Konektivitas Semu

“Aku terhubung denganmu dengan sangat cepat, dengan proses-proses yang tak dapat dilihat, berlalupun begitu,dikhianati indera yang tertinggalkan, semu.”

Terbesit dari bertambahnya hari mungkin saja sudah banyak belajar, tapi ternyata memang kata belajar dan keterbatasan individu ini tak pernah ada habisnya. Satu hari berlalu dan lagi-lagi saya baru menyadari bahwa ada yang tersia-siakan dari banyak perjuangan. Bukan maksud untuk menyesali, hanya saja kan memang kita harus merefleksi diri. (yes, sok bener)

Malam ini, biarkanlah saya mengenalkan diri sebagai sosok yang mungkin jika boleh dan dapat saja digolongkan sebagai seorang yang primitif, melupakan keuntungan kemajuan teknologi (seperti saat mengetik tulisan ini) dan berpura-pura menggenggam nilai-nilai terdahulu, saya malam ini akan menutup diri dari kenyataan bahwa saya bisa saja keluar dari gua (yang kapan saja diberi pasokan telanan) dan mencari sendiri apa yang saya butuhkan . Jika memang iya diizinkan begitu, marilah hentikan basa-basi di atas ini dan mulai saja membicarakan apa yang sebenarnya ingin sayabicarakan (atau mungkin lebih tepatnya tuliskan)

Hari ini saya habiskan dengan seperti biasa, ketawa ketiwi sana sini, bosan sedikit-sedikit, menyantap sajian-sajian manis teman-teman pers yang terhormat yang entah kenapa isinya “Aurel ikut UN paket C, dihujat netizen”, atau “siswi yang ngaku anak Jendral ancam turunin pangkat polri dikecam netizen” dan menurut saya yang paling informatif adalah fakta kematian Irma Bule yang ternyata dipatok ular King Kobra saat pentas(paling tidak kita tahu bahwa kalo menyanyi jangan sama ular), kemudian kegiatan saya lanjutkan dengan kuliah kemudian menghabiskan setengah malam bersama sejawat yang ‘berdiskusi’ untuk entah apa itu tujuannya ‘saya juga kurang tahu atau mungkin lupa’ dan semoga saja bermanfaat.

Setelah kembali ke rumah dan mendapati jam menunjukkan waktu lewat tengah malam, saya bertanya-tanya malam ini, mengapa semua hal-hal tadi berlalu begitu cepat? (mungkin ini karena memang saya buang-buang waktu)

Anggap juga diri saya malam ini tidak hanya primitif namun juga senang berdalih, sehingga saya menyalahkan sebuah realitas hubungan yang fana hingga menyebabkan waktu berlalu begitu saja tanpa terjadi apa-apa.

Saat saya merenungkan apa yang terjadi (lagi-lagi membuang waktu), hal yang pertama kali saya ingat dari rentetan kejadian hari ini adalah mata kuliah Kewarganegaraan(KWN) yang diisi oleh Bapak Ronny, selaku dosen mata kuliah tersebut. Selayaknya kewarganegaraan, Beliau menyampaikan materi KWN berikut nilai-nilai kenegaraan Republik Indonesia. Berawal dari semangat perjuangan 1945, dimana diceritakan Proses Proklamasi Kemerdekaan yang ternyata tak berapa lama setalah 6 baris tulisan tangan Bapak Soekarno dengan sedikit coretan (yang kalo diketik ternyata itungannya cuma 4 baris dan ternyata juga cuma dua kalimat) tersebut dibacakan, terjadi pertumpahan darah luar biasa. Yang mana sisi baik orasi dari seorang Bapak Negara tersebut mampu memicu semangat juang seluruh rakyat Indonesia dan wala! Merdekalah kita sekarang (pura-puranya)

Pertanyaan pertama saya :

Bagaimana seorang Soekarno mampu membuat seluruh masyarakat Indonesia rela bertumpah darah melawan penjajahan hanya demi 6 baris kalimat -yang ada coretannya- dibacakan? Toh, faktanya pada waktu itu kita sudah dijanjikan sebuah kemerdekaan.

