Menyimpan Karcis

Stasiun selalu sama penuh. Manusianya yang tak sama. Berceceran penuh keluh. Rutinitas jadi irama berima.

Apa nikmatnya selalu menjadi yang dinanti? Memenuhi harap tak semudah hunus belati. Ditunggu selayaknya menunggu, tetap menggantung dua tiga ragu.

Bukan berapa lamanya tunggu yang dibayar, tetapi bagamana hadir penuhi pijar. Kembali pada mereka yang berendam ribang, menunggu pasang membuka gerbang.

Menikmati momen lalu mencatat memo. Menyangkal diri romantis dan mengabaikan melankoli. Menikmati zikir, liar mencari sesuatu untuk diukir.

Peron ini menjadi candi, tempat menunda dua rangkaian lokomotif. Untuk menikmati titik yang sepertinya alephku, aku menyimpan karcisku, tidak menanti yang seharusnya dinanti.

St.Rawa Buntu, duduk melewatkan dua commuterline, April 2017