
Terlahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang “broken” bukanlah menjadi sesuatu yang bisa dipilih. Kami terbiasa dengan pertengkaran, suara yang lantang, kekerasan, ketidakharmonisan, dan canggung menunjukkan kasih sayang. Seperti layaknya anak-anak lain yang mendambakan sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, kami pun menginginkannya.
Perlu dipahami bersama bahwa keluarga secara umum dibagi menjadi dua, yaitu keluarga yang utuh dan tidak utuh (broken). Perlu juga diketahui bahwa keluarga “broken” bukan hanya keluarga yang kedua orang tuanya bercerai, tetapi keluarga yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, psikologis, dan sosial.
Tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh sering membuat orang-orang mengalami perubahan, gangguan, atau masalah-masalah terkait perilaku. Orang menjadi lebih tertutup, tidak mudah percaya dengan orang lain, mudah cemas, menyalahkan diri sendiri, tidak stabil secara emosi, murung, dan sedih yang berkepanjangan. Sebagai orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, kami banyak mengalami gejolak emosi sebagai akibat peran fungsional keluarga yang tidak optimal.
Tidak adanya peran fungsional keluarga dalam kehidupan sehari-hari membuat kami, orang-orang dari keluarga yang tidak utuh, cenderung tertutup dan tidak mudah percaya dengan orang lain, karena kami sering merasa kecewa. Kecewa karena keluarga yang tidak harmonis, tidak ada penerimaan, kasih sayang, rasa nyaman, negosiasi, dan perlindungan. Kami sering merasa tidak stabil secara emosi. Ketidakstabilan emosi tersebut karena keadaan keluarga yang tidak hangat, orang tua bercerai, dan tekanan atau pengabaian orang tua terhadap kami. Tekanan atau pengabaian orang tua membuat kami tidak mampu membedakan antara emosi sedih dan gembira. Bahkan pada kasus orang tua bercerai, kami sering menyalahkan diri sendiri karena pemikiran bahwa kamilah penyebab perceraian orang tua. Beberapa dari kami juga menampakkan gejala-gejala kecemasan, depresi, bahkan ketidakpercayaan diri untuk membangun suatu hubungan.
Kami merasa sudah cukup berat menerima kenyataan bahwa keluarga kami “berbeda” dari keluarga lainnya, ditambah lagi dengan gejolak emosi-emosi dalam diri. Sayangnya, tidak jarang orang-orang melabeli kami dengan berbagai stigma-stigma negatif, seperti anak dari keluarga tidak utuh akan membawa pengaruh buruk bagi lingkungan, liar, tanpa kontrol, tidak bermoral, tidak terarah, dan label negatif lainnya. Walaupun menurut penelitian American Psychological Association, anak-anak yang mengalami perceraian orang tua lebih memiliki kecenderungan menunjukkan masalah-masalah perilaku, hal itu bukan berarti semua dari kami mengalami masalah perilaku serta dinilai buruk dan hancur. Nyatanya, berdasarkan penelitian selama 20 tahun, sekitar 80% orang-orang yang berasal dari keluarga tidak utuh (bercerai) dapat beradaptasi dengan baik dan tidak memperlihatkan efek negatif dalam hal pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan mental.
Secara tidak langsung, stigma-stigma negatif itu membatasi kami untuk berteman, berprestasi, dan berkembang. Kami merasa terhakimi karena stigma negatif itu membuat kami yakin bahwa kami tak akan pernah sukses memiliki hubungan asmara yang bahagia ke depannya. Kamipun menginginkan kehidupan yang harmonis bersama keluarga. Keluarga yang penuh kasih sayang, dan kenyamanan. Jika saja, orang-orang tahu sebenarnya kami sudah lelah dengan stigma-stigma tersebut, mungkin hidup kami akan lebih ringan.
Pada dasarnya, keluarga yang tidak utuh itu berat bagi siapapun. Berat bagi anak-anak dan orang tua. Selain itu, keluarga besar, seperti kakek, nenek, dan kerabat lainnya juga terkadang mengalami hal serupa. Pada intinya, kami semua berat menerima kenyataan perpisahan orang tua, keluarga yang tidak lagi utuh, dan tidak harmonis. Kami berat menerima perubahan pola hidup misalnya, saat wisuda dan kedua orang tua harus hadir dalam waktu yang bersamaan membuat kami canggung. Kami berat menerima kemungkinan orang tua menikah lagi pasca berpisah. Kami berat menerima orang baru menggantikan peran ayah atau ibu kandung, dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti orang tua pun juga tidak berat menerima semua ini. Mereka pun juga berjuang untuk menerima kenyataan bahwa mereka harus menerima perpisahan, ketidakutuhan, dan ketidakharmonisan keluarga yang mereka bangun.
Bagi siapapun yang sedang berada dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak utuh, kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa semua ini adalah proses yang akan menjadikanmu manusia seutuhnya. Mungkin memang dengan berbagai ketidakharmonisan, perpisahan, ketidaknyamanan, maupun ketidakutuhan keluarga, kita bisa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mengizinkan dirinya untuk berbuat salah kemudian memaafkan diri sendiri serta orang lain, dan memetik hikmah sebagai pembelajaran hidup. Barangkali dengan itu kita bisa menjadi lebih bijak dalam menghadapi permasalahan hidup. Barangkali dengan tempaan itu kita bisa menjadi orang yang lebih sukses. Walaupun sukses, gagal, baik dan buruk itu relatif.
Keluarga yang kita miliki memang tidak (lagi) utuh, tetapi cobalah untuk selalu menjadi manusia seutuhnya.
