Sangat bersyukur saya dimana pada hari ini dipertemukan dengan orang-orang hebat dalam sebuah seminar kepemimpinan. Kurang lebih 7 jam saya duduk bersama rekan-rekan yang lain mendengarkan pemaparan materi serta berdiskusi dengan orang-orang pilihan di bidangnya. Ada kurang lebih 3 topik yang dibahas, tapi disini akan saya coba rangkum dengan kondisi kekinian yang ada.


Tapi pikiran saya terebut hilang ketika melihat informasi yang ada. Cukup terkejut saya ketika mendapat kabar pada Sabtu (21/10) dinihari dimana sebuah gambar yang cukup membuktikan bahwa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi. Sebuah foto yang menampilkan Mas Arga, Presiden BEM ITS, kampus saya menimba ilmu, dengan cukup banyak darah pada kepala bagian belakangnya.

Memang beberapa rekan tidak hanya dari ITS tapi juga mahasiswa lain yang tergabung dalam Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) sedang berkumpul melakukan aksi memperingati 3 tahun pemerintahan Jokowi — JK. Tentu saja terdapat poin-poin tuntutan yang sudah dipersiapkan untuk diberikan kepada Bapak Jokowi — JK. Saya tidak ingin membahas kronologi lengkapnya karena saya sendiri cukup tahu batasan apa yang bisa saya sampaikan sebagai seorang yang tidak dapat langsung hadir pada aksi itu.

Dari keseluruhan baik kiriman teman-teman di media sosial, klarifikasi yang disampaikan di media, segala pemberitaan, dan bahkan komentar-komentar yang ada dapat saya simpulkan dalam tubuh mahasiswa sendiri tidak terdapat satu suara yang bulat. Kalau begitu apakah aksi BEM SI dapat dikatakan mewakili suara mahasiswa yang ‘katanya’ juga mewakili suara rakyat? Secara mayoritas mungkin iya, tapi tidak secara keseluruhan. Anggap saja iya.

Selanjutnya setelah aksi yang berujung chaos, timbul banyak referensi-referensi baik berupa kronologis maupun klarifikasi dari berbagai pihak yang terkait. Nah disini yang menarik.

Beberapa yang sampai sekarang baru saya ketahui:

  1. Perbedaan jumlah mahasiswa yang ditangkap

Dari info yang dirilis BEM SI sejauh ini ada 13 orang, dan dari berita yang dipublikasikan oleh media massa jumlah justru beragam. Ada 9 mahasiswa, ada 3 polisi terluka dan 1 mahasiswa, ada 1 penjual pentol dan 1 ojek payung. (Oke, yang terakhir bercanda)

2. Perbedaan peryataan sikap maupun kronologi

Pernyataan dari rekan-rekan yang ikut aksi mengatakan pihak kepolisian yang mulai ‘menghadiahi’ gas air mata dan membuka lalu lintas. Sedangkan melalui media massa polisi mengatakan melakukan cara persuasif dan membantah melakukan kekerasan. Sehingga muncul banya definisi ‘persuasif’ bagi pihak kepolisisan itu seperti apa.

3. Kiriman teman-teman yang hilang entah kemana

Berkaitan dengan ini ada beberapa rekan yang mengaku kirimannya di media sosial hilang baik karena di-report, dihapus karena disuruh oleh antek pemerintah, dan ada yang berpendapat itu karena aturan disturbing picture yang memang dilarang oleh media sosial tersebut.

4. Peserta aksi yang melanggar batas waktu

Ada yang berpendapat bahwa tindakan ini sah-sah saja, karena setidaknya ada perwakilan Presiden yang bertemu mahasiswa sehingga aksi sebenernya bisa selesai sebelum batas waktu. Tapi ada yang tetap mengatakan ini salah.


Jadi secara garis besar ini dapat dikatakan sebagai sebuah kontorversi, teman-teman. Menurut apa yang tadi disampaikan oleh Pak Aribowo, salah seorang dosen Ilmu Politik, beliau mengatakan terdapat pergeseran arti politik sesuai dengan makin berkembangnya zaman. Hingga sekarang politik sering diartikan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankannya.

Beliau juga mengatakan terdapat dua panggung besar dalam politik: panggung depan dan panggung belakang.

Panggung depan ini seringnya merupakan apa yang disampaikan oleh media-media mainstream misalnya Kempis, Retro, tvThree, dan sebagainya. Sehingga apa yang diberitakan disitulah yang tersampaikan ke masyarakat.

Sedangkan panggung belakang kalau didefinisikan dari kondisi sekarang merupakan kiriman-kiriman yang ada di media sosial. Tulisan teman-teman semua misalnya yang mengikuti aksi kemarin. Boleh teman-teman merasa kesal, marah, atau apapun itu, tapi jangan menjadikan teman-teman bodoh dengan realita yang ada. Begitulah bagaimana dunia ini bekerja sekarang.

Kalau boleh sedikit menyinggung tentang teori komunikasi, McQuail pernah memaparkan dalam bukunya 6 perubahan peran media. Beberapa poinnya diantaranya:

  1. As a mirror of events in society and the world, implying a faithful reflection (albeit with inversion and possible distortion of the image), although the angle and direction of the mirror are decided by others, and we are less free to see what we want.

Dari poin pertama ini dapat dilihat dari kata-kata yang saya bold. Bahwa media saat ini sangat mungkin melakukan pemutarbalikkan fakta. Bayangkan jika ‘others’ yang dimaksud adalah rezim yang berkuasa, kita mau apa? Semuanya sudah diatur.

