Tolong Beritahu Saya

Jajanan enak emang-emang

Aku tak memberanikan diri berdiri atau bahkan bersuara sebagaimana biasanya aku meneriakimu dalam malam-malam panjang yang kita miliki. Hari ini aku berdusta, mengaku cukup hanya duduk di kursi A.

Kalimat kedua, dipersembahkan untuk ibu. Mohon maaf karena anakmu membolos di tengah pelajaran untuk menyaksikan kenyataan.

Untuk malam ini, saya akan berperan sebagai penonton. Penonton film yang ditayangkan di bioskop-bioskop kesayangan, atau penonton dari buku-buku yang tengah saya khayalkan. Entah ditulis, entah dilakonkan, entahlah apapun itu dan saya menulis ini untuk menceritakan kembali apa yang saya tangkap dari apa yang saya saksikan.

Opening song buat tontonan saya kali ini adalah lagu Another Rainy Day-Corinne Bailey Rae… yang liriknya manis-manis

Why am I so shy around you?

Why am I so shy?

Why do I take care to astound you?

Why do I even try?

Another rainy day

We sat inside by the radiator

Watching old black and white films

Where everybody sang

Gitulah ya inti lirik yang saya dengar… saya tidak begitu fokus pada bagian lain, kecuali bagian itu (karena diulang-ulang)

Setelah opening song berakhir, film mulai diputar.. saya menyimak dengan seksama, sesekali menggurutu dan tertawa seperti kebanyakan orang saat menonton sebuah film.. Pada bagian-bagian tertentu tentunya begitu hingga pada akhirnya saya menangis dan memutuskan pergi dari bangku yang saya duduki.

Apa yang saya saksikan adalah sebuah tayangan yang tidak memiliki tokoh utama. Jikalau ada sekalipun, ini adalah bagaimana saya menginterpretasikan tayangan ini sendiri dan saya, memilih untuk tidak menganggap bahwa ada “pemeran utama” dalam tayangan ini.

Tayangan yang saya lihat menunjukkan sebuah aksi demonstrasi oleh Pedagang-pedagang kaki lima, (sebagian orang berfikir bahwa ini film yang tidak menarik, untuk saya, saya sudah terlanjur beli tiketnya jadi saksikan saja). Pedagang-pedagang ini menolak relokasi akibat kerugian pasca relokasi, relokasi dilakukan karena sebelumnya PKL memakan trotoar sehingga mengganggu akses pejalan kaki. Kebetulan daerah situ juga jadi macet.

Pagi hari, sekitar pukul delapan

Beberapa orang berkumpul, poster-poster sudah tersebar di berbagai media.. PRISMA tulisannya.. “Kamu.. ikut ga?” katanya. “kemana?”, “demo.”, “Ah ya” kata seorang perempuan menyadari bahwa ini harinya. Setelah dia mengikuti kabar-kabar berikut kicauan-kicauan meskipun belum sekalipun ke jalan. Berbagai tulisan sudah dipublikasikan baik untuk mengajak, atau sekedar berbagi informasi. Tapi dia masih menunggu. Seorang kemudian menimpali “Apa yang kamu cari?” “Nilai kemanusiaan, aku adalah bagian dari mereka.”kata lainnya.

Ah begitu rupanya, setelah melihat-lihat publikasi dan mendengar berbagai cerita. Saya menggerutu seperti biasa, membicarakan tokoh dalam film tersebut, Bagaimana pula, apa dia tahu apa yang dia lakukan?

“Kemana saja? Hei belum tentu dia benar. Jika dia bicara soal kemanusiaan, memangnya sudah tau fakta apa kamu? Jika seperti itu, Kota kita yang berantakan. Pemerintah sudah memikirkannya, kita tahu apa.” Diam sekali lagi. “Tapi tentu harus baik bagi semua, jika memang sudah dipikirkan, sampaikan, mengapa bisa seperti ini?” jawabnya. “tidak, tidak, kita tahu apa? Memang tidak ada cara lain selain demo? Kita kaum intelek, Saudara!” timpalnya lagi. “Penataan kota harus dilaksanakan. Itu menyangkut banyak aspek juga, mereka yang dibela itu belum tentu semenyedihkan itu.”

Kembali menggerutu. Jika memang kalian adalah kaum intelek dan jika memang mereka yang turun memiliki cara yang tidak tepat atau mungkin buruk, lalu kalian berbuat apa? Jika memang intelek, apakah diam saja adalah cerminan sang intelek? Sebagai penonton, saya cukup menyebalkan. Tapi di sisi lain, saya memikirkan, apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh pemerintah? Saya semakin menantikan bagaimana kisah ini selanjutnya..

