Sebuah Jawaban

Seperti biasanya, di hari itu, kau keluhkan semua keresahanmu padaku. Perihal organisasi komunitas, himpunan mahasiswa dan semua hal yang membuatmu lelah hari itu. Dalam sebuah pesan whatsapp aku mencoba untuk menenangkanmu, sayang sekali. Padahal inginku secara langsung mengelus pundakmu sambil berkata "sudah, luapkan saja, jangan di tahan, nanti malah jadi penyakit". Tapi apa daya jarak selalu saja berdiam diri diantara kita. Alhasil kita hanya bisa bersua dalam sebuah pesan whatsApp, sungguh sayang sekali. Padahal kata joko pinurbo jarak itu sebenarnya tak pernah ada, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Jadi bagaimana ya akupun bingung juga jadinya.

Dan akhirnya yang bisa kulakukan hanya berkata "sudah, jangan sedih, aku ada sesuatu untukmu, mungkin bisa dibilang hadiah, tapi aku beri nanti malam ya". Kuharap sepenggal kalimat itu bisa menenangkan di sela keresahannya.

Pukul 20.45. Kukirimkan padanya sebuah pdf. Berisi sebuah puisi buatanku yang sebenarnya sudah kubuat jauh jauh hari. Hanya sebuah puisi sederhana, amatiran, kata-kata nya pun berantakan, sama halnya dengan perasaan ini saat membuatnya. Jujur saja, ini pertama kalinya aku membuat puisi untuk seseorang yg dirasa seperti martabak manis bagiku. "spesial". Seseorang yang bagiku seperti aroma buku di perpustakaan kota. "Menenangkan".

Dan, ya, reaksimu sama persis seperti dugaanku. Bahkan diluar ekspektasiku. Tapi masih sayang sekali, kita hanya bersua dalam sebuah pesan whatsApp. Padahal ingin sekali melihat reaksi wajahmu yang 'nano-nano' itu. Pasti sangat lucu. Sebuah jawaban darimu pun mampu membuatku merasakan perasaan 'nano-nano' itu.

"Sulit buat digambarkan tapi aku seneng dapetnya. Terharu juga seneng juga ketawa juga yahhh begitulahh"

"Arigatou"

"Aku suka"

"Btw pesan di akhir puisi boleh ku jawab?"

Ya. Aku menyelipkan sebuah pertanyaan di akhir puisiku. Pertanyaan yang bisa dibilang sebagai sebuah 'mimpi baru'.

Jawabanmu sungguh sebuah jawaban yang sangat aku harapkan dan membuat mata ini tak mau beralih dari layar ponsel. Membuatku memunculkan sebuah harapan baru dan selalu mananti dan menanti saat-saat itu bisa terjadi.

Namun, dalam hidup ini pasti selalu ada yang namanya perubahan. Hidup ini dinamis. Termasuk sikap dan hatimu. Entah karna hatimu sedang meragu atau candumu mulai memudar, kau mulai membentangkan jarak. Mungkin bisa dibilang seperti 'kau memaksa dirimu sendiri untuk menghilangkan perasaan candu itu’. Berdalih ingin fokus terhadap semua kegiatan karirmu, ambisimu, cita-citamu, kau tegaskan padaku bahwa kau hanya bisa mengantarkanku pada gerbang kebahagiaan tanpa kau ikut memasukinya. Sungguh aku tidak mengerti maksudmu, yang terlintas di pikiranku terlihat seperti pembukaan undang-undang dasar yang hanya mengantarkan kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan indonesia, tanpa memasukinya, itu artinya kita belum merdeka bukan? Hanya sebatas berdiam diri di ambang kemerdekaan tanpa merasakan kemerdekaan itu sendiri, bukankah begitu? sama halnya dengan apa yang aku rasakan. Kau yg berniat mengantarkanku pada gerbang kebahagiaan tanpa kau sadari malah membuatku kehilangan kebahagiaan itu karna kau yang tak bisa memasukinya.

Tapi yasudahlah, toh itu yang kau mau. Itu keputusanmu. Aku hargai itu. Tapi, jujur saja, harus aku akui bahwa kau adalah manusia yg egois. Kau memutuskan hal ini sendirian. Tanpa memikirkan dampak apa yg akan aku rasakan. Kau memutuskan hal ini secara sepihak. Secara tiba-tiba. Dalam waktu 48 jam hati dan pikiranmu berbalik haluan. Menjauh. Ada apa? Apa kau sedang bersandiwara?

— Ah, sudah, lupakan saja pertanyaanku tadi. Pertanyaan itu hanya sebuah intermezzo dalam pikiranku. Tapi, perlu kau tahu bahwa pertanyaan dalam puisi yg ku buat selalu masih berlaku. Dari saat aku menulisnya, sampai detik ini, hingga milyaran juta detik di kemudian hari. Sama halnya dengan pertanyaanku, apakah jawabanmu pun masih berlaku juga? Di kemudian hari? Untukku? —


Terima kasih atas 290.304.000 detik waktu yang kau bagi untukku. Meski singkat, tapi sangat membekas. Aku bahagia jika bisa menetap lagi dalam setiap detiknya. Di kemudian hari.
Untukmu, tuan berkacamata. Maaf jika aku masih menantikan puisi balasan yg dulu kau janjikan untukku. Bolehkah?