Hikayat si Wanita Paruh Baya

Punya kegemaran untuk mengamati dan merenungkan perilaku orang di sekitar, membawa keasyikkan tersendiri buatku. Menyaksikan bagaimana manusia-manusia ini berbicara dengan sesamanya, berceloteh, melemparkan guyonan, memanggil kawannya, cari perhatian dengan lawan jenisnya, membicarakan persoalan hidupnya, cara mereka memegang cangkir kopi, cara mereka membetulkan syalnya yang diterpa angin musim dingin, bahkan sampai cara mereka menyalakan sepuntung rokok; membuat aku tertarik. Entahlah mungkin aku punya bakat di bidang psikologi, atau memang aku cuma kurang kerjaan saja. Tapi aku tidak akan sungkan mengemban titel sebagai psikolog jadi-jadian, pemerhati kelakuan. Tidak jarang kelakuan manusia-manusia ini, selain membuat decak kagum, tapi juga memancing emosi.

Lebih kurang dua hari yang lalu, selepas hari yang melelahkan di kampus, padahal sudah masuk konsumsi gelas kopi yang ketiga di hari itu; aku berjalan dengan langkah gontai dan lemas. Ingin pulang, karena tak tahan lagi mau berak. Tai itu sudah di ujung pantat. Malang betul nasibnya. Di tengah jalan yang sepi menuju halte bus, harus berpapasan dengan dua wanita paruh baya. Kurasa mereka sudah menopause, terlihat dari cara berpakaian dan lengkingan suara mereka yang sudah tak enak didengar. Tahu kan, kawan, bagaiman beda suara Gigi Hadid dengan Meryl Streep? Jangan salah sangka, Meryl Streep adalah salah satu aktris idolaku, tapi suaranya hanya tak sedap didengar. Dua wanita paruh baya ini berjalan seperti biasa, layaknya ibu-ibu komplek sebelah baru pulang pengajian. Tanpa ada prasangka apa-apa, aku berjalan juga seperti biasa. Bagian jalan untuk pejalan kaki di Jerman, yang didesain untuk ramah juga kepada pengguna sepeda, dibagi menjadi 2 bagian. Satu bagian besar untuk pejalan kaki, dan satu bagian lebih kecil, biasanya dengan warna dan tanda yang ditambahkan secara khusus untuk pengguna sepeda. Wanita paruh baya yang satu, yang dandanannya ternyata agak menor itu berjalan persis di seberangku; di samping bagian jalan pengguna sepeda. Kalau wanita itu punya akal yang sedikit sehat, sudah layak dan sepantasnya beliau melipir sedikit ke arah temannya agar aku punya ruang untuk terus berjalan di koridorku. Tapi tanpa ada rasa bersalah, tanpa mau sedikitpun melihat ke arahku, wanita paruh baya yang amat biasa-biasa saja ini melengos seakan di depan matanya tak ada debu secuilpun. Beliau berjalan dengan anggunnya, merasa dirinya pantas disandingkan dengan model Victoria’s Secret, dan memaksa aku untuk berhenti sejenak agar sang ibu bisa melenggang kangkung di Runway-imajiner nya. “BANGSAT” kata hatiku. Aku melihat ke belakang, dua wanita paruh baya itu masih berjalan. Aku diam sebentar, masih berdiri terpaku, menghela napas. “Sudahlah, mungkin wanita itu belum melakukan hubungan seks selama setahun ini, atau suaminya kemarin malam habis ketahuan main serong dengan pelacur Rusia”, begitu pikirku. Untungnya halte bus sudah dekat. Masih 10 menit, kunyalakan satu batang rokok, tapi masih ingin berkata kasar. Bajingan..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.