Zoetrope Part 2 — Holes Inside

“It seems like you’re wired, to stay here held in time,
 Cause nothing seems to change, No nothing’s gonna change, at all.” — Joe Brooks

“Semakin tinggi kamu berharap, semakin besar kamu akan kehilangan. Aku juga sepertinya menderita trauma berlebihan karena beberapa hal. salah satunya, berharap.” akunya kepadaku. “Tapi,” gumamnya lagi,

“ Tolong jadikan cerita ini rahasia, ya.”

— Kita, Kalian, Kamu —

Tidak ada perubahan sikap yang terjadi saat menjelang ujian akhir semester, yang berubah hanya hati Sofi. Selalu, dari balkon depan kelasnya di lantai dua ia memperhatikan kelas si kakak bangku seberang yang terletak di lantai satu gedung sekolah mereka. Sayangnya, bukan hanya Sofi yang berdiri di balkon itu. Ternyata efek memasangkan adik kelas dengan kakak kelas kala ujian sekolah memberi efek yang besar di bidang bidik-membidik gebetan. banyak anak perempuan — teman sekelas — Sofi yang lain juga memperhatikan kelas dibawah sana sambil bersenda gurau dengan inisial nama kakak kelas yang disukai.

“Cie si Sopi ngeliatin kak X.. hahahaha”

“Anjir gak lah ngapain gue ngeliatin si kampret yang ngatain gambar gue bokep”

“Hahaha kalian cocok tau, kan sama-sama putih gitu. terus lo digangguin melulu lagi pas lagi ujian.”

Sofi mendengus, meski dalam hati tersipu.

— Layar Monokrom —

Berwarna kuning redup dari handphone Sofi menunjukkan nomor telepon yang baru saja disimpan oleh pemiliknya.

“Dia ngasih tau id sama password chara ayodance dia ke lo ya Sof?”

“Iye coy , udah level 19. katanya mainin aja buat gue belajar.” sahut Sofi santai.

“…”

Hanya obrolan tidak penting dengan teman-teman sewarnet yang terus meledekinya seusai peristiwa warnet itu. Sisanya, Sofi juga lupa bagaimana cara ia mendapatkan nomor telepon itu saat menceritakan kisah ini kepadaku.

Tidak niat, Sofi tetap membalas postingan friendster dari kakak kelas yang sebangku dengannya waktu ujian. Sofi lupa bagaimana akhirnya ia bisa saling memberikan postingan friendster dengan partner sebangkunya kala ujian. Laki-laki berkulit sawo matang yang tidak kalah bawel dengan kakak bangku seberang, tapi kalah tampan dengan kakak bangku seberang. Tidak apa-apa, lumayan juga untuk mendapat informasi. Dugaanku, sepertinya dia pun tahu Sofi memiliki perasaan pada kakak bangku seberang.

Berwarna kuning redup dari handphone Sofi menunjukkan nomor telepon yang baru saja disimpan oleh pemiliknya. Tombol berwarna hijau telah ditekan untuk memulai panggilan.

“Halo, siapa nih?”

Sahut pemilik suara yang bingung kepada penelepon yang gugup sebelum dengan cepat Sofi menutup telepon itu dan melompat-lompat kegirangan di beranda. Benar-benar nomor telepon kakak itu.

— Ujian Akhir Semester —

Mati-matian Sofi menyembunyikan wajahnya yang mulai tersipu saat melihat tingkah kocak kakak bangku seberang saat mengerjai teman-teman sekelas maupun juniornya di pekan UAS. Suasana kelas juga terasa lebih hangat karena senior maupun junior tampaknya sudah saling mengenal dan dapat bekerja sama, dalam mencontek misalnya.

Sofi tak kuasa tertawa saat senior-senior itu berlari ke bangku kakak seberang untuk menggebuki si usil itu hingga ujian dimulai.

“Eh gue titip taruhin tas di depan dong.” kata partner sebangku

“Eh gue juga sop, gue juga, gue juga.” Ok fine, jadi banyak yang nitip.

Mungkin aku lupa, kalau saat ujian semester lalu, Sofi juga selalu dititipi tas saat ujian dimulai. dan ketika Sofi berjalan maju melewati baris demi baris, tiba-tiba sebuah tas selempang terlempar tepat melingkari lehernya.

Sofi reflek berteriak, semua mata tertuju padanya.

“Sorry, gue nitip juga ye” sahut kakak bangku seberang sambil tertawa-tawa dibelakang. kampret.

. . . . . . . . .

“Eh tunggu, Gue juga titip dong.” sahut kakak bangku seberang yang kali ini menyodorkan tas nya secara baik-baik.

— Perempuan —

Hari terakhir, yang berarti berakhir pula momen dimana Sofi bisa dekat dengan kakak bangku seberang itu. Nyatanya. semua berlalu begitu saja. Tanpa ada salam terakhir mereka keluar dari ruang ujian.

Sofi mengetikkan nama jelas kakak bangku seberang ke kotak pencarian facebook yang baru saja ia buat.

“Ada” gumamnya. “Ada tanggal lahirnya juga lagi.” dan tombol add dengan cepat Sofi klik, secepat ia menutup aplikasi facebooknya di komputer warnet malam itu.

. . . . . . . . . .

“Katanya kak X lagi pedekate sama cewek seangkatan dia tau Sof.”

“Hah iya? demi apa… cantik gak?

“Gak juga sih, rambutnya keriting itu. dan putihan elo.”

. . . . . . . .

“Kamu tahu, bahwa aku terus berkilah hingga aku melihat sendiri kakak itu menuliskan nama nya dan nama perempuan itu di bangku-bangku tunggu sekolah? Hingga sampai disaat aku beku terpatri melihat mereka berdua duduk bermesraan di bangku tunggu, Hingga pada akhirnya aku benar-benar merasa harus menyerah untuk mengharapkan kakak itu sebelum lubang kehilangan di dalam hati ini terlalu besar untuk sebuah plester bermotif kartun jerapah berwarna kuning.

“Dan kamu juga harus tahu. Bahwa aku masih berjanji untuk selalu terbuka jika ternyata dia untukku. Dan akan terus menjaga nya dalam hatiku meskipun mungkinn akan tertimbun oleh rasa yang kumiliki untuk dia yang dituliskan Tuhan untukku.”

Aku, terlihat terikat disini oleh kabel-kabel waktu. Untuk yang sekilas tidak akan berubah. Tidak, untuk semua yang tak akan berubah.

Untuk dia, yang pertama.

Zoetrope Part 2 — End

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Sofia Han’s story.