Dresden Masih Dingin

Dresden sudah mulai dingin. Perlahan tapi pasti, angin kencang dari arah timur Eropa mulai menjajah seantero kota yang indah permai ini. Sehari dua hari yang lalu bahkan sudah muncul salju. Walau masih berupa butiran kecil, salju tetap dingin dan basah, tapi tak pernah romantis. Kerlap kerlip hiasan Natal sudah dari pertengahan bulan lalu terpasang di hampir semua tempat. Di stasiun kereta api, pusat kota, pasar swalayan, bahkan mungkin di rumah-rumah bordil juga. Semua larut dalam suasana menyambut euforia perayaan Natal.

Sementara aku di sini, di kamar kecil berukuran tak lebih dari 11 meter persegi; dengan desain interior yang seadanya dan amat biasa; masih belum juga beranjak dari kenyataan. Kenyataan bahwasanya sekarang aku harus mulai membiasakan diri kembali menjadi seorang pelajar, garda terdepan benteng keilmuan, yang akan menentukan peradaban manusia di masa datang.

Ah terlalu muluk, pikirku. Apalah aku dibandingkan manusia-manusia Jerman yang “unggul” itu..

Suasana Natal masih enggan singgah…

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.