POLEMIK ANTARA TINGGINYA INDUSTRI TEKSTIL DENGAN RENDAHNYA TINGKAT PENDIDIKAN DI DESA RAHAYU
Ahmad Sobari
15417103
Rahayu, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Margaasih yang mata pencaharian utama warganya adalah sebagai penjahit. Di desa ini, banyak sekali masyarakat yang berprofesi sebagai penjahit, baik itu pria maupun wanita, orang dewasa maupun anak di bawah umur. Saking banyaknya penjahit, desa ini menjadi pusat industri tekstil di Bandung, terutama yang berbahan dasar kain seperti topi, baju, jaket, celana, dan lain-lain. Selain itu, terdapat sentral kain yang menjadi bahan baku utama industri tekstil di desa ini sehingga memudahkan para penjahit untuk mendapatkan bahan yang bagus untuk industri mereka. Banyak toko yang menjual alat-alat untuk menjahit bermunculan di sekitar desa ini yang diakibatkan pesatnya perkembangan industri tekstil di desa ini. Selain itu, muncul juga jasa servis mesin jahit di desa ini walaupun penyedia jasa ini mendapatkan keterampilan untuk memperbaiki mesin secara otodidak atau belajar dari orang lain yang sudah lama berkecimpung di dunia ini, bukan belajar di tempat formal, seperti sekolah, yang akan memberikan mereka sertifikat atas kemahiran mereka dalam memperbaiki mesin jahit.
Meskipun desa Rahayu menjadi pusat industri tekstil di Bandung yang sudah sering didatangi oleh banyak orang dari berbagi daerah bahkan dari turis asing sekalipun, tetapi pemikiran mereka tentang sekolah tidaklah berubah. Mereka menganggap bahwa sekolah bukanlah hal yang terlalu penting dan menganggap menghasilkan uang jauh lebih penting. Oleh karena itu, banyak anak-anak yang diputuskan sekolah oleh orang tua mereka — terutama yang berasal dari kalangan yang kurang mampu — untuk bekerja dan mendapatkan uang, walaupun mereka baru mengenyam pendidikan di tingkat SD. Masih banyak anak yang ingin melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, tetapi harus mengurungkan niatnya karena tekanan dari orang tua mereka, tidak jarang anak yang belum lulus SD pun diberhentikan oleh orang tua mereka. Anggapan mereka adalah ilmu dunia itu cukup hanya sebatas membaca dan berhitung, setelah itu lebih baik bekerja dan menghasilkan uang sehingga mereka dapat membantu meringankan beban orang tua, yang berarti mereka berhenti sekolah untuk membaktikan dirinya pada orang tua mereka — berbakti pada orang tua merupakan sebuah keharusan seorang anak, tapi jika memberhentikannya sekolah karena alasan tersebut, dirasa merupakan pelanggaran HAM.
Mereka juga menganggap pendidikan yang tinggi untuk seorang perempuan tidaklah diperlukan karena nantinya mereka akan kembali menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan diam di rumah suaminya. Oleh karena anggapan ini, wanita mendapatkan tekanan yang lebih untuk berhenti sekolah ketimbang para laki-laki, tetapi semasa mereka muda mereka tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan meringankan beban orang tua. Sebenarnya tidak ada korelasi antara diberhentikannya seorang perempuan dari bangku sekolah dengan menjadi ibu rumah tangga, dengan mereka berhenti sekolah belum tentu mereka bisa menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, sebaliknya, dengan bersekolah mereka dapat mempersiapkan diri mereka menjadi ibu yang tidak mudah dibodohi orang lain dan bisa menuntun anak mereka nantinya dengan lebih baik. Setidaknya mereka dapat menjadikan anak mereka lebih baik dari orang tuanya dan bisa mendapatkan taraf hidup yang lebih baik.
Banyak sekali dampak buruk yang diakibatkan oleh anggapan-anggapan di atas salah satunya adalah anak-anak yang sudah terbiasa mencari uang dan mendapatkannya dengan hasil jerih payah sendiri akan menganggap dirinya bebas untuk membelanjakan uang tersebut yang berujung pada sikap boros. Hal yang lebih buruk akan terjadi apabila mereka masuk kedalam pergaulan yang yang tidak baik — yang berisi pemabuk dan perokok bahkan pecandu narkoba — uang yang dihasilkan akan mereka belanjakan untuk membeli rokok, miras atau narkoba, tidak sedikit anak-anak di Desa Rahayu yang terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik dan menjadi aib serta beban bagi keluarga mereka. Selain itu, wanita yang putus sekolah memiliki kemungkinan menikah di usia dini yang sangat tinggi apalagi jika wanita tersebut telah memiliki pacar dan telah dikenalkan kepada keluarganya.
Itulah gambaran dari daerah yang sekarang ini menjadi kampung halaman penulis. Sebenarnya masih banyak yang ingin disampaikan dalam tulisan ini mengenai isu dari Desa Rahayu, akan tetapi penulis merasa gambaran kali ini sudah sangat cukup untuk menjelaskan bahwa pendidikan di Desa Rahayu masih kurang terutama untuk keluarga yang kurang mampu, hal ini disebabkan oleh beberapa alasan seperti yang telah disebutkan di atas. Ada satu hal yang perlu ditekankan yaitu tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun apalagi masyarakat Desa Rahayu yang menjadi fokus utama dalam tulisan ini. Penulis berharap agar tulisan ini dapat menjadi pertimbangan bagi warga Desa Rahayu dalam memutuskan pendidikan anaknya, banyak sekali beasiswa dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah untuk pendidikan sang anak. Jadi jangan takut untuk menyekolahkan anaknya dan janganlah melarang anak perempuan untuk melanjutkan sekolah karena dengan bersekolah anak tersebut dapat menjadi penerang bagi keluarganya serta menjadi pengangkat derajat keluarganya terutama kedua orang tuanya. Saya juga berharap agar pemerintah Desa Rahayu lebih memperhatikan pemerataan dana pendidikan yang diberikan pada warganya, karena ada beberapa keluarga yang kurang mampu tidak mendapatkan dana tersebut.
