“Sekarung beras untuk rakyat”

Raskin atau Beras untuk orang miskin sebenarnya telah dilaksanakan sejak tahun 1998. Waktu itu namanya adalah Operasi Pasar Khusus (OPK) dan berganti nama di tahun 2002 menjadi Beras untuk orang miskin atau yang lebih kita kenal dengan Raskin. Sepertinya program ini dalam setiap rezim selalu menjadi program andalan dalam upaya mensejahterakan rakyat yang ekonominya rendah. Tapi dibalik itu semua, program ini tidak terlepas dari segala macam permasalahan-permasalahan dalam pengimplementasiannya. Oleh karena itu saya tertarik untuk mencoba meneliti keterjangkauan raskin di masyarakat, dan saya memulainya dari yang terdekat di lingkungan saya.

Tepatnya di kecamatan Biringkanaya, kelurahan Daya. Saya pun memasuki lorong yang menurut saya cukup bersih dengan hiasan bunga di setiap temboknya yang berwarna hijau. Di setiap dindingnya bertuliskan “lorong garden”. Tepatnya berada di Jl. Paccerakkang RT 03 RW 08. Saya melangkahkan kaki saya menuju rumah itu dan tiba-tiba ada yang memanggil saya, katanya dalam dialek Makassar “dek siapa kita cari kata,” bapak itu. Lalu saya pun menjawab; ohh begini pak saya mahasiswa dari unhas. Saya mempunyai tugas kuliah untuk mewawancarai masyarakat yang memperoleh raskin. Seperti itu pak. Si bapak pun mengatakan; “oh kalo dirumah itu bukan masyarakat penerima raskin. Rumah itu adalah kos-kosan saya. Mereka (penghuni rumah) pun adalah pendatang. Ada baiknya kita’ ke rumahnya Pak RT kalo mau tahu soal itu. Nah, dari situ saya pun meninggalkan tempat itu untuk mencari tahu rumah Pak RT.

Matahari sangat terik. Selama berjalan kaki menyusuri lorong tersebut saya mengamati rumah-rumah warga di daerah itu yang sebagian besar terbuat dari kayu dan seng yang sudah cukup rapuh dan tua. Saya melihat seorang perempuan kira-kira umurnya 40 tahun lebih sedang membersihkan gerobaknya.

Saya pun berinisiatif untuk memulai pembicaraan dengan pertanyaan tentang raskin. Dimulai dari bagaimana aksesnya terhadap raskin baik itu secara administratif maupun hal-hal lain yang berkaitan dalam mendapatkan raskin. Apakah sasarannya sudah tepat bahwa yang berhak menerima raskin adalah masyarakat yang tergolong tidak mampu.

Namanya ibu Hasna dan suaminya Bapak Suriadi. Mereka berasal dari Soppeng dan sudah 20 (Dua puluh) tahun lebih menetap di Makassar. Mereka mempunyai 3 orang anak, dan 1(satu) orang sedang bersekolah. Untuk mencukupi kebutuhan ekonominya, mereka sehari-harinya menjual Hamburger keliling di Gor Sudiang. Bagi mereka, dengan adanya Raskin oleh pemerintah sangat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan perutnya.

Idealnya, raskin ini dibagikan kepada masyarakat setiap bulan. Tiap bulannya itu mereka mendapat satu karung beras per kepala rumah tangga. Akan tetapi di kelurahan Daya, RT 03 RW 08 Kecamatan Biringkanaya ini raskin dibagikan 2 karung beras per bulannya selama 6 bulan. Ini terjadi baru tahun ini, sebelumnya seperti biasa tiap bulan masyarakat mendapat 1 karung beras per bulannya.

