-Seseorang yang hanya aku sebut hujan-

Aku ingin menuliskan kau dengan kata-kata yang terlampau isak untuk bersuara.

Mungkin aku tak pandai menulis ini itu dalam paragraf-paragraf panjang yang enak dinikmati dengan secangkir teh yang hangat.

Membaca kau dan catatan-catatan yang kau tinggalkan di rumahmu membuat aku sering menangis.

Aku menemukan diriku yang dulu di situ. Aku yang terlalu cepat sedih untuk hal remeh yang buat orang lain tak cukup untuk mengeluarkan air mata.

Di dalam kepalamu mungkin hujan dirayakan sepanjang waktu, semacam kebiasaan yang tak biasa.

Ada rumah di sana, di sudut kepalamu, yang menyimpan kesedihan orang-orang penyuka buku dan kopi.

Sering kali perasaan melankoli datang di hadapan aku dalam hal-hal sepele; melihat sore, menangisi gerimis atau membaca huruf-huruf yang lahir dari kepalamu yang penuh aduh.

Memang ada masa di mana aku ingin ada di sana di dalam kepalamu, sebagai apa saja yang tak mengundang hujan atau apa pun yang menjauhkanmu dari sembab dan sedu sedan. Rintik yang kau pelihara di dalam sana, semacam ingatan masa kecil yang mengendap dan tak lagi bisa diusir dengan lelucon-lelucon yang sedang ramai berteriak di televisi.

Di akhir hari, terkadang aku menyempatkan mengucap semoga untukmu. Aku juga berusaha untuk mencoba mengatakan kalimat yang selalu ditahan-tahan oleh orang di sekelilingmu.
“Pergilah membeli payung atau kau hanya perlu mengetuk dan meminta untuk berteduh.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.