Kemudian, saya kembali mengingat lagi apa yang terjadi pada hari ini dan ternyata hal kedua yang saya pikirkan adalah berita-berita yang saya baca hari ini, diantaranya adalah berita-berita terkait Jupe Gundul, Marshanda sudah post d IG foto sama Bapake, siswi SMA yang ngancem nurunin pangkat polri gegara distop konvoi dengan embel2 bapake jendral. Waaah, saya baca satu-satu berikut komentar-komentarnya. Antusias sekali ya orang-orang(termasuk saya)! bravo! Memang sih, apalah yang lebih menarik daripada info tentang Aura Kasih ngepost lagu galau di Path pertanda putus dari Glen Fredly.

Tapi, jadinya saya memunculkan pertanyaan kedua :

Mengapa banyak sekali berita-berita ‘menarik’ seperti sekarang ini dan mengapa direspon dengan sangat antusias? Dimana ketenaran beritapun tidak bertahan dalam selang waktu tiga hari. Kemudian, masih saja ada hal-hal yang tidak lebih informatif seperti penolakan DPR menebus 10 WNI yang diculik di Philipina[1], atau fakta bahwa 47,1 Persen Tenaga Kerja Indonesia Lulusan SD ke Bawah [2] dan lain lain dan lain-lain yang dirasa tidak perlu diketahui oleh masyarakat luas, yang ‘untungnya’ juga tidak masuk dalam TOP news di media-media yang kini sering digunakan.

Kejadian ketiga adalah diskusi malam ini bersama teman-teman sejawat dalam sebuah organisasi yang mengaku berhimpun untuk mencegah kesia-siaan. Saya tidak terlalu ingin membahas konten dari diskusi yang kami lakukan, hanya saja pada intinya diskusi malam ini mebuahkan sebuah kesadaran sendiri bagi saya terkait apa yang sebenarnya paling saya inginkan dan bagaimana sebuah mekanisme ‘cepat’ akan membuahkan hasil yang cepat, dan hubungan itu…. membutuhkan penghubung yang tidak sekedar menghubungakan dengan cepat namun memberikan semua value tambahan dalam peningkatan kapasitas hal-hal yang saling dihubungkan.

Pertanyaan ketiga:

Apakah diskusi bersama-sama merupakan sebuah penghubung bagi orang-orang? dimana penghubung tersebut merupakan mekanisme peningkatan kapasitas melalui wadah untuk bersuara dan bertatap muka satu sama lain dalam ruang dan dimensi sama yang diharapkan mampu menciptakan sebuah kesadaran dan penambahan nilai-nilai kebenaran ataukah kemajuan teknologi adalah penghubung yang lebih baik mengingat kemajuan teknologi merupakan pengambil andil penghubung antara elemen-elemen di permukaan bumi ini?

Jawaban : (buat tanya sendiri, jawab sendiri, memang gila)

pertanyaan pertama : hasil renungan saya malam ini berujung pada opini saya sebagai individu(yang tentunya primitif) bahwa kerelaan betumpah darah tersebut memang bukan soal hasil akhir(toh hasil akhirnya adalah mati) tapi bagaimana sebuah proses perjuangan dan penderitaan panjang mampu membuat kamu sadar bahwa kematianmu ini akan membawa kehidupan yang lebih baik dan orang lain tidak perlu merasakan darah sendiri mengalir dari kepala hingga ujung kaki di masa yang akan datang, proses di dunia nyata ini membuat kamu mau berjuang karena dengan mata kepalamu sendiri, kamu melihat teman disamping juga berjuang bertumpahkan darah.