Menurut Ibu Hasna, besar harapannya kepada pemerintah agar raskin ini tetap terus ada. Raskin sangat memberikan dampak yang sangat besar terhadap kebutuhan mereka akan beras. Apalagi penghasilan dari menjual Hamburger keliling tidak begitu membantunya. Bayangkan saja Ibu Hasna beserta suaminya harus menyiapkan modal yang tidak sedikit untuk berjualan. Mulai dari menyediakan Roti yang modalnya Rp 60.000, mentega (2kg = Rp 24.000), Selada ( 1kg = Rp 35.000), daging ayam (1 ekor = Rp 55.000), daging sapi (1/2kg = Rp 45.000), Mayonaise (1 bungkus = Rp 10.000), minyak goreng, susu, telur, lombok, saus tomat, serta mentimun. Sebuah burger dihargai Rp 5.000 dan jika beruntung Ibu Hasna bisa mendapatkan Rp 200.000 jika semua habis terjual dalam sehari. Menurut Ibu Hasna beberapa bahan di atas masih bisa di pakai untuk membuat burger pada hari berikutnya jika masih layak.

Keesokan harinya saya pun mengunjungi Pak RT, setelah sebelumnya dia tidak berada di tempat. Sayangnya, lagi-lagi saya tidak mendapati pak RT karena sedang melakukan pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang ojek. Untungnya saya bertemu dengan Ibu Irwanti, istri dari Bapak Abd.Hamid selaku ketua RT. Saya pun memulai percakapan dengan bagaimana keterjangkauan raskin terhadap masyarakat disini? Ibu Irwanti pun menanggapi pertanyaan saya dengan sangat antusias. Dia bilang begini, “raskin itu sangat membantu kami sebagai masyarakat miskin. Tetapi juga kadangkala ada juga masyarakat yang kemampuan ekonominya bagus, tetapi tetap juga mendapat raskin”. Kira-kira seperti itu penuturan ibu Irwanti terhadap raskin.

Yang menarik di percakapan kami, ibu Irwanti juga sempat menyinggung program pemerintah yakni BLT(Bantuan Langsung Tunai). Ia bilang, ada baiknya pemerintah tidak memberikan uang kepada masyarakat. Pemerintah harusnya memberikan bantuan berupa pangan saja, khususnya beras. Perlu anda ketahui bahwa 1 karung beras itu berisi 15kg.

Yang menarik dari percakapan kami adalah Ibu Irwanti sempat mengeluhkan bahwa di tahun 2017 nanti Raskin akan di hapus oleh pemerintah. Dari raut wajahnya, saya melihat kekecewaan karena Ibu Irwanti dan seluruh masyarakat miskin di negeri ini menaruh harapan besar terhadap Raskin. Saya pun mencoba menjawab kegelisahan ibu Irwanti karena saya sempat juga membaca sedikit tentang masalah itu. Jadi, di awal tahun 2017 nanti pemerintah sebenarnya tidak menghilangkan raskin. Tetapi pemerintah menggunakan metode baru dalam raskin yakni penggunaan voucher [1]. Jadi voucher ini dapat digunakan untuk menebus beras dan/atau telur atau bahan pokok lainnya di pasar, warung, di toko pada harga yang berlaku.

Di tengah pembicaraan serius saya dengan ibu Irwanti, akhirnya bapak Hamid pun datang dengan sepeda motornya. Ia pun menaiki tangga rumahnya dan terlihat dari wajahnya yang cukup kelelahan. Dari subuh pak hamid sudah memulai rutinitasnya sebagai tukang ojek. Karena pada saat subuh para penumpang bus dari daerah cukup banyak. Dan pada waktu itulah saat yang terbaik untuk mendapatkan setoran. Pak hamid baru berhenti ketika siang hari.

Saya pun memberi salam sembari ibu Irwanti memperkenalkan saya serta tujuan saya menyambangi rumah mereka. Setelah mengetahui maksud dan tujuan saya kesini, bapak Hamid langsung saja memberikan pendapatnya tentang raskin, khususnya penghapusan raskin di tahun 2017 nanti.