2. As a filter, gatekeeper or portal, acting to select parts of experience for special attention and closing off other views and voices, whether deliberately or not.

Kata kuncinya ada di empat kata terakhir. Kembali lagi, semua di dunia ini sekarang punya kepentingan dengan pihak lain, begitu juga media. Mereka akan mempertimbangkan ‘keselamatan’ mereka dalam setiap publikasi yang mereka lakukan. Kembali lagi, kalau yang memegang kuasa adalah para pengusa bagaimana?

3. As a disseminator who passes on and makes information not available to all.

Yah, kalau yang terakhir ini simple. Kalau nggak mau diberitain ya nggak bakal muncul walaupun ditungguin.

Simpelnya kalau memang jumlah korban banyak pasti polisi digugat, dong? Jelaslah polisinya memilih ‘meminimalisir’ korban. HEHE.


Sekarang kalau misalnya tentang pihak kepolisian yang mengatakan ‘tidak melakukan kekerasan’ apakah disebut kebohongan? Kembali lagi ke pernyataan saya yang sebelumnya. Ketika BEM SI melakukan aksi apakah benar mewakili keseluruhan mahasiswa? Sama dengan kepolisian. Seandainya benar ada yang melakukan tindak kekerasan tapi apakah banyak? Apakah melebih 50% + 1? Negara kita adalah negara demokratis yang bahkan saat pemilihan Presiden pun hanya berbeda 1 suara, maka yang lebih 1 suara itulah yang menang. Lain halnya kalau pernyataan yang dikeluarkan ‘tidak ada polisi yang melakukan tindak kekerasan’, bisa kita gugat. Itupun kalau yang melakukan tindak kekerasan tidak langsung dipecat jadi polisi :)

Kemudian kiriman yang terhapus entah karena apapun itu. Apakah teman-teman sudah membaca ketentuan yang berlaku? Karena saya sependapat dengan yang mengatakan bahwa memang ada aturan disturbing picture yang berlaku maupun aturan tentang SARA dan yang lainnya. Karena di beberapa forum yang saya tahu juga memiliki aturan demikian. Bahkan untuk forum santai seperti KusKas.

Nah, kalau peserta aksi yang melanggar waktu bagaimana? Secara etis saya setuju dengan sikap yang diambil untuk tetap bertahan. Bagaimana tidak, misalnya teman-teman saya yang sudah jauh dari Surabaya tapi nggak disambut. Pasti mereka tidak ingin perjuangan mereka sia-sia. Tapi kalau secara aturan? Menurut saya memang salah. Karena aturan adalah aturan, aturan bukan penawaran. Tapi menurut saya juga tidak etis ketika mahasiswa yang mewakili rakyat justru menghalangi rakyat untuk melewati jalan yang dibangun dari pajak rakyat itu sendiri. Toh, saya ketika jalan ditutup karena ada acara warga yang sudah seperti penguasa daerah saja saya tetap kesal meskipun saya tahu mereka memang lebih dahulu disini. Sama seperti itulah kondisinya. Dibalik sikap polisi yang membiarkan arus lalu lintas terbuka dan kontroversi kejadian yang sebenarnya, seharusnya kita bisa belajar dari situ.

Saya bukan mau membela suatu pihak, tapi bukankah kita sebagai mahasiswa haruslah cerdas?

Saya pernah berdiskusi dengan teman saya yang bergabung dengan kegiatan penalaran. Jadi di kegiatan itu tugas mereka sederhana, misalnya membaca sebuah buku kemudia buku itu dipandang dari berbagai sudut pandang. Sekarang coba teman-teman ajak 4 orang teman saja dan kemudian berdiskusi tentang misalnya mahasiswa yang melewati batas waktu dan menghalangi jalan publik. Satu orang berperan jadi koordinator aksi, satu orang berperan jadi polisi, satu orang berperan jadi warga Jakarta, satu orang berperan jadi penjual mijon, satu orang berperan jadi driver Pizza

Koordinator aksi: “Kami akan disini sampai Jokowi menemui kami”

Polis: “Ayo, Dek, pulang. Istri saya cemas di rumah.”

Warga Jakarta: “A***ng, apan sih nih macet-macet. Nggak tahu orang pulang kerja apa, Gue bayar pajak woy”

Driver Pizza: “Waduh, Bro. Kalau 30 menit nggak sampai gue bisa dipecat, nih”

Koordinator aksi: “Pak, satu, dong”

Penjual Mijon: “Alhamdulillah laris manis”.

Itu tadi baru 5. Belum lagi kalau warga yang juga emosian, tukang mijon yang kesal dagangannya diambil tanpa bayar, mungkin berita yang muncul akan semakin beragam. Hehe.


Akhir kata saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kalau saya hanya dapat menuliskan opini ini. Tapi saya juga ingin rekan-rekan saya khususnya sesama mahasiswa tetap menjadi pribadi-pribadi yang tidak hanya kritis dalam berpikir, berani dalam bertindak, tapi juga menjadi pribadi yang cerdas. Karena kepentingan kita sekarang haruslah berorientasi sebesar-besarnya kepada kepentingan bangsa.

Mohon maaf apabila terdapat kesalahan baik disengaja ataupun tidak dalam tulisan ini

Panjang umur perjuangan!


Dari 20 anak tangga diatas lantai dasar,
Dengan hormat,
Saya.