Cetak Cetek Comeback
Di kala ku masih belia, tidur dengan mama, beliau bercerita mengenai rasa teramat sangat malu yang terbawa sampai saat itu — pun sampai sekarang.
“Dulu itu mama pernah ikut lomba dek, wah gurunya itu nggak ada yang ngajari mama…”
“…mama ya nggak tahu apa-apa. Hahahaha. Materi nggak tahu, nanti pakai baju apa nggak tahu. Jan pokoke Mama tu belajar sendiri di rumah. Hahahaha”
“Jadi pas lomba ya gitu dek hahaha, mama nggak tahu apa-apa. Malu banget mama Ya Allah hish…hahaha”
Mama adalah seorang leo yang perfeksionis. Termasuk yang pintar di sekolah, mama anak yang rajin. Cerita kala itu sebenarnya pengantar tidur kami yang tidak tidur-tidur. Sampai sekarang saya ingat ceritanya. Betapa malunya itu tertanam, mama cerita sambil ketawa hingga kasur goyang-goyang. Aku jadi ikut tertawa.
Tahun 2016 di tengah himpitan tugas, Aku, Ade, dan Nindya meluncur secara gembel ke Depok. Super lugu kami tenteng koper kami sampai sana pagi-pagi sekali belum mandi — Nindya akhirnya mandi di kampus itu, aku dan Ade tetap menghemat daya dan air. Koper kami isinya buku-buku kandel. Kami mengikuti lomba audit bergengsi se-Indonesia. Lawan kami datang dengan cantik dan ganteng ber-tas punggung biasa berisi buku catatan atau fotokopian tipis. Muka serius dan fokus. Kami yang dari “Jawa” sumringah dalam dunia kami sendiri. Pusing gegara kalau tidak masuk final kami harus bayar penginapan kami sendiri. Target: Masuk Final.

Bermodal nyali kami tabras babak per babak, ada saatnya kami begitu pede pencet tombol “TEEET!!” karena soalnya sangat teori sesuai buku-buku kandel kami. Namun, that’s not the point of this competition. You can not audit something relying only on theory itself. Unfortunately, we were not prepared for these situations. Saat soal berhitung sering muncul, kami ciut tidak tahu yang mau dihitung apanya. Cuma ketawa-ketawa di antara tim lain yang serius oret-oret mainin kalkulator layaknya cendekiawan. Tentu kami yang tadi sempat pede gengsi dong kalau terlihat nggak bisa menghitung. Kami juga pencet-pencet kalkulator, tapi kami pencet-pencet layaknya bakul beras. *TAAK CETEK CETAKK CETEK* — dengan harapan konsentrasi tim lain terganggu dan soal pun tidak terjawab oleh siapapun sampai waktu habis. We call it a strategy.
Pengumuman babak final dipampangkan di layar proyektor. Ada nama tim kami. Dengan modal cetak cetek tadi, bakul beras ini berhasil lolos dari ancaman bayar penginapan kami sendiri. Hore, walau sadar, kami masuk final berarti ikut babak simulasi audit. Suruh berhitung aja nggak mampu, ini suruh simulasi. Mawut sekali.

Sejak diawal kompetisi ada seseorang yang kurasa mengamati perilakau norak kami. Seorang pembimbing lawan kami. Pesaing terberat. Juara kompetisi akuntansi dimana-mana.
“Klasifikasi investasi menurut PSAK itu ada apa aja sih?”
Aku, Ade, dan Nindya mematung dihadapan 10-an juri dan puluhan pasang mata lawan kami plus mata si pembimbing pesaing kami. Kami melakukan presentasi final urutan terakhir. Kesialan, semua orang bisa menyaksikan presentasi kami yang lubang besar. Pertanyaan tadi adalah pertanyaan paling dasar. Seumpama klasifikasi orang makan bubur: diaduk dan tidak diaduk.
Posisiku saat itu di tengah, Ade di kiri, Nindya di kanan. Ade dan Nindya saling bersahutan getir
“Aku nggak tahu”
“Aku juga nggak tahu”. Mati. Menguap semua sesumbar ceria.
Aku menunduk dalam dan lamat-lamat mengangkat mic dekat pada lisanku. Menghentikan Ade dan Nindya yang berpandangan ra kolu.
“Maaf, dengan keterbatasan pengetahuan kami, kami tidak bisa menjawab.”
…
Hahaehem hem…aku bisa dengar suara tahan tawan di leher-leher mereka yang di depan kami. Saat itu, aku terlalu malu barang untuk mengedipkan mata atau mengecek keadaan Ade dan Nindya atas insiden ucapanku memalukan almamater kami. Teringat almamater, saya reflek menaikkan pandangan ke belakang penonton. Si pembimbing pesaing kami, disana, tersenyum sungging.
‘…hehe Ma, gini ya rasanya malu’ serayaku kembali menunduk dalam.
Malu itu masih terbawa kemana-mana, selama-lama, aku, Ade, Nindya kembali ke Yogyakarta. Seperti mama, kami ceritakan kisah itu sambil geter-geter tertawa, menertawakan kami sendiri dan meredam kepahitan itu. Saking memalukannya tak ada satu pun dokumentasi. Mereka mungkin ikut malu dan prihatin atas momen yang tidak patut diabadikan itu.
Tekad kami kesana lagi setahun kemudian. Beruntung kami didukung untuk kembali bertanding dengan persiapan yang lebih matang. Untung juga, kami tidak disaksikan banyak orang sehingga tidak ada yang mencemooh kami habis-habisan seperti yang sempat terjadi pada atlit-atlit olahraga pembela negara. Karena, luka pahit kejadian itu porsinya pas dijadikan bahan bakar — kalau lebih akan menghancurkan tekad.
Dan untuk aku pribadi, aku tidak ingin punya kenangan menghantui seperti mama — yang malu ketawa getir sampai kasur goyang-goyang.

2017 di medan perang. Kami sudah siap tetap membawa koper dan norak sumringah. Sama tetapi beda. Seperti outfit kami yang mengundang ini. Jelas langkah pertama kami disana, semua orang menyadari kami yang datang seragaman baju — dan tentunya sebagai yang gagal memalukan di tahun lalu. Seluruh kejadian kala itu terulang ketika juri yang ada adalah juri yang sama dengan tahun lalu. Di tempat yang sama kami bersitatap. Wow, it’s you guys!
Yes, it’s us maam and Mom



