Self-Love, the Key of a Happy Mama

Mama-mama, fair warning pengalaman saya menyusui pertama kali bukanlah seperti post Instagram yg penuh dengan berkulkas-kulkas ASIP. Ini adalah cerita bagaimana saya belajar realita menjadi ibu untuk pertama kalinya sehingga saya lebih siap nanti ketika adikknya si sulung datang.

ASI adalah asupan gizi terbaik untuk anak, sebuah statement yang menempel di otak dari hamil.

Sayang saya melewatkan satement lain yg sama pentingnya, betapa Kebahagiaan Ibu sangat menentukan keberhasilan proses memberikan Asi.

Ketika Arga, anak pertama saya lahir, ekspektasi menjadi ibu ideal sudah tertanam lewat social media, berbuat A atau B menentukan apakah anda ibu yg baik atau tidak. Memberikan ASI menjadi sesuatu yang bernuansa "Perjuangan" dan "Kewajiban".

Walaupun DSA Arga puas dengan BB dia, saya resah mengapa dia tidak semontok temannya yang juga Asi eksklusif atau kenapa ASIP saya tidak sekulkas penuh seperti ibu-ibu lain.

Saya sungkan menyusui ditempat umum,akhirnya jalan-jalan ke mall isinya sembunyi di nursing room (saya belum akrab dengan nursing cover yang nyaman saat itu)

Rasanya hidup isinya hanya Asi..Asi saja.

Ketika Arga berumur 6 bulan, ia terkena Demam Berdarah. Khawatir dan sedih ditambah anak yg tidak bertenaga untuk menghisap menyebabkan produksi Asi sangat menurun. Akhirnya dengan berat hati saya ikuti saran dokter untuk menambah asupan dengan susu formula

3 tahun lewat, Arga telah tumbuh menjadi balita yg lucu dan sehat, namun setiap mengingat 6 bulan pertama itu tetap ada perasaan sebagai "failure" yang mengganjal

Suatu ketika saya ngobrol-ngobrol dengan seorang psikolog keluarga tentang pengalaman saya dan dia tiba tiba berkomentar "Ibu itu Baby Blues dan tidak ditangani, Asi itu sangat dipengaruhi state of mind, ingat prinsip di pesawat, tolong diri ibu dulu. Sehingga ibu bisa memberikan yang terbaik ke anak"

Saya tau baby blues itu apa, tapi saya sama sekali tidak "Ngeh". Dipikiran saya ya ibu harus berjuang saja melawan lelah dan pikiran tertekan, Toh ibu saya dulu begitu. Semua dikerjakan sendiri, tidak terfikir bahwa mungkin ini terlalu berat untuk dianggap letih-letih biasa.

Saya tidak sadar dengan kebutuhan diri saya, suamipun tidak, it's a recipe for disaster.

Setelah berkali-kali ke psikolog, belajar mengenai nilai-nilai dan teknik parenting, dan yang terpenting komunikasi antara suami istri dalam menghadapi tantangan menjadi orang tua, saya bisa bilang bahwa saya ibu yang Bahagia.

Saya malah semangat sekali ingin mempunyai anak kedua agar bisa menjalani masa-masa menyusui bayi yang menyenangkan. Menyusui tanpa beban, dengan satu gol saja yaitu anak sehat berkembang sesuai parameter medis dan tumbuh di keluarga yang bahagia. Tidak perlu lagi sibuk melototi medsos dan membanding-bandingkan hasil saya dengan orang lain. Lebih santai membagi tugas ke pasangan dan memperhatikan kebutuhan fisik dan mental saya.

Yukkk punya anak lagi! *lohh :))

Still water does not make a skilled sailor. Walaupun sulit, pengalaman ombang ambing diawal mengajarkan saya agar lebih tenang. Dan saya hobi sekali menceritakan ini ke ibu-ibu yang hamil, hehehe...bukannya menakut-nakuti tapi memberikan sudut pandang pragmatis dalam parenting agar calon ibu lain lebih tenang, percaya diri, dan tidak lupa mencintai diri sendiri dalam menjalani masa-masa awal menjadi mama.

Satu statement yang sekarang menjadi pegangan saya, A Happy Mother makes A Happy Family. Jadi mama-mama jangan lupa sayangi diri sendiri yaa. Ketika kita bahagia bukan saja ASI lebih lancar...tapi yang terpenting keluarga kita juga bahagia.