4 Agustus 2016

Pagi ini:

• Memulai pagi dengan kirim-kiriman stiker sungguh menyenangkan. Terimakasih Telegram untuk update terbarunya. (Iya, iya, di Line lebih banyak sticker. Tapi tetap nggak suka Line.)

• Rasanya, dengan adanya Stories, Instagram sedang berusaha mengingatkan orang bahwa there’s power in numbers dan, um, menantang ketenangan mereka yang menikmati Snapchat tanpa peduli angka viewers, followers, etc. Ngerti sih kalau nanti (sekarang juga sudah sebenarnya) banyak “social media personalities” — mereka yang menggantungkan hidupnya pada likes dan followers — akan lebih suka IG Stories. Tapi, sebagai seseorang yang, well, cukup senang kalau angka views/likes/followers naik tapi di saat yang sama juga lebih nyaman berada sedikiiit saja di luar jangkauan dan masih cenderung memilih untuk selektif dalam berbagi, Snapchat masih menjadi safe space yang ideal. Facebook dan Instagram terasa… sedikit terlalu exposed. Duh, gimana caranya ngurangin kata-kata Bahasa Inggris ini, sih? Sumpah susah.

• Ketika update seseorang di media sosial bikin mual, mau marah, dan memancing berbagai pikiran negatif lainnya, maybe it’s about time this person be cut out from your life altogether because you don’t need that kind of tweet-induced negativity in your life. Tapi ya, pura-pura nggak peduli itu melelahkan. Dilema pertemanan di era social media, era komunikasi tanpa komunikasi.

• I seriously write better in English, dangit.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Christabelle Adeline’s story.