Sebuah Pelukan


“Time is what we want most, but what we use worst”- William Penns


26 juli 2015, 16.27


Hingga sebulan yang lalu, ia bangga akan keberaniannya, bangga akan kuat mentalnya, merasa paham esensi dari segala apa yang ia lakukan, “Bu, aku pulang ke Bandung pokoknya ga mau lebih dari tanggal 1 juli, banyak yang harus aku lakuin, banyak kegiatan yang harus aku ikutin, kalo engga ikut nanti repot kedepannya”, kata gadis itu pada ibunya, “Dek, kamu itu jarang-jarang pulang, ini kan Ramadhan, kumpul sama keluarga, jangan kegiatan kampus terus.” lembut jawab sang ibu. “Ibu mau adek dipersulit ospeknya?” dengan membawa alasan ospek yang akan dipersulit, ia tolak keinginan ibunya, pada kenyatannya ia hanya ingin terlihat kuat, aktif dan berani. Pulanglah ia ke kota dimana ia melanjutkan studinya, sendiri ia di sana dengan segala kegiatannya hingga di minggu terakhir ramadhan, datang kedua orangtuanya beserta kakak dan adik untuk lebaran di Bandung, di tempat neneknya.


Seminggu terakhir ramadhan


Ia habiskan waktunya untuk bermain bersama adiknya, yang bersilisih 12 tahun, memasak untuk keluarganya, dan memanfaatkan apa yang ia sebut dengan family time, dengan harapan, ia tidak perlu disuruh kembali ke kampung halaman setelah lebaran usai, mengingat tanggal akademik mulai masuk kuliah masih terlampau jauh. Hari demi hari berjalan, ia rasa sudah lama ia tak berkumpul keluarga secara lengkap bahkan sejak SMA. Memutuskan untuk mencari pendidikan yang lebih baik dengan pindah ke kota dan meninggalkan kampung halamannya, yang tentu saja setiap liburan ia isi dengan kegiatan sekolahnya, sama halnya dengan yang ia lakukan pada saat ini. Ia berkunjung ke berbagai tempat pariwisata bersama keluarganya, makan bersama, tanpa menyadari waktu saat berbahagia selalu berjalan lebih cepat.


17 Juli 2015, 19.30


Sebelum kepulangan keluarganya ke kampung halaman, bertanya sang ibu padanya, “Dek, ikut pulang yuk.”, “Lah bu, tiketnya kan belum dipesen, pasti penuh, terus tanggal 27 sudah mulai diklat.”, jawabnya dengan dahi bekerut, merasa kegiatan lebih penting dari sekedar pulang ke rumah. “Tanggal 26 kamu pulang, Mas kan jual tiket, bisa diatur itu gampang.” jawab sang ibu pelan. “Ndak usahlah bu, tanggung, adek juga belum ngerjain tugas.” alasannya yang tak mau berpikir panjang.


19 Juli 2015, 21.00


“Dek, kue yang kamu buatin waktu itu enak banget, ibu pengen rasanya bawa pulang, tapi udah jam segini ya hahaha” canda sang ibu ringan sesaat sebelum tidur, ia yang waktu itu hanya diam dan tersenyum. saat ibunya terlelap mulailah ia membuat kue kesukaan ibunya, entah apa yang membuatnya tergerak, tapi ia hanya membuatnya, agar ibunya senang, karena besok sudah mau pulang.


20 Juli 2015, 04.00


“Bu, tadi malam adek bikinin kue, ini dibawa bu.” katanya pada ibunya yang terlihat sedikit terharu dan khawatir anaknya menghabiskan malam untuk membuat kue, “asiiik, duh ibu ndak sabar makannya, tapi nanti aja di jalan” jawab ibunya.


04.45


“Dek, ibu berangkat dulu ya, kamu hati-hati sendirian di rumah, kunci-kunci,” pamit ibunya, “iya bu” diciumnya tangan si ibu, sang ibu pun memeluknya sambil berkata “Makasih ya dek waktunya” sontak ia pun terpukul, pelukan yang sudah sekian lama tak ia rasakan karena jarang pung, jarang bertemu, kata-kata lembut dari ibunya yang berterima kasih padanya atas waktu yang seharusnya dimiliki oleh sang ibu sepenuhnya sebagai orangtuanya dan rasa bersalah untuk selalu merasa kuat dan memberikan prioritas lain. Tak ingin merusak suasana, ia tahan tangisnya, masih berusaha tampak kuat. Saat mobil telah melaju dan pintu kembali terkunci, pecahlah tangisnya. Sadar betapa rindunya ia pada keluarganya, sadar bahwa tak kuat ia tanpa mereka, sadar bahwa terlalu banyak waktu yang ia habiskan untuk sesuatu yang tak lebih berkorban untuknya.


Ketika menulis cerita ini saya merenung, bahwa kehidupan tanpa prioritas, tujuan ataupun perasaan menyukai apa yang kita lakukan hanya akan membuang-buang waktu, kehidupan yang hanya memikirkan rasa aman untuk diri sendiri dan angkuh hanya membuat kenangan yang pahit. Seolah kita kekurangan waktu, seolah waktu memberi kita sedikit kesempatan, padahal kita yang menyalahgunakan. Cerita di atas, adalah renungan saya, yang kecewa pada diri saya yang terlalu ambisi mendapatkan semua secara material. Pendidikan, sosial, dan eksistensi. Saya lupa bahwa saya mempunyai hal lain yang tak kalah penting ,keluarga juga teman-teman lama. Saya malu untuk menjadi terlalu merasa kuat dan dapat diandalkan. Terakhir, mungkin setelah saya merasakan sendiri, saya akhirnya sadar bahwa mulai menyusun skala prioritas sesuai dengan waktu sangatlah penting. Yang dibutuhkan adalah sadar kapan kita harus kembali ke rumah dan kapan kita harus mengabdikan diri pada masyarakat.


Karena waktu berjalan lambat bagi orang yang menunggu, berjalan cepat bagi orang yang takut, begitu panjang bagi orang yang berduka, pendek bagi yang berbahagia, dan untuk orang yang mencintai apa yang ia lakukan, waktu adalah keabadian.