Tanah yang Dijanjikan Tuhan

Salah satu filosofi dan pandangan hidup yang prinsipal, yang selalu dipegang erat oleh bangsa Batak adalah betapa pentingnya seorang Batak untuk merantau, pergi jauh meninggalkan kampung halaman -keluar dari zona nyaman kalau istilah orang zaman sekarang- untuk kemudian mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Filosofi ini semakin dikuatkan dengan simbolisasi bangsa Batak yang menggambarkan mereka layaknya seekor cicak. Iya, cicak. Simbol-simbol cicak sangat sering dijumpai di rumah-rumah tradisional Batak, diukir dengan indah berdampingan dengan empat buah payudara manusia. Adapun makna dibalik simbol ini tentu saja ingin menegaskan kalau bangsa Batak, seperti cicak, adalah bangsa yang selalu ada dimanapun dan mampu beradaptasi dalam kondisi apapun. Bagaikan cicak yang selalu menempel di banyak rumah dan tempat, bangsa Batak diwariskan tugas mulia untuk bisa pula singgah di banyak tempat lalu kemudian menyesuaikan diri dan tentu menjadi dampak yang baik bagi lingkungan barunya. Bagai cicak yang segera memutuskan ekornya dalam keadaan terdesak, bangsa Batak juga diharapkan mampu menjadi orang-orang yang cerdik, cerdas, serta banyak akal. Penghayatan penuh akan filosofi ini akan menjadikan seorang Batak menjadi Batak yang sesungguhnya.

Lalu sekarang pertanyaannya adalah sudah pantaskah aku dianggap sebagai Batak yang sesungguhnya?

Dilahirkan dari kedua orangtua Batak, Sianturi dan Sinaga, memang sudah paten lah status ke-Batak-an ku. Bapakku adalah Sianturi tulen, dengan garis muka dan rahang yang tegas khas orang Batak, dan sifat-sifat dasar yang memang Batak sekali. Bahkan kadang sampai sekarang, berbicara bahasa Indonesia pun dia macam bicara bahasa Batak. Setiap pergi ke tempat umum, dan dia menerima telepon dari kerabatnya yang juga sesama Batak, kutakar banyak orang di sekeliling kami yang mengira beliau sedang marah atau gusar. Tapi memang sebagian besar lidah orang Batak angkatan lama mungkin masih sulit menyesuaikan logat manusia di pulau Jawa sana.

Ibuku juga adalah seorang wanita Batak tulen dari orangtua Batak dan dibesarkan dengan cara dan tradisi Batak. Hanya bedanya, ibuku sudah lebih dulu mengenal kota dan persentuhan dengan dunia barat. Kakekku adalah seorang pensiunan pegawai Caltex (yang sekarang diakuisisi atau dibeli atau diubah nama tak taulah, menjadi Chevron) di Duri, Kepulauan Riau. Karena dibesarkan di lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah orang Padang, ibuku jadi lebih pandai berbahasa Padang dulunya. Tapi lain daripada itu, dia wanita Batak tulen. Jadi secara genetis, aku sah dan mantap sebagai orang Batak.

Secara penghayatanku akan filosofi dan tradisi Batak, dengan cukup bangga, aku bisa menganggap bahwa saat ini aku sudah semakin paten untuk disebut sebagai anak Batak sesungguhnya. Ya, kawan. Aku sedang merantau. Merantau dan singgah untuk beberapa lama di tanah asal Ompung Ludwig Ingwer Nommensen, ompung agung yang untuk pertama kalinya mengenalkan nenek moyangku kepada Debata Jesus Kristus, Tuhan Yesus Kristus. Aku singgah di tanah ompung agung Ludwig Ingwer Nommensen yang secara gagah berani dan cerdik, mendatangi komunitas Batak yang dulu masih kanibalistik dan beradaptasi dengan baik sehingga akhirnya menyebarkan ajaran Kristus. Tak berlebihan kurasa jika filosofi untuk merantau dan selalu beradaptasi bangsa Batak, terinspirasi dari keberanian ompung agung Nommensen. Entah betul atau tidak, banyak orang Batak mengaku kalau orang Jerman punya semacam kedekatan spiritual dan simpati subjektif akan bangsa Batak karena kisah sejarah panjang kedua bangsa ini yang romantis sekaligus mengharukan yang bermula dari perjalanan misionaris Nommensen. Beberapa kerabat bilang, jangan khawatir nanti di sana karena kau dianggap keturunan Ompung Nommensen, orang Jerman senang sama kita. Soal ini, masih jelas sangat diperdebatkan. Tapi siapalah aku ini berhak menyanggah omongan orangtua, maka kuiyakan saja, sambil berharap kalau memang omongan mereka betul adanya.

Persinggahan ke tanah Jerman bukanlah hal yang baru bagiku. Dua tahun yang lalu, aku sempat pula singgah di tanah ini, sebagai seorang anak magang. Karena berkat dari Tuhan dan beberapa keberuntungan kecil yang aku dapatkan sepanjang dua tahun terakhir, akhirnya aku bisa kembali ke tanah ini sebagai seorang pekerja penuh waktu. Yang membuat persinggahan kali ini cukup mengharukan adalah karena aku harus meninggalkan beberapa orang terkasih. Tak bisa lagi aku bersenda gurau, berdebat, dimarahi, dinasehati, bercengkerama, dengan kedua orangtuaku. Tak bisa lagi aku berkelahi, berbagi cerita, olahraga bersama, atau saling meminjam baju dengan adikku. Tak bisa pula aku dengan mudah minum kopi dan berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Dan yang paling mengharukan sebetulnya adalah tak bisa pula lagi aku sekarang memeluk dan mencium kekasih hatiku. Kau tahu, kawan.. Ada semacam perasaan hampa karena sosok yang selama lebih kurang lima bulan ini menjadi sahabat terbaikmu sekaligus kekasih tercintamu. Seolah pusaran enerjiku terpusat hanya kepada dia dan mendadak pusat enerji itu menjadi jauh. Mengharukan memang.

Tapi tak apalah. Bahkan haru tak selamanya akan jadi haru karena haru selalu bisa jadi suka. Sekarang ini, aku sudah siap untuk diproses, siap untuk ditempa, dan siap untuk dibentuk. Aku yakin proses ini akan sangat sulit, akan banyak cobaan dan masalah, tapi aku sudah siap. Aku siap untuk menempelkan kakiku di tanah ini dan beradaptasi secepat dan sebaik mungkin. Aku siap untuk jadi lelaki Batak. Tidak, aku siap untuk jadi lelaki sesungguhnya.

Jikalau bagi bangsa Yahudi, Israel adalah tanah perjanjian, maka Jerman adalah tanah perjanjianku. Tanah yang menawarkan segalanya, tanah yang akan menghajarku dengan cobaan yang tiada henti, tapi sekaligus menjadi tanah yang menopangku dan memastikan bahwa aku akan baik-baik saja. Karena ini adalah tanah yang dijanjikan Tuhan..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.