Hai, untukmu. Aku sangat mendambamu.

Saya memang bodoh, perkara mencari topik pembicaraan di via handphone. Berbeda dengan doa saya. Entah mendoakan dalam kelancaran hari-harimu. Terimakasih, menjadi inspirasi bagi saya. Lebih dari itu. Biarlah, saya menjadi pengagummu. Yang membayang-bayangi diotak dan pikiranku. Saya disini, tidak akan pernah merubahmu. Tetaplah menjadi anda seperti ini, bukan mengada ada seperti di dunia khayalan. Banyak faktor yang membuat kita susah untuk lebih dekat.

Memang disetiap keramaian, seperti menghelat konser musik dihari lalu, jumpa fans, berada disebuah konser musik, di pasar malam, parkir mall-mall yang penuh akan mobil, apalagi disuatu kafe yang sangat ramai, duduk sendiri dan mendengarkan obrolan mereka disetiap aku menengok kesegala arah. Membuat otakku carut marut, menyebalkan.

berbeda ketika melihat lingkar senyummu yang membuatku sedikit tenang. Itulah mengapa, saya sangat membenci keramaian.


Sebelum anda datang. Sedari kecil, saya seperti anak-anak kebanyakan. Berlari, hingga berujung menangis. Sehat, jarang demam. Handal dalam bermain musik, menulis hingga melukis. Itulah mengapa saya sangat menyukai bidang menulis, dan bermusik. Itulah mengapa, saya ingin menjadi penulis besar, dan musisi lebih dari itu.


Pada saat umur 20 tahun, kematian selalu menghantui. Motivasi hidup yang kian menipis ibarat tissue yang mudah sekali terbakar. Lebih nyaman di dalam rumah, menjauhi aktivitas sosial. Begitupula di dalam internal band kami, banyak cek cok, hingga berujung bertengkaran.


Itulah mengapa, saya mengalihkan diri ini dengan alkhohol mulai dari alkohol tingkat satu, hingga yang paling atas, mabuk-mabuk ria hingga jackpot di sebuah bar, berkali kali. Dan disetiapku membuka mata.

Ayah dan Ibu saya juga kian berubah, yang dahulunya penyayang keluarga hingga menyayangi dalilea (Kucing pertama) sekarang aku lebih sering melihatnya beradu mulut, debat, saling bermusuhan, hingga berujung tangisan masing-masing. Yang saya takutkan dari saya kecil adalah perceraian. Dan kini, terjadi. Semoga tidak terjadi untuk diri saya, istri saya kelak, hingga cucu saya. Semoga, semoga, dan semoga.

22 tahun, saya lebih senang berkhayal. Memiliki dua teman yang sangat menyayangiku disegala situasi apapun. Anehnya, dia ada disetiap pikiran sedang carut marut, tuntutan tugas yang sangat luar biasa. Yang satu berbisik-bisik dengan sangat bijak, yang satu ini selalu menjadi api, memanaskan keadaan. Ingin sekali membunuh, atau bahkan bunuh diri. Kata dokter, saya tidak ada masalah dalam diri saya. Sehat dari segala penyakit. Tidak memiliki penyakit busung lapar, hingga penyakit yang diderita orang kaya. Disarankan oleh pihak rumah sakit, untuk dirujuk di area kesehatan jiwa, ya saya divonis skizoprenia oleh psikolog. Bangga? Tentu tidak. Saya ingin menjadi manusia normal yang lain. Bermain, bermusik, merekam, berteman hingga berkeluarga. Yang umum saja lebih menyenangkan, mengapa bangga menjadi seorang yang abnormal?

Dan kau hadir, merubah tingkah lakuku dari anti sosial, menjadi sedikit memahami akan oranglain. Kau berbeda denganku. Kau yang begitu peduli dengan oranglain, anak-anak. Sering pergi mengeksplorasi makanan di kota ini. Sungguh menggugah hati saya untuk menjadi manusia normal.

Karena keributan diotakku sendiri, aku sering melemparkan botol minuman beralkhohol ke tembok, hingga serpihannya melukai pelipis mata, menyenangkan? Iya. Namun, dari hati sangat mengelak. Seringkali berseteru tanpa dengan kekasihku dulu, hingga semuanya pergi menghilang. Dan yang terakhir dengan konyolnya aku melompat bebas dari jurang curam dan tenggelam di laut.

Aku tenggelam hingga kedasar, aku tak tahu jalan pikirku yang tak rasional ini. Sungguh, aku sangat gila. Sebelum sekujur tubuh mati rasa, aku merasakan kenyamanan, ketenangan. Aku dikelilingi berbagai macam ikan. Mungkin saja salah satunya ikan yang pernah dimasak oleh ibu. Aku tak dapat melihat apa-apa karena mataku memang sengaja aku sekap. Gila? Memang.

Karena dari hati kecil ini, saya bosan oleh hingar bingar dunia.

Semenjak kau datang, aku hanya sebatas kagum dengan anda, saya mengagumimu dari hati. Sebelum dan setelahku mati. Saya akan tetap mengagumimu.

Perkenalkan, namaku “N.A” dengarkan segala ceritaku. . .