Berburu Kesunyian

Kesunyian jadi sesuatu yang begitu sulit didapat akhir-akhir ini. Dunia jadi begitu berisik, dipenuhi suara-suara tak penting. Sesak oleh bau tengik kesemerawutan. Manusia memangsa semua, termasuk sejenisnya. Semua semata perlombaan menjadi yang terkaya, tercepat, terhebat, terdepan, terbelakang, terbrengsek, ter-“kelihatan”-brengsek, tergaul, ter-modern, ter-mutakhir dan ter ter yang lainnya. Semua ingin jadi nomor satu. Semua mau jadi yang terbaik. Tak ada yang salah dengan ambisi dan perlombaan, tapi rasanya ini semua sudah sampai di titik paling memuakkan. Manusia lupa caranya menghargai kesunyian. Mereka bersuka ria dalam hiruk pikuk kebisingan, lalu bingung dalam diam.

Padahal dalam diam, manusia bisa mendapatkan segalanya. Dalam sunyi ada tenang, murni, jernih, senyap, dan damai. Tidak bisakah sejenak saja kita beristirahat, bercermin dan berefleksi, dalam diam tentu saja; tentang betapa dunia sudah terlalu sesak oleh kebisingan yang tak perlu? Tidak bisakah kita sebentar saja menikmati keadaan tak bersuara sehingga kita bisa mendengar suara lainnya? Ya, suara hati dan suara alam. Suara-suara yang sekarang ini sudah hampir tak diacuhkan dalam kehidupan manusia modern berakhlak tinggi. Aku sendiri rindu untuk mendengar suara-suara itu. Suara hatiku sudah tumpul, digerus arus kehidupan yang bising ini. Suara hatiku terlanjur cemar, diracuni suara-suara sinis dari luar sana. Maka tak heran, jikalau sampai sekarang aku masih pula mendamba kumandang suara alam. Kepada hatiku saja, masih sulit aku berdamai apalagi pada suara alam. Begitu mungkin hakikatnya.

Maukah kau temani aku, kawan? Temani aku berburu kesunyian. Kalau kau tanya untuk apa, aku sendiri tak tahu. Yang pasti dalam sunyi, kau bisa menemukan dirimu. Dalam hening, aku bisa menjadi aku yang sebenarnya. Dalam diam, kita bisa berkata tanpa bersuara.. Maukah?

Like what you read? Give Samuel Sianturi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.