Sofiatul Dwi Anjarsari
Nov 4 · 2 min read

Pelonggaran Kuantitatif & Kebijakan Moneter yang Tidak Konvensional — Sebuah Pengantar

Dampak pelonggaran kuantitatif & kebijakan moneter tidak konvensional diikuti oleh bank sentral setelah terjadinya krisis keuangan yang dimulai pada tahun 2007. Dengan mempertimbangkan model teoritis untuk efektivitas pembelian aset dan bukti dari berbagai sumber empiris.

Bentuk kebijakan moneter tidak konvensional yang paling terkenal adalah Quantitative Easing (QE). Kebijakan ini pertama kalinya dilakukan di negara Jepang. Kebijakan ini menyebabkan peningkatan substansial dalam neraca keuangan negara.

Macam-Macam Kebijakan Moneter yang Tidak Konvensional adalah sebagai berikut :

  1. Kebijakan Moneter yang Tidak Konvensional dalam Teori : Mekanisme Transmisi.
  2. Kebijakan Moneter yang Tidak Konvensional dalam Praktek : Bukti Empiris.

Faktanya bahwa pemulihan segi ekonomi setelah terjadinya ekonomi di negara Barat masih sangat lambat dan lemah dengan adanya satu kekuatan regresi yang sangat kuat, kebijakan QE yang belum mendapatkan hasil maksimal, efeknya masih terbatas dan harus dilakukan langkah-langkah yang lain untuk memulihkan keadaan ekonomi. Bahkan jika QE telah efektif dalam pemulihan ekonomi tetap pemulihan ekonomi juga masih cenderung lemah akan krisis keuangan negara tersebut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh bank sentral menyatakan bahwa kebijakan moneter yang tidak konvensional akan berpengaruh pada ekonomi dalam segi ukuran, efek, dan saluran.

Meskipun keibijakan moneter yang tidak konvensional berhasil, dampaknya belum cukup untuk mengimbangi kekuatan negatif dan krisis perbankan. Kebijakan ini teebatas dan signifikan tidak perlu sangat diandalkan di masa depan nanti.

Sedangkan kebijakan moneter di Indonesia sendiri bahwa pada tanggal 17–18 Juli 2019 mengumumkan B17 — Day Reverse Repu Rate (B17DRR) yang awal mulanya 25 bps sekarang menjadi 5,00%. Suku bunga juga awal mulanya 25 bps sekarang menjadi 6,50%. Kebijakan tersebut berjalan dengan rendahnya perkiraan inflasi dan adanya pendorong untuk pertumbuhan ekonomi yang bagus ditengah keadaan pasar keuangan global yang turun dan stabilitas yang tidak terkendali. Strategi ini berfungsi memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang dan memperkuat transmisi kebijakan.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia sendiri pada triwulan II 2019 diprakirakan sama dengan triwulan sebelumnya. Konsumsi swasta tetap baik dengan keyakinan konsumen yang tetap terjaga. Investasi juga tetap stabil. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia triwulan II 2019 tetap terjaga untuk menopang stabilitas eksternal Indonesia.

Nilai tukar Rupiah menguat untuk mendukung stabilitas eksternal. Pada Juni 2019, nilai tukar Rupiah menguat 1,04% daripada akhir Mei 2019 yaitu 1,13%. Penguatan Rupiah pada Juli 2019 yaitu 1,06% sampai 17 Juli 2019 ini. Penguatan tersebut dikarenakan menariknya imbal hasil investasi portofolio di aset keuangan domestik.

Semoga bermanfaat.

Baca lengkap juga di http://qed.econ.queensu.ca/pub/faculty/milne/870/QE%20and%20unconventional%20monetary%20policy.pdf

    Sofiatul Dwi Anjarsari

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade