Narasi Tentang Kamu yang Masih Dipertanyakan

Di sini ada ekspresi bahagia, atas hajat bersama yang telah usai, dan mungkin kebahagiaan tersebut hanya dinikmati segelintir orang.

Adapun yang berbahagia atas terpilihnya nahkoda baru dalam organisasinya, namun tetap segelintir orang yang menikmatinya.

Ada juga yang berbahagia atas independensi sebagai mahasiswanya masih diperjuangkan dalam kehidupan, namun tetap hanya segelintir orang yang menikmatinya.

Argumen saya dapat dibantah, karena untaian kata di atas masih berdasarkan asumsi pribadi.

Tapi? apakah “disini” ini dapat menjadi gelapnya bayang-bayang atas teriknya sinar matahari?

Semoga saja tidak, tapi tidak ini bukan hal yang absolut hingga kamu yang berani maju.

Siapa kamu?
Yang mendadak mampu mengubah nasib kami
Yang mendadak hadir di tengah sulitnya hidup dengan sekarung janji
Yang mendadak merasa paling bisa membawa amanah dalam tatanan ini

Dan yakinkah kamu maju karena keresahan tatanan ini bukan dimanipulasi sejuta arogansi?

Siapapun kamu, tolong jaga kami, atas hak-hak kami sebagai mahasiswa.

Walau bapak disana menginjakkan kaki di atas kepalamu, di atas kepalaku, di atas kepala kita.

Walau bapak disana memenjarakan kita atas pembelaan hak-hak kita dalam kemahasiswaan.

Walau bapak disana nantinya membungkam kita dengan sejuta dua juta materi yang ia punya.

Sebab kejahatan mereka tak bakal mendidik kita jadi patuh.

Tak sekali pun.

Selama kepala kita masih ada dan menyatu untuk berseru akan keadilan.

Sebab itu aku menunggumu untuk deklarasi sebagai pemimpin kami,

yang ketika kami bertanya untuk apa kamu maju adalah untuk merampas atas hak-hak yang dicuri.

Dan aku tidak ingin ditidurkan lagi, karena kamu yang dulu melebihi aku secara tupoksi.

Aku tak ingin dibangkitkan lagi seperti ini untuk menghimpun tuntutan-tuntutan yang telah dimiskinkan atas hak nya olehmu.

Aku harap niat baikmu selurus, sejernih, dan sebaik pola pikirmu.
Agar kami, nantinya tidak ikut-ikutan atas tindakan bodohmu.

Kamu, aku harap mempunyai nirvana.
Yang nantinya mampu berikan aksi nyata dibandingkan menggelorakan semata.

Oleh : Agung Nabawi S.