Aku gak suka kegiatan organisasi, tapi aku melakukannya. Here I tell you why… [part 1]

Rima
Rima
Sep 8, 2018 · 5 min read

Halo pembaca. Semoga kamu senantiasa dalam keadaan bahagia. Jadi di sini aku mau menceritakan pengalaman ku menjadi panitia suatu acara sekaligus berbagi opini mengenai organisasi. Nah langsung aja dari awal daftar jadi panitia. Setelah UAS semester 4, sekitar pertengahan bulan Mei 2018, kemahasiswaan kampus aku ngebuka oprec buat panitia POP UP 2018. Acara apa tuh?? Itu kayak masa orientasi dan pengenalan kampus buat mahasiswa baru. Aku ya mumpung ada kesempatan, dan aku memenuhi syarat, yaudah daftar aja. Kemudian, pas tgl 1 Juni aku dapet email pemberitahuan bahwa aku terpilih sebagai panitia. Bukan kaget sih tapi lebih ke excited dan anxious juga haha. Excited ya karena bakal dapet sertif panitia haha lumayan buat CV. Anxious soalnya aku beneran gak suka organisasi dan kepanitiaan acara gitu, it is not my thing, sementara ini event nya lumayan besar gitu, secara ospek kampus! walau sebenernya masih dibantu dosen juga dalam perancangan rundown dan pemateri, tapi tetep aku khawatir gak bisa melaksanakan tugas nantinya.

Lanjut, setelah beberapa rapat berlangsung, terus po dan kadiv2 udah terpilih, mulailah keliatan nanti aku itu kerjanya ngapain pas acara. Aku itu menjadi pendamping kelas (PK) yang mendampingi maba pas dipecah jadi kelompok2 beda prodi, dan qodarullah aku juga dipilih jadi penanggung jawab prodi (PP) yang mendampingi maba prodi masing2. Kemudian nambah lagi perannya, aku diamanahkan untuk jadi bendahara acara. Well, to be honest pas aku diamanahkan itu udah terlambat sih karena harusnya dari minggu sebelumnya, agar aliran dana itu udah jelas SOP nya. Sebenarnya pas ditawarin itu aku juga agak ragu, karena gak mudah gitu mengemban peran bendahara apalagi itu pakai dana dari kampus, bukan danus sendiri. Aku nerima tawarannya karena aku merasa gak punya alasan yang pas buat nolak, dan gak enak juga soalnya aku itu udah izin ke po buat gak ikut full day pas hari terakhir acara jadi sebagian diri aku mikir “udah dikasih izin, agak enggak enak buat nolak” padahal enggak gitu juga …. dan akhirnya ku terima hmm. Ya sekali lagi aku itu bukan anak organisasi banget! jadi hal kayak gini itu aku juga gak biasa dan bahkan abis aku bilang mau, itu aku anxious banget! deg-degan gak karuan, sempet mikir “wth am i doing.. dodol banget kalau gak mampu mah ya tolak!” soalnya ya nambah responsibility aku gitu.

Hari-hari sebelum acara itu aku agak susah tidur, karena kepikiran mulu takut gagal jadi PK yang baik, soalnya PK harus ngobrol sama maba di kelas nya that’s mean aku harus public speaking! Man...It is one of my fear… tapi ya in the end I have to overcome it karena ya kayak kata pak Dalu Nuzlul pas acara LIGHT UP 2017, orang yang tidak mau berubah pilihannya hanya gagal. Definitely, I don’t live to be end up in failure. Aku masuk kampus ini itu karena aku gagal belajar buat masuk PTN impian aku. Jadi, I am here not to waste my time and I don’t wanna disappoint my parent anymore. Kemudian, kepusingan tidak berhenti sampai situ, aku mendaftarkan diri sebagai mentor untuk sesi mentoring di acara POP UP ini. Lagi dan lagi dihadapkan dengan ‘NGOMONG DI DEPAN BANYAK ORANG’ (pdhl cuma 10 orang) terus orangnya belum pernah kenal lagi. Cemas gak tuh saya, dan itu durasi nya dua jam haha mau ngelantur opo aku.

