Kebohongan?

Fikri Indra Mualim
Jul 20, 2017 · 1 min read

Aku sendiri ditemani segelas tiramisu, menatap kaca menunggumu.

Terduduk di bangku coklat dengan meja bulat berada di hadapan.

Terdapat topi hitam yang aku gunakan untuk menghalangi bayanganmu pergi dari kepalaku.

Juga selembar tisu yang sudah sembab dengan tetesan air.

Bukan. Bukan dari mataku.

Tapi dari tiramisu yang perlahan surut dikarenakan lamanya waktu.

Tak terkira semudah ini diriku kau rengkuh. Tanpa tanganmu menyentuh, kau telah membuatku rapuh.

Buat aku rela menunggu hingga separuh masa hidupku.

Mungkinkah ini yang dinamakan bertepuk sebelah tangan?

Tidak. Ini tidak benar. Bahkan satu jari pun tidak kau berikan.

Atau ini hanya sekedar harapan yang dipalsukan? Entahlah. Tapi aku harap ini hanya permulaan. Karena aku bersumpah akan membalasnya. Bahwa kelak kau akan kusekap dan kutawan diatas pelaminan.

Matraman, 6 Juli 2017

)
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade