Memilih Kehilanganmu

Ini bukan tentang satu hari yang tak terkendali kasih, namun perkataanmu tentang "ku rasa kita susah bersama, entah kenapa", membuatku merenungkan semua hal yang terjadi di antara kita memang dari awal kufikir terlalu kupaksakan.

Dunia yang kita berdua bangun seketika itu terasa runtuh. Telingaku penuh oleh tanya dan tuduhan-tuduhan. Sementara kepala juga terlalu sesak dengan suara-suara kebencian. Entah apakah aku kasih yang sengaja begitu, atau engkau yang memang membuatmu begitu. Kita berdua saling tikam, lalu menimbang-nimbang luka yang membesar dari setiap perkataan mu.

Kita mungkin jadi dua orang yang saling menyesalkan hal yang sudah-sudah. Kau bilang kau menyesali perkataanmu, aku terus mengutuk diriku sendiri. Aku sudah berusaha untuk membalut luka dari setiap tikaman perkataanmu, tapi entah kenapa kali ini terasa begitu sesak dan menyayat perih dadaku. Entah aku, atau kita berdua yang kalah oleh keadaan. Aku yang bertahan hidup dengan senyummu, kau yang mencoba menyelamatkan dirimu aendiri. Kita berdua pesakitan yang sama sekali tidak baik-baik saja.

Aku pikir, jatuhku kali ini adalah sebuah tanda tanya selanjutnya. Tapi ternyata itu hanya berlaku padamu. Kau selalu kuat dan indah dengan semua daya hidup yang selalu membuatku mencintaimu dengan sangat, berkali-kali. Sedangkan aku harus terus dihantui ketakutan. Aku masih takut untuk pulang, tapi terlalu enggan terus berada di puncak keputus-asaan.

Hidupmu berjalan. Dari dulu, aku sudah tahu bahwa lebih banyak mencintaimu selain diriku. Aku yang salah mengira kita bisa saling menyembuhkan. Kukira dirimu tabib, dan aku tidak pernah jadi siapa-siapa.

Ku tahu, kau tidak akan pernah benar-benar mencintaiku sayangku.

Suatu hari... Jika masih ada esok... Aku ingin bicara padamu sambil duduk di rumput, memandangi daun-daun yang kering sebelum waktunya dan tanpa tangis. Aku pernah bahagia denganmu sayangku, ternyata semua itu cepat berlalu salah mengira bahwa itu selamanya. Tapi bukan berarti aku tak berterimakasih atas segalanya.

Selama ini, aku adalah orang yang menurut padamu sayangku, tidak pernah ada pintamu yang tidak coba kupenuhi, walau ku tahu dibalik punggungku kau tidak pernah benar-benar melakukan hal sebaliknya. Kaupun tahu kita tidak pernah benar-benar saling menggengam. Aku bersembunyi dalam diam, engkau tidak pernah berhenti untuk didengar.

Sementara, kita saling mengawasi dari kejauhan. Kita perlu sembunyi dibalik pembenaran-pembenaran dan argumentasi logis membenarkan tindakan, ku salah terlalu banyak memimpikan sesuatu denganmu.

Jelang tidurmu, ingat-ingatlah aku adalah orang yang setiap malam menunggumu 20 menit untuk membersihkan wajah dengan sabun. Jangan lupa berkabar dengan orangtuamu dan sering-seringlah fokus dengan prioritasmu. Kali ini aku tak masalah lagi dengan siapapun teman makanmu. Aku juga tak mengapa jika kamu mengajak orang lain datang perpustakaan ataupun mencicipi cilok kesukaanmu. Ajaklah seseorang ke kedai kopi korea yang kamu sukai ataupun berkeliling kota Jakarta di sabtu minggu. Kita pernah sangat bahagia di hari dan tempat-tempat seperti itu. Jika rindu, bacalah surat-suratku dan buku kesukaanku (kau tahu betul soal itu dan menjadikanmu salah satu sebagai rujukan tulisanki. Untuk ini, terimakasih!).

Bukan berarti, aku benar-benar tak ingin lagi kita bersama. Atau aku lupa cara bahagia denganmu. Tapi mungkin kita tak bisa bertemu lagi. Mungkin baik bagiku jika berpindah ke dunia yang lain. Dunia yang asing dan barangkali lebih menyeramkan seperti kafka bayangkan. Tidak sepertiku, kau selalu punya mimpi, wujudkanlah.

Aku akan mengecup keningmu diam-diam seperti terakhir kita berjumpa, jika itu memungkinkan. Jadi, baik-baik ya. Kau harus tahu, setiap sayangku kepadamu selalu kau balas dengan tebasan perkataan yang berdesir ngilu seolah berkata, "aku menyayangimu kasih, tapi ku tidak bisa menahan luka-luka dan segala resikonya."

Makassar di hari pertama kali engkau membuatku sadar, sangat sulit bersama denganmu.-