Kemudian, acara pun berlangsung selama empat hari, yaitu tgl 13/8 dan 15–17 Agustus. Selama acara hari pertama jujur yang aku pikirin itu malah hal negatif yang aku dapetin ketika jadi panitia acara, yaitu:

  1. Jadi sombong

Inilah yang aku rasakan ketika menjadi panitia. Jalan ke sana kemari di sekitaran kampus pakai jas almamater dan nametag panitia dengan bangga haha. Berasa keren dengan kesibukan yang aku lakukan, padahal aku tau gitu aku gak berbuat banyak lah di acara ini, aku cuma ngedampingin maba, terus juga bantuin mobilisasi maba. Ya menurut ku itu bukan hal yang hebat banget jika dibandingkan sama pekerjaan staff divisi. Terus juga, sombong pas lagi rapat. Jadi kadang ada panitia lain yang suka nanya hal yang sebenarnya sudah dijelasin, dan otomatis aku jadi ngerasa sombong gitu aku merasa lebih baik daripada orang ini. Sama juga ketika ada panitia lain yang nanya sesuatu yang menurut aku tidak perlu ditanyakan, lagi-lagi hati merasa tinggi.

Terus yang kedua ini sebenarnya aku rasain setelah acara selesai haha

2. Bikin ku tak mau jadi bendahara lagi

Sebenarnya jadi bendahara itu banyak manfaat nyaa apalagi buat calon buibuuk yaa karena jadi belajar tata keuangan. TAPI kalau jadi bendahara acara itu tidak enak ya karena aku rasa itu posisi buat orang yang enggak asosial seperti saya haha karena bendahara harus mintain bon ke orang-orang dan tbh i dont like it. Karena ya aku pikir kalau panitia acara harusnya sudah tau dong kalau bukti pembayaran harus dikasih ke bendahara, kalau belum tau pun kan sudah dikasih tau alur nya sama ketua. Aku juga malas gitu harus hubungin orang-orang nya ya wkwk ya mungkin memang tidak cocok jadi bendahara. Padahal aku sedang menjabat jadi bendahara II di hima hehe.

3. MENAMBAH TABUNGAN DOSA

Ini sih salah sendiri ya ahaha.. Dosa itu sumber nya banyak ya nah yang pengen aku bahas di sini selain dari merasa sombong itu juga mengenai batas antara laki-laki dan perempuan (bukan mahram). Di kepanitiaan ini jelas ada laki-laki, dan aku pasti harus berkomunikasi dengan mereka. Aku juga ilmu tentang agama itu masih pas-pasan yah haha jadi enggak sadar juga kadang suka melanggar aturan batas ini contohnya kayak: enggak menegaskan suara, ngobrol dengan jarak yang dekat, tidak GHADUL BASHAR. Nah ghadul bashar ini walaupun kadang dianggap sepele dan diabaikan tapi penting banget, ghadul bashar ini artinya menjaga pandangan. Jadi ya berkomunikasi boleh tapi usahakan menghindari bertatapan mata. Kan tetap bisa tersampaikan toh pesannya walau enggak bertatapan? Suaranya jangan kecil-kecil aja. Karena ya dari pandangan itu bisa mengakibatkan virus.. yap seperti yang kamu pikirkan! It’s the pink virus alias jatuh hati. Aku enggak begitu mengerti kalau materi lengkapnya mengenai ini.. monggo tanyakan kepada pihak-pihak yang berwenang seperti ustadz/ustadzah, namun dari pengalaman aku ini memang ngaruh. Apalagi kalau frekuensi tatapannya itu sering dan sekali nya tatapan itu lama HAHA yak hal ini berpeluang besar untuk menumbuhkan perasaan ya kawan-kawan. Intinya kita harus rajin mengecek niat baik kita dalam mengikuti organisasi maupun kepanitiaan, selipkan niatan dakwah juga kalau perlu, dan kalau tidak hati-hati ya bukannya mendapat berkah dari Allah tapi malah dapat dosa deh hadeuh sertifikat juga apalah gunanya. Menjaga batasan ini memang enggak mudah, aku akuin karena aku juga enggak terbiasa mikirin se-detail itu, tapi bakal menyesal banget pas sadar sudah melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin bisa dikatakan mendekati zina itu. Bayangin, betapa malu nya dan rasanya seperti mengkhianati Allah yang sudah memberi segala kenikmatan

:(

Itulah yang aku rasakan semoga bisa jadi bahan reminder juga buat temen-temen dan kalau masih ada waktu luang mungkin bisa lanjut baca part II nya HEHEHE trims.

Rima

Written by

Rima

Looking at the wind blowing through the branches. kritik&saran: https://forms.gle/ZEwe4SdoDergvsoj6