Saya pun kembali menjelaskan tentang raskin di tahun 2017 nanti kepada bapak Hamid. Setelah saya memberikan sedikit gambaran tentang reformasi raskin di tahun depan, pak RT langsung menanggapi saya dengan celoteh seperti ini, “ah, voucher ini akan mengarahkan masyarakat jadi konsumtif”. Tidak mungkin itu kita ke toko atau kyak indomaret ambil beras itu ituji saya kita ambil. Pasti banyak yang mau kita’ ambil karna banyak pilihan di toko itu. Jadi dia buatki jadi konsumtif”. Kira-kira seperti itu pendapat pak Hamid terhadap pembaharuan metode raskin di awal 2017 nanti.

Pak Hamid juga menuturkan bahwa ada tetangganya yang tidak mendapat raskin, padahal ia tergolong masyarakat yang tidak mampu dan kesehariannya bekerja sebagai tukang ojek. Selaku ketua RT, pak hamid sudah membantu tetangganya itu di kelurahan bahkan sampai di kecamatan. Secara administratif tetangga pak Hamid sudah memenuhi persyaratan dalam memperoleh raskin. Akan tetapi, sampai saat ini mereka belum mandapat raskin.

Pak Hamid mengatakan bahwa pemerintah tidak memperbarui data yang baru terhadap masyarakat miskin. Jadi, yang digunakan adalah data yang lama, sehingga akses masyarakat miskin terhadap raskin ini tidak merata dan tak kunjung selesainya masalah-masalah teknis dalam memperoleh raskin tersebut.

Badan Pusat Statistik(BPS) mempunyai andil besar terhadap permasalahan ini. Karena lembaga pemerintah inilah yang mempunyai fungsi untuk melalukan pendataan terhadap masyarakat. Menurut saya, pemerintah dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS) harusnya rutin melakukan pendataan terhadap masyarakat dalam memperoleh raskin. Misalnya saja di beberapa kasus yang sering kita dengar bahwa masih banyak masyarakat yang tergolong mampu dan punya pendapatan yang tinggi tapi tetap saja mereka mendapatkan raskin. Ataukah seperti yang dialami oleh tetangga Pak Hamid yang sudah beberapa kali mengurus permasalahan administratif raskin di kecamatan tapi toh sampai sekarang raskin belum mereka peroleh. [2]Yang menjadi permasalahan disini ialah pendataan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik yakni dalam jangka 10 tahun.

Hal serupa juga dikatakan oleh Drs. Muh. Yusri Zamhuri MA, Ph.D selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanauddin. Beliau menuturkan bahwa memang yang menjadi persoalan serius terkait raskin ini adalah tentang pendataan kependudukan. Sehingga redistribusi raskin ke rakyat tidak menyeluruh karena tidak banyak penduduk yang tidak terdata. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa untuk mengentaskan kemiskinan harus dimulai dari aspek sosialnya, seperti kesehatan dan pendidikan.

wawancara saya dengan Drs.Muh.Yusri Zamhuri MA, Ph.D

Inilah yang menjadi persoalan pokok Negara kita dalam mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Sungguh ironi melihat Negara agraris seperti Indonesia dan sebagian besar masyarakatnya adalah petani masih tertatih-tatih dalam memberikan akses pangan terhadap rakyatnya. Dan menyedihkan lagi, nyatanya bahwa Indonesia sampai sekarang masih mengimpor pangan terkhusus beras dari Negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Pakistan, India, dan Myanmar. Karena kebutuhan akan pangan adalah Hak dasar kita sebagai manusia. Termasuk kebutuhan akan beras di masyarakat. Jangan sampai kasus-kasus yang menghampiri Pak Hamid, ibu Irwanti, Bapak Suriadi semakin meluas dan pemerintah menutup mata akan masalah ini.

[1] Diakses dari http://setkab.go.id/awal-2017-diterapkan-program-raskin-akan-diganti-voucher-pangan/ pada tanggal 20 Februari 2017 pukul 19.41 WITA.

[2] Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sensus pada tanggal 20 Februari 2017 pukul 20.00 WITA

*silahkan hubungi saya melalui email sir_ton@yahoo.com jika ingin mengambil rekaman saya dengan narasumber.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.