heartbreak.

mungkin tempat tidur usang ini adalah satu satunya sandaran terakhirku, agar angin tak perlu tahu keluhanku yang tidak berbeda dari seorang anak kecil yang tidak bisa menahan rasa kecewanya dengan menutupi wajahnya dipangkuan ibunda.

sebanyak apapun patah hati yang dialami seorang manusia, patah hati adalah patah hati. sensasinya tidak akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. sama seperti jatuh cinta, patah hati juga tidak berparameter. tapi anehnya, manusia memiliki rasa untuk bisa mengukur seberapa dalam luka seseorang lainnya.

patah hati berawal dari sebuah paradoks. karena pada dasarnya rasa tidak tercipta dari sebuah logika. meskipun keduanya adalah bagian dari semesta.

saat semua ini menyerang, waktu terasa berhenti. cakrawalamu berubah menjadi abu abu. tetesan hujan terasa lebih padat. musik kesukaanmu tak lebih dari sekedar suara bising yang membuatmu semakin kesal.

tak ada yang bisa kau jadikan pegangan. bahkan untuk berpijakpun bumi seperti tak merestui. sel sel otakmu tak lagi bisa bekerja sama. zat zat kimiawi dalam tubuhmu berkhianat. satu satunya teman sejatimu saat itu adalah kesunyian. kau duduk terdiam, berharap bisa sedikit memutar waktu untuk mengurut ulang tepat dimana segala konflik antar premi ini terjadi.

rasanya seperti membedah luka tanpa anestesi. sakit yang mencekam berada setingkat dengan kesadaranmu. jeritan jiwamu terdengar sesaat torsi dan speedometer kendaraanmu tidak seirama. saat itulah kau sadar bahwa dirimu terluka.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Sleeping Kaijuu’s story.