Siang Hari

“PKL PASTI MENAAAANG!!” begitulah senandungnya. Banyak sekali tulisan-tulisan menarik, berapa diantaranya berteriak, “kami hanya butuh makan,” sambil terisak. “Kami tidak perlu mobil fortuner, kami butuh sesuap nasi dan uang sekolah untuk anak-anak kami.” “Jika memang ingin menata dan memeperindah kota, kami siap membantu, kami mau ditata tapi tolong dengarkan kami. Relokasi bukan solusi.“ Kerugian mereka mencpaai -145persen katanya “Bicaralah pada kami, terbuka, dengar apa yang kami butuhkan, jangan sepihak.”. Seorang berbadan besar berteriak, “Maju!! Ayo kita penuhi jalan ini.” Seluruh jalan tertutup. Tidak ada akses, dipenuhi oleh demonstran yang menginginkan pembicaraan. Sudah ada desain agar tidak mengganggu pengguna jalan katanya, biar bisa kembali ke jalan. Bapak-bapak penertib diam di depan membuat barikade acakadul yang terlihat tidak tahu harus berbuat apa. Pers-pers mulai mengambil banyak gambar, beberapa diantaranya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang malah meningkatkan emosi PKL.

Apa ini yang saya lihat? Hati saya mulai berdegup kencang. Jujur, menyaksikan ini membuat saya semakin bingung. Melihat isak tangis, saya merasa nurani saya terketuk dan tak tega membayangkan mereka sulit makan, sehingga saya mulai menangis. Tapi di sisi lain saya mempertanyakan apakah mungkin saja ini adalah bagian lakon? Mengapa saya harus menangis? Memikirkan saya yang malah berfikir bahwa mungkin saja itu lakon, saya lebih sedih lagi dan semakin menangis. Saya memeperhatikan sekeliling saya, mengapa tidak ada penonton yang menangis seperti saya? Beberapa diantaranya berbisik “Apa sih ini, dasar. Bikin ribut dan macet saja” Lah.. Apa ini? Apa yang saya pikirkan? Apakah hanya saya yang sakit hati dan kepalanya melihat ini? Ini memang bukan film yang biasa bagi saya. Saya terlalu sering nonton Snake vs Crocodile.

“Silahkan baca. Kepada mereka yang menganggap kota ini hanya diatur oleh saya saja. Justru di saat saya menjadi walikota, forum2 warga(sesuai keahlian) dibentuk untuk menasihati walikota dalam mengambil kebijakan agar pro publik. #Kotaadalahbukansaya” update pak walikota di socmed.

Watde! Pak wali, Anda salah, tapi bisa jadi saya yang penonton ini lebih salah lagi. Anda menyulut demonstran! Tidak, film ini semakin seru. Mungkin Anda memang belum sempat menyapa warga yang sedang bersuara, tapi jika Anda (dengan segala hormat) menyampaikan apa yang anda perlu sampaikan di socmed, Anda terkesan melarikan diri dan mencari impresi. Demonstran akan semakin kesal karena ditanggapi sinis. Mengapa anda tidak beritahukan saja rencana Anda? Saya tahu mungkin Anda punya etiked baik dan rencana yang lebih baik, tapi Ah… sayang sekali… Bagaimana respon demonstran kalo begini? pikir saya selagi lanjut menonton setelah lagi-lagi hanya berkomentar.

Esoknya, Sore Hari

Gerobak-gerobak di gotong masuk ke dalam balai kota. Ricuh semua. Katanya asal tertib, tapi kok diambil? Kan sudah sepakat tadi. Semua kebingungan. Rusuh semua.

“Hey, ayo kita ke GIM, si Nay dan Nau ditangkep polisi.” Salah satu relawan mengabarkan bahwa beberapa relawan dalam aksi demo kali ini tertangkap polisi. Sontak semua yang berada dalam ruangan itu panik dan kaget. Beberapa langsung berangkat ke GIM, beberapa lainnya menimbang-nimbang, takut-takut jika harus terkena imbasnya. Beberpa yang tinggal mulai mulai tidak tenang, “aku ingin lihat, aku harus lihat agar tahu dan mengerti.” ”Jangan. tunggu saja, ini tidak aman. Kita tidak tahu siapa yang benar. Kamu kan tidak tahu kronologinya bagaimana.” Dia duduk kembali. Mulai berdiskusi lagi. Kabar datang, ternyata hanya Nau yang tertangkap, itupun sudah dibebaskan. Malam ini akan diadakan pers conference. Semua kembali tenang. Sementara.

