Di Balik Album Foto dalam Gawaimu

Membuka kembali album foto dalam gawai, saya baru menyadari satu hal dan membatin, “Banyak foto di KRL ya.” Tak perlu berpikir panjang untuk mencari alasannya: ya karena rangkaian aktifitas yang saya lakukan banyak waktu luang di kereta tenaga listrik ini. Rata-rata sekitar 30 menit saya berada di lingkungan kereta setiap kali saya berangkat maupun pulang kantor: Stasiun Rawabuntu hingga Stasiun Palmerah.
Saya selalu naik di kereta kedua dari depan, saat pulang maupun pergi. Naik di kereta kedua dari depan membuat saya saat berangkat dan turun di Stasiun Palmerah: turun di titik stasiun yang paling jauh dari pintu keluar. Mungkin memang jalannya jauh, tapi waktu yang dibutuhkan untuk jalan jauh itu cukup untuk menunggu antrean tap terurai dan dampaknya? Tidak perlu menunggu untuk antrean panjang.
Hal lain dengan yang saya dapatkan saat perjalanan pulang dengan selalu naik kereta kedua, saya dapat di Stasiun Kebayoran. Ketika pintu terbuka dan saya persis berdiri di depan pintu, saya akan manatap dinding eskalator stasiun yang berwarna krom dan memantulkan cahaya menyerupai cermin. Di sinilah tempat favorit untuk memotret diri sendiri semacam swafoto. Semakin ramai kereta, semakin epic foto yang dihasilkan.


—
Pikiran ini membawa saya pada ingatan semasa kuliah. Saya sempat ngobrol dengan salah satu dosen. Kuliah di jurusan sosial semacam sosiologi memerlukan media untuk bisa menerjemahkan ilmu. Tentu, karena tidak semua istilah-istilah sosiologi akan dipahami oleh orang awam dan tidak akan ada esensi komunikasi ketika itu terjadi. Medialah yang akan menerjemahkannya. Salah satunya media foto. Dari obrolan tersebut kami sepakat, bahwa fotografi akan meningkatkan kepekaan kita pada lingkungan sosial di sekitar kita.
Menekuni media visual terutama fotografi sejak SMA secara tidak sadar membuat mata saya peka terhadap obyek-obyek visual di sekitar. Banyak kali saya melihat dan kemudian sempat memotret, namun banyak kali juga momen itu hanya bisa saya ingat dalam pikiran.
—
Tantangan berikutnya ketika mendapat foto yang saya nilai bagus adalah, membuat caption atau judul. “Foto dan judul itu seperti dua sisi koin. Keduanya adalah satu kesatuan,” ungkap Johny Hendarta — salah satu pengajar Nikon School Indonesia — saat mengisi kelas kursus yang saya ikuti dengan fasilitas beasiswa.
Saya terkadang memanfaatkan aplikasi KBBI untuk mencari inspirasi caption. Di dalamnya ada kelas kata, ragam, bahasa, dan bidang. Di sinilah saya menyadari, banyak kata dalam Bahasa Indonesia yang bahkan tidak pernah kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.
Foto dengan judul yang tepat saya yakini akan membuatnya banyak bercerita. Salah satu contoh adalah, saya memotret dari dalam kereta saat berhenti di Stasiun Sudimara terdapat seorang laki-laki duduk di pinggiran peron. Laki-laki itu duduk bersila dan menghadap laptop nyala di pangkuannya. Entah, mungkin menyelesaikan deadline kantor yang menumpuk hingga harus duduk di hadapan lalu-lalang orang dan cuek aja yang penting kerjaan selesai. Foto ini kemudian saya beri judul “Coworking Space”. Tren tempat bekerja yang placeless saat ini menjadikan stasiunpun menjadi ruang bekerja.

Contoh lain adalah foto di Stasiun Rawabuntu, saat orang-orang menyeberang rel dan berdiri persis di pinggir kereta sedang jalan. Bagi saya ini cukup mengerikan. Bagiamana bisa orang-orang ini seberani itu? Bagaimana bila ada yang mendorong? Tidak bisakah lebih menjaga diri? Perasaan itu muncul saat melihat fenomena dan foto yang saya abadikan ini. Lalu, judul “Berani mati, takut lapar” untuk foto ini saya rasa paling tepat untuk mengungkapkannya. Orang-orang ini pergi bekerja untuk bisa makan, namun dalam prosesnya bekerja, seolah mereka tak takut mati.

—
“Fotografi akan akan menghadirkan kepekaan sosial,” kalimat ini masih saya simpan sampai sekarang meskipun saya bukan fotografer profesional. Namun, kini saya mengerti apa yang dimaksud orang dengan “foto itu diam, namun berbicara banyak”. Jadi, coba cek album di gawaimu. Lebih banyak foto apa? Coba pikirkan, apakah foto-foto itu merepresentasikan dirimu? Dirimu yang di mana? Selamat merenung!







