Janji Yang Tak Terealisasi

Lupakan saja -ah, kamu sepertinya memang sudah lupa dari lama, atau bahkan tak pernah mengingatnya- tentang janji kecil yang dulu hadir di sela kepadatan hari-hari yang kita jalani.

Mungkin janji yang dulu tak sengaja kita karang memang tak seharusnya menjadi nyata. Sepertinya kita hanya diamanahkan untuk sekedar saling berencana, tanpa diberi izin merealisakannya, setidaknya hingga detik ini. Bahkan semenjak janji itu kita ukir dalam kolom chatting beberapa bulan lalu kita tak lagi acap berjumpa. Hanya sesekali, saat kamu turun dari tangga, atau saat aku sedang menunggu dosen di loby gedung.

Jarang kamu menyapa dalam kata, seutas senyum saja yang selalu kamu tawarkan, lalu kamu berlalu dengan langkah demi langkah yang kian menjauh. Janji itu -barangkali lebih tepat disebut kesepakatan-, hanya satu dari sedikit penghibur lara akibat jenuh yang saat itu aku dan kamu alami serentak.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.