mengapresiasi Novel satu-satunya karya Mas Puthut tersebut. Ada satu dua tiga bab yang bisa saya nikmati, terutama bab terakhir yang mengisahkan pergolakan cinta si “aku” dengan pegawai kafe yang bernama (palsu), Kikan. Bab ini yang dramatis dan lumayan mengundang tawa. Dan juga bab yang mengisahkan persahabatan Ibu dengan dokter perempuan yang bernama Sarah, yang pada akhirnya si “aku” jatuh hati kepada perempuan tersebut. Bab ini juga asyik dan mengalir. Dan juga bab-bab lain yang tak bisa saya tumpahkan semua di sini.

Selanjutnya, ada banyak kalimat yang sangat mengena dalam dada saya. Seperti :

Ia, kenangan, bisa datang dari apa saja, dari mana saja, seperti setan. Ia bisa menyentak ketika kita sedang mengaduk minuman. Ia bisa menerabas hanya lewat satu adegan kecil di film yang sedang kita nonton. Ia bisa menyeruak dari sebuah deskripsi novel yang sedang kita baca. Ia bersemayam di mana-mana. di bau parfum orang yang bersimpangan dengan kita, di saat kita sedang termangu di pantai, di saat kita sedang mendengarkan lagu.

Kenangan : Dia datang tak dijemput dan pulang tak diantar seperti Jaelangkung. Dan sialnya lagi, setiap badai kenangan itu turun, ia hanya mempunyai satu kepastian: rasa sedih yang menyesakkan.

Dan banyak serumpun kalimat lain yang malas saya tuliskan di sini karena jari saya agak cenut-cenut. Hahaha

Selanjutnya lagi, kisah-kisah yang disuguhkan dalam novel tersebut sangat membuat kalut pembacanya. Runyam. Menyedihkan. Dan, sepertinya sangat cocok dengan pembaca yang kerap mengalami paceklik asmara semacam saya atau sampean. Ada yang bilang bahwa Mas Puthut adalah penulis spesialis patah hati. Saya sangat setuju dengan pendapat itu.

Mungkin itu saja yang bisa saya ulas. Perlu sampean ingat bahwa review ini saya buat secara serampangan, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah baku dalam penyusunan review yang baik dan benar. Saya masih sangat awam dalam dunia sastra. Dan, tentu saya akan lari ketika ada yang menanggapi tulisan ini dengan kalimat, “emangnya lu bisa bikin novel apa, kok lu seenaknya menilai kurang karya penulis ternama Indonesia?”.

Like what you read? Give Shofiyurokhim a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.