Romansa 3 Warna

aku duduk di lantai dapur, menikmati pisang rebus yang baru saja di hangatkan sisa pengajian semalam. minggu pagi menjadi satu satunya pelarianku dari rutinitas yang semakin hari semakin menggerogoti ragaku, mengeryitkan jiwaku, dan sedikit demi sedikit melunturkan segala mimpi mimpi besarku. tapi pisang rebus ini, seolah menjadi obat mujarab dari segala permasalahan hidup yang seketika akan sembuh hanya dalam satu-dua kali gigitan. sinar matahari pagi masuk menembus atap fiber bening menyinari sudut sudut gelap yang biasa dijadikan sarang serangga serangga kecil.

tepat di atas kepalaku, ada burung cucak hijau, menemaniku menghabiskan pisang rebus lezat nan ajaib ini bersama kicauannya yang semakin hari semakin merdu. tidak banyak hewan peliharaan yang bisa hidup lama di rumah ini selain kucing dan burung. sepertinya kami sekeluarga memang tidak berbakat dalam memelihara hewan yang memang butuh ketekunan dan ketelitian agar mereka bisa tetap hidup. kami memang selalu kesulitan untuk menjaga sebuah kehidupan agar tetap hidup, selain dengan melepaskan dan percaya bahwa mereka tidak akan kabur atau mengkhianati orang yang sudah mempersembahkan segala kebaikan padanya.

dalam keheningan, si burung memulai pembicaraan denganku. ya, bahkan dengan burung pun aku kalah, soal bagaimana memecahkan kesunyian.

“ada cerita apa nih minggu ini?” si burung mulai bertanya.

aku hanya bisa menggelengkan kepala pertanda tak terjadi hal hal yang tidak biasa dalam seminggu ini.

“hmm……” si burung memandangku dengan rasa curiga seolah ia tidak percaya.

“ya emang maunya gimana? biasa aja kali.” tak kalah aku mulai membela diri, dengan harapan si burung dapat percaya atau setidaknya menghentikan segala rasa penasarannya.

“gimana kerjaan? lancar?” si burung bertanya lagi.

aku menganggukan kepalaku. berharap segala pertanyaan tidak penting ini segera berakhir dan aku kembali melanjutkan memakan pisang rebus ini.

si burung terdiam. sepertinya dia kehabisan ide untuk dipertanyakan padaku. ya, misi berhasil. kami kembali kedalam keheningan pagi.

tak lama setelah burung ini bungkam, datang si kucing. dia mengeluskan kepalanya di kaki ku yang mengisyaratkan rasa laparnya. dengan segera kuambil sisa sisa tulang bekas makan semalam.

setelah selesai melahap semua makanan yang kuberikan padanya. si kucing terdiam, duduk dengan santainya sembari memperhatikan wajahku dengan penuh kecurigaan.

“apa?” tanyaku.

si kucing menggelengkan kepala. “kusut banget? lagi ada masalah ya?”

“nggak.” ucapku dengan nada yang sangat terdengar denial.

“terus kenapa wajahmu keliatan nggak bahagia begitu? keliatan kali.” deg. sebegitu tergambarnya kah ketidakpuasanku pada hidup, sampai sampai seekor kucing pun menyadarinya.

aku terdiam. ya, aku kalah. aku mengakuinya. semua yang di prasangka-kan oleh burung dan kucing ini benar adanya. dan saat itu aku mulai bertanya tanya, apa yang membuatku tidak bahagia.

aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada dua mahluk ini. siapa tahu semua jawaban yang aku cari ada pada mereka pikirku.

“emang bahagia itu seperti apa sih? emang kalian bahagia?” tanyaku.

“ya. kami bahagia.” jawab mereka

“kok bisa? kamu kucing, punya rumah aja enggak. kamu burung, bahkan dalam sangkar mu yang kecil itu kamu masih bilang kamu bahagia?” tanyaku pada mereka.

“pernah dengar tentang cinta tiga warna?”

“cinta tiga warna?”

“ya, bahwa cinta yang ada di alam raya ini terdiri dari tiga warna dasar. sama seperti warna pada umunya”

“apa itu?” tanya ku dengan rasa penasaran yang semakin besar.

“yup. dari tiga warna dasar dari cinta ini akan lahir warna lainnya sampai akhirnya kamu menguasai semua warna di alam raya ini. dan saat itu kamu berada di kondisi yang manusia sebut dengan bahagia.”

“emang apa aja tuh?”

satu. cinta pada tuhan.

dua. cinta pada keluarga.

tiga. cinta pada diri sendiri.

“aku memang terjebak di sangkar kecil ini. tapi selama aku mencintai diriku sendiri, aku akan terus hidup, sampai akhirnya kau melepaskan ku agar aku bisa mencintai lebih banyak hal.” saut burung

“aku memang tidak punya rumah. tapi aku punya anak yang kucintai yang harus aku susui, dan untuk itu aku harus mencari makan.” ucap kucing

“sedangkan kamu, yang di berikan akal untuk hidup bebas, justru malah kebingungan bagaimana cara bahagia.”

“padahal kamu manusia, yang bisa menguasai 3 warna tersebut secara bersamaan. padahal kamu manusia yang bisa mencintai segala hal yang alam ini berikan dengan sempurna.”

“lalu jadikanlah tiga warna dasar ini sebagai alasanmu bernafas.”

ya. semesta diciptakan dari 3 spektrum warna dasar. merah, kuning, dan biru. ketiganya saling mengisi menghasilkan warna baru, dan warna baru juga saling mengisi menghasilkan warna yang baru lainnya sampai akhirnya terbentuk warna sempurna, putih.

begitu juga manusia. manusia memulai dengan mencintai penciptanya, mencintai orang orang di sekitarnya, dan mencintai dirinya sendiri. kemudian dari situ dia akan mencintai banyak hal lain yang akhirnya menghantarkannya pada cinta yang sempurna.

selepas perbincangan itu kemudian seketika semua terdiam tanpa kata. ternyata burung dan kucing itu tidak bisa bicara. ternyata semua pertanyaan dan jawaban itu adalah sisi alam bawah sadarku yang mungkin sudah bosan dengan bagaimana aku merasa kesulitan untuk bangkit, tiap kali takdir menginginkan ku untuk sedikit tergelincir pada satu masalah yang sebenarnya bisa dengan mudah ku hadapi. atau memang ini cara semesta menyampaikan rasa cemasnya.

dan akhirnya, dengan segala kesunyian ini, yang tersisa hanyalah bayanganku yang terproyeksi oleh sinar matahari yang semakin meninggi, dan sebuah kulit pisang.