Ketika Karyanya Diharamkan

Penulis dari Malaysia bernama pena Faisal Tehrani sampai detik ini belum mendengar kabar dari Pengadilan Banding di Putrajaya. Pria kelahiran 7 Agustus 1974 ini melayangkan banding pada 31 Maret 2017 supaya larangan terbit empat dari enam buku terlarangnya bisa dicabut. Pada 8 Agustus 2016, gugatannya untuk mencabut larangan terbit keempat buku tersebut ditolak oleh hakim di Mahkamah Tinggi. Faisal akan membicarakan soal pelarangan karyanya pada 3 Agustus 2017 dalam pegelaran sastra ASEAN Literary Festival di Kota Tua, Jakarta. Tema yang diusungnya adalah ‘this is the way I resist’ — ini cara saya mengelak. Dan inilah cara dia mengelak.

Ia mengajukan banding supaya karakter-karakternya bisa hidup kembali. Di antara mereka yang mati adalah ulama konservatif yang hendak menikah dengan perempuan yang ingin berhubungan seks tiga kali seminggu dalam kumpulan cerpen Tiga Kali Seminggu dan sekelompok pelajar yang membuat sebuah film soal kedatangan Islam ke Tanah Melayu dalam novel Sebongkah Batu di Kuala Berang. “Sudah tentu saya kecewa dengan pengharaman buku-buku ini. Itu saya adukan kepada yang di langit,” kata Faisal kepada Tempo lewat surat elektronik.

Alasan pelarangan buku-buku Faisal adalah karena mereka dinilai menggegerkan masyarakat oleh organisasi seperti Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). “Di Malaysia hal ehwal Islam bukan milik penganutnya, tetapi milik pemerintah dan agamawan,” katanya. Pemerintah yang Faisal maksud adalah Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia. KDN melarang buku-buku Faisal sesuai dengan Akta Mesin Cetak dan Penerbitan 1984. Pelarangan ini berdatangan dalam kurun waktu yang singkat: satu buku di tahun 2014, empat buku di tahun 2015 dan satu buku di tahun 2016. Namun alasannya serupa: Mereka dinilai mengganggu kententeraman sosial negara Malaysia, seperti yang tertulis di seksyen 7 (1) dalam Akta 1984.

Akta 1984 merupakan salah satu alasan mengapa kebebasan berekspresi di Malaysia terkesan penuh syarat. Faisal sudah lebih dari sekali mendengar kalimat tersebut. Ia mendengarnya pada 9 April 2014 saat KDN, atas rekomendasi dari JAKIM, mengharamkan novelnya Perempuan Nan Bercinta karena tema yang diangkatnya (feminisme, liberalisme, Zionisme) tidak selaras dengan pegangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah atau yang lebih dikenal dengan paham Sunni. Misalnya, Perempuan Nan Bercinta dituduh menyebarkan paham Syiah. “Pemerintah sedang giat memomok Syiah, masyarakat juga sedang pesat menghakimi dan saya ditinggal sendirian,” kata Faisal.

Peneliti yang sekarang bekerja di ATMA (Institute of the Malay World and Civilization) di Universiti Kebangsaan Malaysia, mendengarnya lagi ketika KDN secara resmi melarang terbit empat bukunya pada 1 April 2015: Sebongkah Batu di Kuala Berang, drama pentas tentang pertempuran di Karbala berjudul Karbala, Tiga Kali Seminggu dan kumpulan puisi Ingin Jadi Nasrallah.

Dalam wawancara dengan The Malaysian Insider satu bulan seusai keempat bukunya dilarang, Faisal mengaku bahwa dakwaan KDN bahwa buku-bukunya menyebarkan paham Syiah tidak masuk akal. Pertama, Karbala terbit di 2008, Tiga Kali Seminggu 2010, Ingin Jadi Nasrallah 2010, Sebongkah Batu di Kuala Berang 2011, Perempuan Nan Bercinta 2012 — semua terbit sebelum tersebut resmi diharamkan. Kedua, dari segi konten, Faisal mengaku bahwa ia menuliskan paham dan komunitas Syiah sebagai konteks sejarah tokoh-tokohnya atau puisi-puisinya.

Ditambah Perempuan Nan Bercinta dan buku non-fiksinya, Sinema Spiritual: Dramaturgi dan Kritikan — buku dimana ia menyarankan bahwa uang zakat digunakan untuk membiayai pembuatan film dengan nilai murni diharamkan KDN pada 6 Mei 2016 walau terbit di tahun 2012 — tercatat sudah enam kali karya Faisal dilarang terbit.

Faisal juga bukan penulis pertama yang bukunya dilarang. Buku yang disunting oleh Professor Norani Othman, Muslim Women and the Challenges of Islamic Extremism, sempat dilarang terbit pada tahun 2008. Dua tahun kemudian, pelarangan dicabut oleh pengadilan tinggi dan banding yang diajukan KDN untuk kembali melarangnya ditolak pada tahun 2013. Begitupun buku-buku dari penulis dari Kanada, Irshad Manji, begitupun komik-komik dari Zulkifli Anwar Ulhaque atau Zunar.

Pengacara yang terlibat dalam kasus pelarangan buku Irshad Manji, Nizam Bashir, memberitahu Tempo bahwa ada sejumlah cara untuk mencabut larangan penerbitan buku. “Konstitusi Federasi Malaysia bagian kedua soal kebebasan-kebebasan fundamental” salah satunya, menurut Nizam. Nizam juga menyebutkan bahwa sebuah karya publikasi harus dianggap “berprasangka” terhadap ketentraman publik, sesuai Akta 1984, sebelum bisa dilarang. KDN lantas harus membuktikan adanya prasangka. Itulah mengapa Nizam menganggap bahwa pelarangan buku di Malaysia “tidak sulit untuk dicabut.”

Tetap saja, “pengharaman buku di Malaysia juga bermaksud penutupan apa juga peluang. Ia seolah-olah kamu mengetuk satu demi satu pintu tetapi dihempas di muka,” kata Faisal. “Kebanyakan penerbit buku menjauhi saya kecuali beberapa buah penerbit buku kecil.” Faisal juga mengaku bahwa antara 8 sampai 18 Januari 2015, ia mendapatkan ancaman bunuh diri di akun media sosialnya. “Apa yang dapat saya lakukan? Siapakah yang akan peduli? Itu kan kehidupan kerana sejak wujud dunia sudah ada manusia seperti Qabil yang mengancam,” katanya.

Akan tetapi, kata-katanya tetap tersampaikan. Suatu ketika pernah ada pembaca yang mendatanginya. Setelah membaca salah satu karyanya, Bagaimana Anyss Naik ke Langit, ia merasa lebih tercerahkan soal nasib orang Penan di Sarawak, pemerkosaan sistematik terhadap para perempuan Penan ataupun pembalakan di Kalimantan. “Kata-kata pembaca itu sudah cukup berharga kerana di dalam kubur tatkala saya ditanya kelak jika saya sudah melakukan untuk orang lain, paling-paling saya sudah punya jawapan. Diterima atau tidak itu bukan soal saya,” tutupnya.

Versi dari artikel ini terbit di Majalah Tempo, edisi 24-30 Juli 2017 dengan judul “Belenggu Akta Media.”