Sayangnya yang kini saya rasakan adalah akibat kemajuan media-media di balik layar kaca, dan yang lebih banyak tipu-tipu dayanya, jarang-jarang orang percaya pada perjuangan orang lain, yang sering kali “pesan-pesan di balik layar” tersebut jadi abaian sebab “ketidakmampuan” merasakan kebenaran “pesan” yang disampaikan tersebut. Tentu hal tersebut menunjukkan kritik besar oleh saya terhadap penggunaan media digital (secara berlebihan)tersebut apabila memang digunakan dengan embel-embel untuk membuat suatu pergerakan di masa kini atau menjamah apa yang biasa kita kenal dengan hati. Adapun sesungguhnya, kebaikan mempunyai metode sendiri yang tidak bisa dipukulratakan dengan sebuah media yang abstrak.

Lambat laun kamu akan sadar, bahwa proses yang semakin cepat sekarang semakin tidak memiliki dampak pada perasaan, karena datang begitu cepat dan mudah. Jika kemarin Pak Soekarno memutuskan untuk mengirim Line News Diggest teks proklamasi untuk memproklamirkan kemerdekaan dan bukan membaca dan berorasi memotivasi seluruh bangsa Indonesia, mungkin hingga sekarang saya masih sembunyi di balik bilik takut kalau-kalau penjajah datang(padahal sampai saat ini juga masih dijajah diam-diam) dan menyiksa keluarga saya. Ini bukan soal keuntungan dari sharing information atau faedah lain dari penggunaan teknologi,karena saya juga tidak bilang kita tidak butuh, mengingat persebaran informasi kemerdekaan pun dilakukan lewat radio.

Ini adalah soal bagaimana ada sebuah fungsi pada masing-masing metode untuk berbicara pada manusia, berkomunikasi dengan manusia dimana ada metode yang disebut ‘proses yang bertahap’ yang membuat kamu rela untuk merubah apa yang diyakini sebagai ‘bukan kebenaran’ menjadi “kebenaran” bahkan jika harus berlumur darah sendiri. Ada pula metode untuk menduplikasi atau menularkannya, yang dalam konteks ini bisa dibilang orasi Soekarno berbanding dengan persebaran kemerdekaan lewat radio. Metode-metode memiliki funsgi sendiri yang tidak bisa disamakan, tidak bisa dicampur adukkan karena mengakibatkan ketidatersampaian tujuan dari apa yang dilakukan. (jika memang ada tujuan)

Jawaban kedua :

Dalam opini saya, media tidak lagi berfungsi sebagai pemberi informasi yang dibutuhkan namun hanya memberikan yang diinginkan. Pers yang sudah kehilangan kepercayaan dari masyarakat akibat banyaknya kasus suap menyuap. Itu mungkin salah satu penyebab mengapa sensitivitas masyarakat terhadap perkara yang penting(jika kata ini bisa didefinisikan secara objektif) sudah menurun (terutama buat yang ngaku2 maha nya siswa). Informasi yang penting tersedia bagi mereka yang mau mencari, itupun harus pandai memilah karena bisa jadi tertipu oleh argumentasi-argumentasi tidak bertanggung jawab(yang seperti tulisan saya ini) sedang mereka yang tidak mencari, mungkin bukan kerena mereka tidak peduli tapi lebih karena terbuai oleh berita-berita yang sudah disediakan oleh pihak yang bersedia menyediakan. wkwkwk yang ramai dan hot yang diberitakan.

“Makanya karena yang ramai komen netizen, yang diberitakan sekarang adalah apa komen netizen terhadap sebuah isu bukan lagi apa fakta dibalik isu.” Berita menjadi seaneh itu (bagi saya) dan berlalu begitu saja (karena tidak tahu, jika tahupun untuk apa)

dan mungkin saja memang saya yang aneh, karena setidaknya saya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencari tahu berita tentang reklamasi ketimbang Irma Bule kepatok kobra.

Jawaban ketiga :

pertanyaan nomer tiga mengarahkan saya pada sebuah konklusi dimana saya merasa jika media mengaku-ngaku sebagai penghubung antara pihak-pihak yang saling membutuhkan hubungan, sudahkan media memberi suatu nilai tambah pada masing-masing yang dihubungkan dan seberapa jauh sudah memberikan nilai tambah tersebut? (dalam konteks kemanusiaan, karena memang sering kali membawa embel-embel kemanusiaan *loh memang apa itu kemanusiaan?). Tentu saja ini membicarakan media sebagai pihak,(pengelola media) bukan sebagai benda mati. Jika memang tidak memberi, harusnya berfungsi seperti apa dan mengapa harus ada pihaknya? Bagi saya, menjadi penghubung dan jaringan tidak secepat dan sesederhana itu.

(Kalo dipikir-pikir ada kaitan yang lebih panjang lagi ya ini kalo dikaitin dengan gojek atau uber, tapi yaudahlah ya *soal kebermanfaatan penghubung dalam konteks kemanusiaan*)

Maka dari itu, saya merasa malam ini bahwa :

Selalu ada harga tertentu untuk sebuah perjuangan dan pengorbanan. Ketika kamu mendengarnya dan melihatnya, seluruh jiwa rela berkorbankarena paduan indera sanggup mengirim pesan pada nurani untuk menggerakkan kita dan ketika kamu hanya melihat tulisannya, ya “cukup tau saja” dan oleh sebab itu banyak yang kini suka berbicara tapi enggan berbuat sesuatu karena dia tau tapi dia tidak mengerti atau dia tidak cukup peduli karena tidak tersentuh nuraninya akibat koneksi cepat dan semu. (maafkan asumsi yang berlebihan ini dan mungkin ini refleksi untuk saya sendiri jika saya memang begitu juga)

Dalam tulisan ini, saya hanya berpikir, tanpa data yang konkrit (mengingat saya sedang pura-pura berada di dalam gua) elemen-elemen di dunia yang kita kenal sekarang ini dihubungkan oleh sebuah jaringan bernama konektivitas semu, dimana jaringan tersebut memberikan sebuah efek super cepat dalam pemrolehan informasi, dimana kita, orang per orang sudah tak perlu lagi saling mendatangi untuk menyampaikan suatu perihal dan hal ini tentu saja banyak baiknya dan banyak pula buruknya bagi saya. Di satu sisi, kemajuan media ini memberikan kita sebuah wadah untuk mencari sebanyak-banyaknya, namun media ini pun menawarkan banyak tipu-tipu informasi.

Di satu sisi ini mempermudah silaturahim kita dengan keluarga, di sisi lain hal ini membuat kita lupa untuk saling berkumpul dan merasakan ‘keberadaan utuh dan nyata’. Sebegitu dekat mereka di layar kaca, setelah sadar, mereka hanya sebegitu jauhnya. Semu

Di satu sisi, kamu tahu ada kejadian A.B.C di daerah D.E.F yang sangat jauh, tapi dua hari kemudian kmu lupa ada apa sebenarnya. Semu.

Di satu sisi, kamu bisa merasa sedih lihat pesan orang lain, sedetik kemudian kamu lupa apa masalahnya atau bahkan kamu tidak merasakannya sama sekali tapi iya bilang turut sedih. Semu.

Di satu sisi, kamu bisa saja mengabaikan karena orangnya tidak di dihadapkan secara langsung wkwk

Saya merasa, ada hal-hal perih yang tidak dapat saya rasakan atau bisa jadi saya salah rasakan karena saya tidak turun dan lihat langsung. Sejujurnya ini keresahan saya sejak lama, hanya kebetulan berhubungan saja atau mungkin saya hubung-hubungkan saja?

Seperti inikah hubungan yang sedang saya dan orang-orang yang sedang berhubungan dengan saya jalani? (semoga masih dari sudut pandang sebagai manusia)

Semoga tulisan ini adalah opini saya yang salah, sehingga mungkin lewat diskusi saya tahu kebenarannya.

Karena cepat dan mudah saja tidak cukup.

Dalam gua,10 April 2016 (ditulis bukan pada hari diterbitkan)

Membuang waktu untuk resah

Manusia yang berharap jadi primitif dan selalu merasa tidak cukup wkwk

Like what you read? Give Sita Primadevi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.