Kemampuan Bercakap Abad-21

Sudah banyak diluaran sana, kursus atau bahkan sekolah bagaimana cara melakukan conversation yang baik dan benar. Mulai bagaimana cara duduk kita yang harus tegap, kaki tidak boleh menyilang, pandangan mata ke mata, badan harus menghadap kepada lawan bicara. Sampai yang membuat saya geli adalah, kita perlu untuk pura-pura mengangguk dan mengatakan “oh, ya” untuk terlihat kita memahami pembicaraan tersebut, lalu bagaimana mungkin kita sedang berbincang dan melakukan percakapan tetapi sebenarnya kita tidak paham maksud konversasi itu? ya, secara harfiah kursus tersebut salah (kurang baik untuk diajarkan) karena jelas-jelas kita bukan menginginkan sesuatu yang baik, tetapi bermakna (ada hikmah).
Maka, sepantasnya kita untuk terus belajar dan memahami secara pribadi untuk menemukan keseimbangan dalam melakukan percakapan. Jika saya boleh share, ada 3 point penting.
Fokus Tanpa Pihak Ketiga
Termasuk smartphone hukumnya adalah sangat buruk jika berada ditengah-tengah percakapan, baik itu dalam pemakaian atau sebagai hiasan didepan, alangkah baiknya ditempatkan pada kantong saku celana.
Terpenting adalah fokus pikiran, tanpa diperbolehkan memikirkan hal lain. Misal bercakap tentang politik, ya tidak boleh untuk memikirkan makanan apa yang akan anda santap malam hari.
Katakan “Saya tidak tahu” itu lebih baik.
Jangan menggurui, jangan sok pintar, jangan menyela omongan orang lain meski kita mengetahui hal yang lebih besar, kecuali diperlukan. Lebih baik diam tetapi tidak menyakiti perasaan orang lain daripada anda dominan tetapi lawan bicara merasa risih.
Pepatah lawas “Anda akan selalu bertemu orang baru dengan pengetahuan yang tidak pernah Anda tahu sebelumnya” secara kolot bisa diartikan, jangan menggurui!
Hargai dengan mengucapkan “Terimakasih”
“Terimakasih atas pertemuan hari ini.”
“Terimakasih sudah berbincang dikesempatan ini”
“Aku sangat takjub, terimakasih sharing Anda”
“Masukan Anda sangat berarti, terimakasih”
