Jomblo dilarang mendatangi lokasi wisata Pantai Lakey, kecuali kamu seorang peselancar profesional.

Pantai Lakey, Hu’u, Nusa Tenggara Barat (Picture from Instagram @miqbalquraisyin )

Tanah airku indonesia…

Negeri elok yang amat kucinta…

Tanah tumpah darahku yang mulia…

Yang kupuja sepanjang masa…

Tanah airku aman dan makmur…

Pulau kelapa yang amat subur…

Bunga melati pujaan bangsa…

Sejak dulu kala…

Melambai lambai…

Nyiur di pantai…

Berbisik — bisik…

Raja kelana…

Itulah sepenggal syair yang dulu sering kunyanyikan bersama teman-teman ketika duduk di bangku sekolah dasar. Gambaran tentang tanah bumi pertiwi Indonesia yang dulu dipuja puji akan keelokannya.

Sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mempunyai catatan sejarah tersendiri. Seperti Sejarah Kesultanan dari Lombok, Sejarah Kesultanan Sumbawa dan Sejarah Kesultanan Bima.

Seperti daerah NTB lainnya, Dompu dahulu kala juga merupakan salah satu daerah bekas kerajaan atau kesultanan. Kerajaan Dompu merupakan salah satu kerajaan paling tua khususnya di Indonesia bagian Timur. Hal ini telah disimpulkan oleh Arkeolog, Sukandar dan Kusuma Ayu yang bekerja di Pusat Balai Penelitian Arkeolog dan Purbakala.

Sebelum terbentuknya kerajaan awalnya telah berkuasa beberapa kepala suku yang juga disebut Ncuhi atau raja kecil. Ncuhi ini terdiri atas empat orang, yakni Ncuhi Saneo yang berkuasa di daerah Saneo dan sekitarnya (sekarang Kecamatan Woja dan Dompu), Ncuhi Nowa berkuasa di Nowa dan sekitarnya serta Ncuhi Tonda berkuasa di Tonda (sekarang merupakan wilayah Riwo Kecamatan Woja) dan Ncuhi Hu’u yang berkuasa di daerah Hu’u. Dari keempat Ncuhi yang ada yang paling dikenal adalah Ncuhi Hu’u.


Mobil kami terus melaju ke arah timur jalan menuju desa Hu’u. Lokasinya tidak begitu jauh dari desa Mbawi atau kabupaten Dompu, hanya sekitar satu setengah jam lamanya menggunakan kendaraan dipacu dengan kecepatan 60 km/jam.

Pantai Lakey. Destinasi yang akan saya datangi bersama kawan-kawan relawan yang rela menemani untuk datang ke tempat ini.

Jalanan masuk masih dalam tahap renovasi. Berbatu-batu dipenuhi rumput yang dibiarkan tumbuh liar begitu saja. Deretan penginapan dan bungalow berjejer di sepanjang jalan masuk. Entah kenapa, justru saya sendiri yang merasa seperti orang asing yang datang jauh — jauh dari belahan bumi barat hanya untuk sekedar menikmati panasnya matahari di pantai ini. Diantara wisatawan asing.

Pantai Lakey rupanya lebih di dominasi wisatawan asing. Berjalan di sepanjang jalan trotoar yang tak jauh dari bibir pantai sambil menenteng papan surfing. Disaat yang sama pula mataku tak lepas dari pandangan wanita asing yang hanya mengenakan pakaian minim sambil berjalan menenteng barang bawaanya. Katakanlah ini surga dunia, yang tersembunyi jauh dari hiruk pikuknya ibukota.

Tidak mengherankan banyak wisatawan asing rela melakukan perjalanan beribu-ribu kilometer hanya untuk sekedar menikmati panasnya matahari di tempat ini. Tempat ini begitu tenang bagi orang asing manapun bahkan wisatawan sepertiku, yang baru sekali menginjakkan kaki disini.

Pantai Lakey memiliki keunikan tersendiri. Kata Arman. Ombaknya datang dari dua arah yang berbeda yang bertemu sampai ke bibir pantai. Ternyata hal itu memang benar. Saya melihat dengan mata kepala sendiri.

Tak jauh dari tempat kami memarkir kendaraan, seorang wisatawan asing sibuk memotret dengan kameranya. Hanya sedikit senyuman dari kami, dia melambaikan tangan dengan ramah. Mungkin itulah salah satu alasan apa yang membawanya kesini. Keramahan warga lokal dan ombak disini punya daya hipnotis tersendiri.

Pasir pantai tidak begitu halus seperti pantai Bira yang ada di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pasir pantai Lakey memiliki tekstur yang sedikit lebih besar meski tidak seputih dan sebersih pantai Bira. Ombak di sinilah yang menjadi primadona wisatawan asing. Tidak heran perlombaan surfing kelas internasional diadakan paling tidak tiap tahun.

Kamipun terus berjalan lurus dari arah kami masuk kearah ujung pantai. Di ujung pantai yang tampak dari kejauhan sepertinya sedang dilakukan reklamasi. Sayang sekali.


Pernah melihat Samudera Hindia di peta? Atau mendengar Samudera Hindia?

Nama yang tidak asing itu ternyata berada di depan mataku. Yah, pantai Lakey memang bagian dari samudera Hindia. Saya baru menyadarinya setelah salah satu teman yang mengatakannya.

Setelah lama menghabiskan waktu di sebuah kafe berbentuk kapal yang letaknya di ujung pantai. Akhirnya kami kembali menuju arah jalan pulang. Saat itu waktu menunjukkan pukul lima sore.

Seperti yang kukatakan kepada Arman, seandainya saya bagian dari warga lokal, kemungkinan besar disinilah tempat saya akan menghabiskan waktu luang lebih banyak.