Surat Untuk Tuan dan Puan yang Baik Hati

Yang terhormat tuan dan puan yang penuh kuasa,

izinkan hamba mencuri waktu tuan puan sekalian sebentar saja, untuk mencurahkan sebagian dari isi hati yang semakin meresahkan ini. Tuan dan puan mungkin tak akan tahu hamba siapa karena memang eksistensi hamba tak sepenting itu untuk kita bicarakan, lagipula “apalah arti sebuah nama” begitu kata Kang Memet, tukang bakso langganan hamba. Walaupun demikian, besar nian harapan hamba agar tuan dan puan sudi membaca tulisan ini, agar tuan puan sekalian bisa mengerti rasanya diusir dari rumah sendiri.

Sebelumnya mohon maaf jika hamba memulai semua ini dengan sedikit tidak santun, karena memang begitulah tuan, cara hamba si rakyat jelata ini bertutur kata. Hamba tidak terbiasa dengan kepedulian semu tuan puan yang seolah-olah berusaha untuk memberi hamba kesempatan untuk menjadi orang terdidik tapi di hari depan dengan mudahnya kesempatan itu raib, hanya karena memang pada dasarnya tuan dan puan yang budiman cuma peduli soal perhitungan ekonomi. Hamba, dan beberapa ratus pelajar lainnya, yang sepenuh hati mengejar ilmu yang semakin tak ternilai harganya itu, dengan tega tuan puan korbankan cuma karena urusan untung-rugi. Bapak dan Ibu pengajar kami, yang tak pernah letih barang seharipun, untuk memastikan kami mendapat pendidikan yang terbaik, pun tak pernah tuan puan gubris, seolah hanya tuan puan yang butuh makan, padahal mereka mungkin sedang pontang-panting mencari biaya tambahan untuk kebutuhan anak-anak mereka di rumah. Apalagi teman-teman kami yang juga membantu mengurus rumah belajar kami, yang dengan tulus ikhlas menjalankan kewajiban mereka, yang sekadar berjuang biar asap dapur rumah mereka tetap mengebul, mungkin sudah tidak ada artinya lagi buat tuan dan puan. Tuan dan puan yang sungguh baik hati, jikalau kemewahan untuk belajar di tempat yang sudah kami anggap rumah kami sendiri itu masih membuat kalian iri dan jengah, atau jikalau memang di dalam dunia untung-rugi kalian tak ada lagi yang namanya hati nurani, hamba mohon dengan amat sangat, kasihanilah kami.

Apalah kami dibandingkan tuan dan puan yang kaya raya ini, yang punya tanah berlimpah, yang punya banyak tempat untuk menambah pundi-pundi uang. Sedangkan kami? Kami hanya rakyat biasa yang ingin mencari ilmu. Hamba termasuk satu dari sekian banyak orang beruntung, yang mampu menyelesaikan studi hamba sebelum ribut-ribut masalah ini terjadi. Hamba sangat beruntung sekarang bisa melanjutkan sekolah di salah satu tempat terbaik di negeri Jerman, hamba beruntung sekarang sedang duduk menulis surat ini di kursi perpustakaan yang nyaman, dan hamba beruntung masih bisa bertahan menjadi mahasiswa di sini, yang bahkan sebagian orang lokal pun tak cukup lingkar otaknya untuk bisa melanjutkan sekolah tinggi di institusi ini. Semua kelimpahan dan kemampuan yang hamba dapat sekarang ini, setelah hamba dianggap cukup layak menyandang gelar orang terdidik ini, berasal dari institusi pendidikan yang tuan puan segel bulan kemarin itu. Tempat yang tuan puan pasangi tembok beton itu, yang lebih kurang 4 tahun menjadi tempat hamba pontang panting mengorbankan waktu tidur untuk belajar, tempat hamba mencari jati diri, dan tempat hamba bertemu Bapak dan Ibu pengajar yang amat budiman itu, sudah hamba anggap sebagai rumah sendiri. Dan hamba yakin banyak dari rekan hamba di sana yang merasakan hal yang serupa.

Tuan dan puan, sekali lagi maafkan hamba atas semua kelancangan ini. Mohon mengerti bahwa ini semua hanya bentuk rasa frustasi hamba, menyaksikan rumah hamba dirampas begitu saja dan hamba tak punya kuasa untuk membantu. Bukan tuan, bukan bangunan fisik yang tuan puan “sumbangkan” secara murah hati itu yang sekarang sedang hamba bicarakan, melainkan rumah dimana hati, pikiran dan perhatian hamba berada. Rumah yang menjadi saksi bisu bagaimana transaksi ilmu dan pendidikan nyatanya mampu meredam sementara keserakahan akan nafsu hitung-hitungan bisnis semata.

Tuan dan puan yang terhormat, bagaimanapun juga hamba ingin berterima kasih atas semua jasa dan bantuan yang telah kalian berikan kepada rumah hamba. Cuma satu harapan hamba, jikalau nanti tuan dan puan sekiranya akan membuat rumah-rumah belajar yang lain, tolong jangan samakan mereka dengan perkebunan sawit yang biasa tuan dan puan garap, yang mungkin tak pernah tuan puan pedulikan dampaknya kepada lingkungan. Kalaupun nanti ada sengketa atau persoalan lagi, tak perlu membawa preman-preman atau jawara kampung sekitar untuk menakut-nakuti, seperti yang terjadi pada kami. Rumah belajar tak punya jagoan, rumah belajar cuma berisi manusia-manusia culun yang haus akan ilmu dan pendidikan. Tak elok pula rasanya jika nanti ada masalah lagi, tuan puan membayar beberapa orang untuk menghasut dan memprovokasi di media sosial. Hamba paham, mungkin tuan dan puan hanya ingin memberikan lapangan pekerjaan buat manusia-manusia malas nan imbisil yang cuma mau bekerja dengan modal jempol dan internet seperti itu. Tetapi, tuan dan puanku yang amat hebat, cara-cara tak beradab seperti itu biarlah tuan puan lakukan di kala tuan puan ingin memperbesar ego dan serakah kalian di tempat lain. Tolong tempatkan kami, rakyat jelata yang cukup pintar ini, di level yang lebih terhormat..

Akhir kata, hamba doakan selalu yang terbaik untuk tuan dan puan yang penuh kuasa. Hamba hanya bisa berharap, tuan dan puan bisa mendapatkan apa yang diinginkan selama ini. Jikalau semua sudah selesai, hamba mohon tak usah pedulikan hamba dan rumah hamba. Biarkanlah kami berjuang kembali, dari awal, untuk memperbanyak jumlah kaum terdidik yang punya hati nurani. Agar nanti anak cucu kami bisa betul-betul menyadari, bahwa pendidikan bukan cuma perkara untung-rugi, agar keturunan kami nanti tidak menjadi pengusaha menjijikkan yang menjadikan dunia pendidikan sebagai tempat mengeruk uang dan memamerkan kekuasaan; dan agar kita semua sadar bahwa -seperti yang pernah diucap oleh salah satu Bapak pendidik di rumah kami- roh pendidikan tak akan pernah mati..

Salam dari Sächsische Landesbibliothek.- Staats. und Universitätsbibliothek, Dresden..

Like what you read? Give Samuel Sianturi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.