Proses Tidak Semanis Kotoran Luwak

Jaringan 4G saat ini mulai menjadi trend di masyarakat, hal ini tidak lepas dari promo menarik baik itu di Televisi maupun baliho di jalanan, siapa juga yang nggak mau internet yang dibandrol harga murah dan tampilan gadget lebih stylist dan enak di pegang mata ataupun di pandang tangan. Tapi kali ini bukan itu pokok pembicaraannya, itu tadi cuma iklan jaringan 4G Indosat oredoo, oke padahal aku nggak di bayar untuk iklan itu, anggap aja bonus ya, sat-indosat.

Menari adalah bakat untuk beberapa orang, karena tidak semua orang pandai menari, pun begitu dengan menanyi. Tidak jarang banyak penyanyi bermunculan dari lorong bis-bis yang semula berstatus sebagai pengamen sekarang menjadi pengonser jutaan penonton dan masih banyak bakat yang tidak perlu aku jabarkan di sini karena ini bukan IMB, iya, Indonesia Menjelaskan Bakat. Bukan itu poinnya, beginilah faktanya.

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang remaja, dirinya sudah duduk di bangku mahasiswa namun dirinya memiliki otak dengan tingkat frekuensi yang sama halnya dengan kura-kura, alias, dirinya berfikir lamban. Untuk menanggapi masalah ini, dirinya menambah masalah dengan berasumsi bahwa dirinya tiba-tiba ingin menjadi manusia cerdas yang memiliki otak kancil; licik tapi cerdas, sangat ambigu bukan?

Setiap hari dirinya terus berharap memiliki kecerdasan diatas rata-rata, karena dari cerdas dia berfikir bahwa itu keren-keren-keren-keren aja, udah. Tapi, bukan itu poinnya, dia ingin tampak cerdas lebih tepatnya, karena dirinya menyukai seseorang, nah, semakin rumit bukan? Disaat dirinya ingin nampak cerdas yang terlihat malahan dirinya nampak bodoh. Setelah segalanya mulai diketahui, ternyata menjadi orang cerdas sungguh mudah, berani bukti? Anda cukup membuat plakat juara lomba apapun itu usahakan ada unsure berbahasa inggrisnya agar nampak keren dan berbobot serta cantumkan nominal hadiah yang mengejutkan, jutaan sudah terlalu mainstream, coba 1 M, pasti akan mengalahkan tantowiyahya dalam kuis Who Wants To Be Millionere. Saat sudah memiliki plakat silahkan berfoto dengan jas, lalu upload foto itu ke media sosial anda, tunjukkan bahwa menjadi cerdas itu mudah bukan.

Remaja itu mulai sadar bahwa itu cara bodoh, namun banyak dari kita mengikuti cara bodoh itu, menunjukkan harta kekayaan kita, tidak peduli itu milik orang tua kita toh memang kita anaknya jadi sah-sah saja kita mempublikasikannya, milik bersama bukan? Toh walaupun itu milik nenek kita, masih ada jalur darah cucu bukan? Toh walaupun itu milik buyutnya nenek buyut kita, masih ada kuburannya kan? Semua itu kita publikasikan sekkenanya, rasanya begitu asyik saat membuat orang ternganga-nganga atas apa yang kita punya, kita miliki, kita dapat ataupun yang sudah kita kembangkan dengan usaha kita, salah? Enggak bro, santai. Yang salah itu, ketika kamu nggak punya apa-apa, tapi seperti punya apa.

Apasih maksudnya? Gak jelas! Emang! Emang nggak jelas, silahkan tafsirkan sendiri. Banyak orang tertatih-tatih berlatih main piano sejak umur 4 tahun jadi wajar apabila dirinya menunjukkan kebolehannya bermain piano layaknya makan kacang, sama halnya dengan kecerdasan, bakat, ataupun kekayaan. Orang cenderung meniru apa ‘hasilnya’ bukan ‘prosesnya’ bukan? Bro, kaya itu penting, tapi terlihat kaya itu tidak penting! Sebenernya itu aja sih yang pengen aku omongin, emang sengaja mau buat prolog yang panjang kayak gini buat seru-seruan aja, tapi, jangan lupa! Proses memang nggak manis, bahkan pahitnya bisa mengalahkan fermentasi kotoran luwak sebelum di olah menjadi biji kopi pilihan Luak White Coffe oke kenapa ini iklan lagi.

Jadi? Sudah berani menikmati proses?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Stefani’s story.