Pengaruh E-Money Terhadap Kinerja Ekonomi (Studi Negara Terpilih)
Oleh Thomas Soseco University of Waikato
Siti khusnul khotimah
- Pendahuluan
Dibandingkan dengan negara lain, penggunaan sistem pembayaran non tunai di Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Akan tetapi sejak 2008 Bank Indonesia menghitung bahwa ada peningkatan transaksi nominal menggunakan e-money. E-money dapat digunakan dalam layanan parkir, pembayaran jalan raya, layanan kereta api, dan pembelian barang dan jasa. E-money juga terintegrasi dengan karti ID kampus atau perusahaan. Kondisi tersebut adalah kegiatan menarik untuk menggunakan uang elektronik sehingga penggunaan uang elektronil atau e-money yang lebih luas tersebut dapat meningkatkan kinerja ekonomi.
E-money sangat populer karena kemampuannya untuk mengatasi transaksi dalam jumlah kecil dan sering. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa e-money berguna untuk membayar biaya transportasi umum, bioskop, restoran, dan membayar denda serta pajak. E-money juga berguna dalam pembelian barang dari toko online (Riel, et al, 2002).
Pembahasan
E-money adalah salah satu cara transaksi dalam masyarakat tanpa uang tunai. Bersama dengan kartu kredit dan debit, emoney tampak sebagai masa depan uang. Dibandingkan dengan kartu kredit dan debit, emoney menawarkan fitur yang lebih baik dalam kecepatan transaksi dan kenyamanan. Dengan demikian, banyak negara hampir tidak mempengaruhi warganya untuk menggunakan uang. Dengan mengurangi penggunaan uang kertas, transaksi akan berjalan lebih cepat dan lebih besar. Oleh karena itu penting untuk mengeksplorasi bagaimana uang mempengaruhi kinerja ekonomi di satu negara.
Penelitian ini membandingkan penggunaan uang dan pengaruhnya di antara beberapa negara dengan menggunakan data yang diterbitkan oleh lembaga internasional. Penelitian ini menemukan bahwa emoney memainkan peran lebih besar di negara-negara yang relatif kecil, dalam hal ekonomi. Di sisi lain, di negara-negara ekonomi besar, emoney menunjukkan signifikansi yang kecil (IcoMS, 2016).
Ada kelemahan yang dimiliki uang elektronik sehingga ada kekhawatiran terhadap e-money sehingga ada beberapa negara yang takut untuk menggunakannya. Diantaranya yaitu dalam hal keamanan. Misalkan misal konsumen kehilangan uang elektrinkanya maka orang lain dapat dengan mudah menggunakannya, karena pada fitur uang elektronik tidak ada otorisasi keamanan seperti pada kartu ATM atau debit.
Salah satu cara untuk mengevaluasi pembangunan satu negara adalah pertumbuhan ekonomi (Todaro, 2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah kapasitas inkremental jangka panjang suatu negara untuk menyediakan barang dan jasa kepada warganya. Menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan kesejahteraan warga negara, yang diukur dalam output perkapita, pendapatan perkapita, rata-rata tahun pendidikan, lematian bayi, atau kondisi gizi.
Pendekatan dasar untuk mengukur ekonomi suatu negara adalah produk domestik bruto (PDB). PDB adalah nilai output yang diproduksi di dalam negeri dalam kurun waktu 12 bulan (Sloman, 2006). Metode pertama ini dikenal sebagai metode produk. Produksi barang dan jasa menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga dalam bentuk upah dan gaji, keuntungan, sewa dan bunga. Karena itu, metode kedua untuk mengukur PDB adalah menjumlahkan semua pendapatan ini. Ini dikenal sebagai metode pendapatan. Ketiga berfokus pada pengeluaran yang diperlukan untuk membeli produksi negara. Sehingga dalam model sederhana tersebut dari aliran sirkuler pendapatan, tanpa suntikan atau penarikan, apa pun yang diproduksi dijual. Nilai dari apa yang dikeluarkan karenanya harus menjadi nilai dari apa yang diproduksi.
- Tabel 1. Hubungan Antara Beberapa Metode Pembayaran dengan Pertumbuhan Ekonomi.

Catatan : UMC = negara-negara berpenghasilan menengah ke atas (Brasil, Cina, Afrika Selatan), HIC = negara berpenghasilan tinggi (Australia, Belgia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Korea, Meksiko, Belanda, Rusia, Arab Saudi, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, Amerika Kerajaan, dan Amerika Serikat) .
Di negara-negara berpenghasilan tinggi, memiliki e-money hubungan positif dan sedang mengalami pertumbuhan ekonomi.
- Gambar 1.Dompet Elektronik

Gambar 1. menunjukkan bahwa Belgia, Jerman, Austria, dan Belanda memiliki jumlah dompet elektronik yang relatif tinggi per sepuluh penduduk dibandingkan dengan yang di Portugal, Finlandia, Denmark, dan Spanyol. Tetapi penggunaan e-purse di Jerman, Austria, dan Belanda sangat rendah (kurang dari 0,5 transaksi per kartu). Di Portugal dan Denmark, penggunaan per kartu relatif tinggi (di Denmark lebih dari 10 transaksi per kartu), tetapi penetrasi pasar sangat rendah. Ini menyiratkan bahwa e-purse dianggap berhasil jika mencapai penggunaan tinggi per kartu, bukan penetrasi pasar yang tinggi.
Sedangkan di negara-negara berpenghasilan rendah seperti India dan Indonesia, e-money memiliki hubungan positif dan kuat dengan skala ekonomi. Ini berarti bahwa e-money dapat menjadi lebih besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Masih ada potensi pangsa pasar yang luas di negara-negara berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, uang elektronik tumbuh dengan baik di negara-negara tersebut. Indonesia adalah contohnya. Bank Indonesia menemukan bahwa ada peningkatan nilai transaksi menggunakan e-money dari 76,675 miliar rupiah pada 2008 menjadi 3,319 triliun rupiah pada 2014.
Kesimpulan
Kemajuan e-money di negara berpenghasilan rendah dan negara berpenghasilan menengah dapat tumbuh dengan baik seiring meningkatnya perekonomian. Sedangkan di negara-negara yag berpenghasilan tinggi e-money mengalami kondisi yang kurang baik. Sehingga itu adalah peluang bagi pemerintah di negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk meningkatkan penetrasi dan penggunaan uang elektronik. Sementara pada saat yang sama dapat membangun infrastruktur yang lebih baik dan lebih dapat didistribusikan.
- Referensi
https://www.researchgate.net/publication/321069476_Effect_of_e-Money_to_Economic_Performance_A_Comparative_Study_of_Selected_Countries
