Opera Tuhan “Cin(T)a di akhir Desember”

Hay guys, lama tidak menyapa kalian lewat tulisan. Yuk, baca tulisan aku yang dimuat dalam novel pertamaku!

***

Future

Story #56: Impian-impian masa kecil (Annisa)

Sebentar lagi waktu kelulusan tiba. Annisa dan Lian sudah memasuki periode ujian akhir. Tidak ada yang berbeda diantara mereka berdua. Masih memakai seragam putih abu-abu yang sama, hanya saja lebih senioritas yang ditandai dengan pudarnya logo sekolah yang tercetak di bagian saku kemeja, juga dengan makin pendeknya rok dan celana. Sudah banyak yang berubah sejak tiga tahun lalu saat Annisa menginjakkan kaki di sekolah ini. Berkenalan dengan Maya. Berpartisipasi dalam kegiatan OSIS bersama Lian. Jatuh cinta. Pacaran. Bersahabat. Bukan hanya Annisa yang berubah, tapi seluruh komponen dalam dunianya.

“Cha, mau minuman dingin?”

Lian menunduk, menempelkan minuman dingin di lengan Annisa. “Makasih.” Annisa menerimanya. Mereka berdua duduk di bangku panjang di taman belakang sekolah.

Akhir-akhir ini, Lian merasa Annisa terlihat kurang bersemangat. Dia sering bengong kalau diajak bicara tentang ujian akhir. Terkadang, Annisa memandangnya lama, seakan sedang berusaha menemukan sebuah jawaban. Akhir-akhir ini, Lian tidak bisa mengerti Annisa.

“Ada apa, sih?” Begitu dia selalu bertanya.

“Tidak ada apa-apa.” Begitu juga jawaban otomatis itu selalu terdengar.

Annisa juga enggan membicarakan pilihan kampusnya. Ketika Lian membicarakan kehidupan kampus yang tampaknya menyenangkan, Annisa terlihat masa bodoh dengan semuanya.

“Kalau sudah jadi mahasiswa nanti, kita masih tetap bisa hangout bareng keliling kota Prancis, Nis. Pasti seru, iya kan?”

Annisa hanya mengangguk tanpa banyak komentar. Lian tidak jadi meneruskan ocehannya. Ia terdiam menatap Annisa lama, menunggu hingga sahabatnya jengah dan mendelik ke arahnya.

“Ada apa sih!” cetus Lian dengan tidak senang. “Kenapa aku diperhatikan seperti objek penelitian?”

“Jadi aku harus bagaimana?” gumam Annisa.

“Kalau kamu punya masalah, aku selalu siap jadi pendengar yang baik.”

Annisa menghela napas. Dia tahu pada akhirnya dia harus memberi tau Lian yang sebenarnya.

Namun, ketika memandang wajah Lian yang bahagia, Annisa sadar akan sangat tidak adil jika tidak segera memberi taunya. Sekarang, Lian memandanginya dengan intens, menunggu apapun jawaban Annisa yang bisa menjelaskan perilaku anehnya belakangan ini.

“Aku bagusnya pilih fotografi atau arsitek?” Kata Annisa yang bertanya kepada Lian yang sedang asyik membaca buku seni lukis.

“Pilih saja yang sesuai dengan kamu impikan.”

“Tapi kata papa, fotografi itu bisa kalau dijadikan hanya sebatas hobi saja. Tidak perlu kuliah jurusan fotografi.”

“Setiap orang punya mimpi yang mesti diperjuangkan.”

“Terus kamu sendiri, bagaimana?”

“Ini cita-citaku, Nis.” Kata Lian sambil memperlihatkan lukisannya menara Eiffel di sampul halaman depan buku seni lukis yang dibacanya.

“Kamu memang hebat. Aku yakin kamu akan menjadi pelukis yang terkenal.”

Seulas senyum tipis menghiasi wajah Lian, sesuatu yang hanya terjadi jika Lian membicarakan hal-hal yang disukainya.

Annisa tahu Lian sangat menyukai melukis. Meskipun hobinya itu pernah ditentang oleh papanya dulu waktu masih hidup. Tapi Lian tidak pernah menyerah.

“Mimpi itu bukan deadline, Nis. Bukan sesuatu yang tidak bisa berubah. Bukan sesuatu yang datang dan pergi begitu saja. Tapi mimpi adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan.”

Annisa semakin bingung. Apa ia akan mengejar dan mewujudkan impiannya untuk mengambil jurusan fotografi. Atau Annisa melupakan impiannya dengan mengikuti kata-kata papa untuk mengambil jurusan arsitektur.

Teman-teman sekelasnya sudah mulai mendaftar ke pelbagai universitas ternama, beberapa bahkan sudah diterima dan bisa menjalani sisa semester dengan tenang.

Lian juga sepertinya sudah sangat yakin dengan masa depannya. Mengambil jurusan seni di luar negeri. Perancis. Seperti yang Lian dan Annisa impikan waktu kecil.

Sementara Annisa masih bingung menentukan pilihannya sendiri. Apalagi kata-kata yang tadi ia baca di mading sekolah. “Manusia memiliki mimpi dalam hidupnya. Ada yang mengejar dan mewujudkannya. Ada yang lari dan membuangnya. Dan ada juga yang diam, menyimpannya dalam hati.” Dia terperangkap dengan pilihan-pilihan itu.

***

Untuk cerita lengkapnya bisa dibaca dalam novel Opera Tuhan “cin(T)a di akhir desember” yang akan terbit bulan desember ini.