Malam Hari,

“Katanya Pak Wali sudah membuat rancangan, diam-diam sudah menggerakkan orang. Biar terlihat di layar kalau sudah disediakan yang layak, hanya pkl yang menolak. Membentuk opini.” Sampai oleh salah seorang relawan.

Aku menangis sekali lagi. Kenapa saling sinis? Bingung, apa yang terjadi dalam alur cerita ini. Para PKL dan relawan meneriakkan nilai-nilai kemanusiaan, yang kurasa benar. Hati nurani ku berkata, mereka benar, ini hanya demi sesuap makan. Pemerintah menjunjung ketatanan kota, bagaimana agar semua tertib, aman, dan terkendali, “ini soal hak pengguna jalan.” Katanya. Baiklah begitu rupanya,dia benar juga. Aku melirik pada Perguruan Tinggi, sunyi senyap, dijunjungnya nilai netral, tak perlu memihak. Bagaimana dengan pers sebagai pembentuk opini publik? Menjunjung nilai apa yang ia yakini atau yang publik inginkan untuk diyakini?

Tiada lagi yang saling percaya, yang ada saling tunjuk. Sedih sekali.

Sial! Tonontonan macam apa ini?!

Jika setiap orang memegang nilai yang diyakininya masing-masing, bagaimana bisa padu satu? Teriak saja untuk berkelahi satu-satu, tidak akan pernah benar. Makanya saya bilang Pancasila sekarang dipikul dengan pincang, jika dulu dibangun demi keluhuran nilai-nilai perjuangan, sekarang bagimana? diatasnamakan oleh memegang nilai kemanusiaan tapi tetap tak bisa lepas dari mekanisme pasar, akibatnya yang kecil tertatih merintih yang menengah menyerah dan yang besar, kebesaran. Serba-serbi setengah-setengah, kecilnya dibangun di nina boboin harus menjaga nilai-nilai, apalah itu, kemanusiaan, musyawarah mufakat, apa itu? Saya tanya, karena lupa atau tidak tahu. Saya tidak mengerti nilai mana yang harus lebih didahulukan dari nilai yang mana jika setiap pemangku kepentingan membawa nilainya sendiri-sendiri.

Jika memang penataan dan keindahan kota memberikan dampak yang besar di masa depan, beritahu pada saya apa yang akan terjadi dalam jangka panjang, atau paling tidak apa yang direncanakan agar semua aman sentosa. Jika memang kemanusiaan adalah patut dijaga dan dijunjung, tolong tunjukkan pada saya, bagaimana anda mengatasi efek dari pembelaan yang anda lakukan, bagaimana hak-hak orang lain yang perlu memeroleh kenyamanan? Jika memang Perguruan Tinggi adalah kaum intelek netral yang menjadi sebuah penyelesai masalah, dimanakah PT di saat seperti ini? Bahkan mahasiswa pun tak bisa bebas menunjukkan taringnya (Netral=Diam, Problem solver=?). Jika memang pers adalah penyaji fakta, dimanakah kenyataan yang saya cari? Terus saja opini-opini sana sini.

“saya apresiasi, orang-orang yang tahu dimana mereka berdiri mengetahui dan mengerti, menggenggam erat nilai yang mereka perjuangkan. Saya iri, karena ketidaktahuan saya, karena saya tidak kunjung mengerti dimana saya harus berdiri. Sebab itu, saya tidak berani dan duduk sebagai pengecut penyendiri.”

Di sinilah saya merasa seperti bayi, yang tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti apa-apa. Hanya merasa ada yang tidak benar, entah itu lapar, atau risih karena kepesingan, tak bisa berbicara apa-apa, kemudian menangis (lagi).

“Hey, kamu yang menonton saja, diskusi sana-sini, menggerutu, berkomentar dan resah, kapan kamu akan berdiri dan menulis ceritamu sendiri jika memang kau pikir cerita ini membuatmu sakit hati? Cepatlah cari tahu dan mengerti agar tak sekedar mengetahui, jangan lari.”

Saya berdoa bahwa ending dari tayangan ini adalah tidak ada satupun pemeran antagonis. Saya berdoa semoga semua bisa berbicara dengan layak dan mengerti satu sama lain, hanya bagian dari proses saja. Saya berdoa demi sebaik-baiknya nasib bangsa Indonesia, sejahtera, aman dan sentosa. Saya berdoa, smoga kita semua sehat-sehat saja dan masuk surga (jika ada)!

Aamiiiin.

17416

REFLEKSI,

Saya siapa dan harus bagaimana?

tolong beritahu saya

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Sita Primadevi’s story.